Sejarah yang Menjadi ’Biasa’ 3
Jumat, 25 Jun '10 10:28
Judul buku: Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa
Penulis : Abdul Gofur dkk.
Editor : Budisantoso Budiman dan Udo Z. Karzi
Penerbit : Teknokra & Pustaka LaBRAK, Bandar Lampung
Cetakan : I, 2010
Tebal : xvii + 325 halaman
SEBUAH kisah, sejarah, kenangan yang luarbiasa namun ditulis dengan teramat biasa. Demikian yang terpikir dan terucapkan dalam hati saya setelah habis membaca 325 halaman dari buku Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa (Teknokra dan Pustaka Labrak, 2010).
Bukan, bukan sejarah Teknokra -- pada 2010 ini berusia 33 tahun, yang menjadi nilai minus setelah membaca buku tersebut. Namun, cara penyajian dari sejarah itulah yang membuat saya merasa tidak terpuaskan.
Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa ini terbagi menjadi dua bagian. Bagian pertama, Lintasan Sejarah Teknokra, menceritakan tentang sejarah Teknokra. Dituturkan secara runut mulai dari titik awal berdirinya hingga beberapa peristiwa yang mengiringi perjalanannya, termasuk di dalamnya (meski sedikit) peristiwa yang menjadi aib rezim represif kala itu, tewasnya pewarta foto Teknokra, Saidatul Fitria --yang kini namanya diabadikan untuk penghargaan karya jurnalistik oleh Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Bandar Lampung.
Lembaran sejarah Teknokra dibuka oleh tiga orang mahasiswa Universitas Lampung, Muhajir Utomo, M Thoha BS, dan Asep Unik pada medio 1975, yang pada saat itu menjabat sebagai pengurus Dema (Dewan Mahasiswa) Unila, dengan tujuan awal agar Dema Unila memiliki pers (surat kabar) mahasiswa untuk menciptakan iklim dua arah antara mahasiswa, dosen dan masyarakat umum, ditambah tujuan-tujuan parktis yang bermanfaat bagi mahasiswa yang berkecimpung di dalamnya (hlm. 11).
'Jejak' Teknokra sebagai pers mahasiswa pun mulai menapaki dunia jurnalistik kampus. Banyak masalah, perlakuan, rintangan dalam perjalanannya. Mulai dari di demo, diminta dibubarkan, hingga kekerasan fisik oleh pihak yang merasa tersudutkan oleh pemberitaan Teknokra. Namun, salah satu persma tertua di Indonesia tersebut mampu melewati semua rintangan yang (akan) selalu terbentang. " Sejak kebangkitan pada fase ketiga, Teknokra mampu bertahan hingga sekarang (hlm. 83)".
Secara keseluruhan, bagian pertama buku tersebut penuh dengan data-data yang lengkap, A--Z, mengenai Teknokra. Mengisahkan tentang realitas sejarah jejak perjalanan Teknokra dengan segala lika-likunya dalam mempertahankan semangat dan eksistensi dalam dunia jurnalistik berdasarkan penuturan dan penulisan aktualisasi para pelaku sejarahnya di tiap periodenya masing-masing, yang dalam buku itu dibagi menjadi empat periode dalam subbab-subbab bagian pertama; Terjal Merintis Jalan (1975--1985), Pencarian Jati Diri (1986--1992), Metamorfosis Pers Alternatif (1993--1998), Pergulatan Pascareformasi (1999--2009).
Sedangkan bagian kedua, Teknokra dalam Catatan Alumni, berupa testimoni para alumnus Teknokra yang menceritakan kenangan-kenangan, pahit dan manisnya, ketika sedang mesra-mesranya dengan aktivitas sebagai pewarta pers kampus.
Secara pribadi, saya lebih menyukai bagian kedua ini. Dari bagian kedua tersebut, saya bisa melihat Teknokra melalui 'mata' para penggiatnya. Banyak angel (sudut pandang) mengenai Teknokra yang saya dapatkan. Mulai dari kelucuan polah para aktivis persma, kisah cinta, 'kegilaan', hingga yang menegangkan. Dari sudut pandang yang banyak tersebut, Teknokra terlihat lebih hidup dari pada bagian pertama. Ini yang menjadi salah satu catatan saya kemudian.
Mungkin, jika menilik pada frasa "sejarah" yang menjadi judul buku tersebut, buku itu bisa dibilang tepat sebagai 'dokumentasi' (jika itu yang dimaksud). Namun, bukan hal itu yang menjadi catatan saya.
Pada bagaian pertama, saya seperti hanya melihat "company profile" sebuah perusahaan/organisasi, terlebih pada bagian pertama. Monoton, kaku, dan tidak menarik sama sekali. Kisah sepanjang 97 halaman seperti menguap begitu saja, tak ada yang menempel di ingatan.
Sejarah panjang Teknokra --yang dalam buku tersebut disebut sebagai pelopor pers alternatif-- menurut saya terlalu dangkal untuk diceritakan dengan cara seperti itu. Kedalaman setiap laporan khusus yang menjadi kekuatan Teknokra seolah-olah tenggelam, tidak 'keluar' dari buku tersebut.
Ditambah lagi dengan beberapa hal yang cukup mengganggu kenyamanan membaca. Seperti, "kesambungan" (dalam film istilahnya "kontiniti") pada beberapa bagian di Lintasan Sejarah Teknokra, kerap meloncat-loncat dan kadang tidak fokus. Kemudian beberapa kesalahan pengetikan atau ejaan.
Saya cukup akrab dengan Teknokra. Sebagai alumnus Universitas Lampung, sejak awal masuk hingga keluar. Saya selalu terpesona dengan laporan-laporan panjang yang disajikan oleh Teknokra, terutama --yang paling melekat di ingatan saya-- laporan investigasi mengenai kehidupan seks bebas di perkampungan mahasiswa.
Gaya penulisan yang memikat menjadi ciri khas Teknokra kala itu. Sejak itu, saya selalu menantikan kehadiran Teknokra yang dibagikan secara gratis.
Kala itu saya berpikir, tulisan-tulisan di Teknokra selalu bagus dan dalam. Namun, seusai membaca Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa, saya berpikir ke mana 'kedalaman' tulisan-tulisan yang selalu muncul di Teknokra. Bukankah Teknokra memiliki penulis-penulis yang andal? Bukankah para alumni Teknokra saat itu banyak yang bergiat/bekerja di media massa profesional? Sayang sekali, sebuah sejarah yang hebat hanya ditulis selintas lewat.
Ketika pertama kali memegang Teknokra, Jejak Langkah Pers Mahasiswa, saya sempat berpikir (dengan background banyak alumni Teknokra yang menjadi wartawan-wartawan andal di berbagai media massa) buku tersebut ditulis dengan sangat apik dan menarik, mungkin ditulis dengan metode jurnalisme sastrawi --yang beberapa kali sempat saya temui dalam laporan-laporan khusus di majalah Teknokra.
Bagi saya pribadi, cara penuturan sebuah kisah menyerupai 'cerita sastra', jauh lebih mudah dipahami dan diingat. Dan tentunya, gaya bercerita dari beberapa tokoh yang menjalani aktifitas sebagai pers kampus untuk membentuk jalinan sebuah cerita sejarah tentunya akan menjadikan buku tersebut jauh lebih menarik lagi.
Sebagai seorang penikmat buku (dan mengetahui kisah-kisah tentang Teknokra dari beberapa aktivisnya) sebenarnya saya mengharapkan sebuah penyajian yang bisa menarik minat dan membuat maniak buku bisa berbetah-betah ketika membaca. Kenikmatan membaca adalah segalanya.
TRI PURNA JAYA, pembaca buku
Tag: Sejarah, Pers, Mahasiswa, Buku
Terkait:
-
Tantangan Eksistensial Pers Mahasiswa
Kamis, 10 Feb '11 14:34 -
Nikmatnya Jika Sedang Ereksi
Kamis, 8 Jul '10 04:17 -
PPMI..
Kamis, 3 Jun '10 07:40
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
FF Haq: Bagus
-
ketoles ARBIMAPALA: Perlu

Komentar:
Kalau ada kesempatan saya ingin main kesana sekiranya untuk silaturahmi.
Silahkan login untuk memberikan pendapat