politik kotor! 11
Jumat, 25 Jun '10 14:44
aku pernah mendengar seseorang yg pernah berkata, "kehidupan itu ibarat roda yg berputar". kadang ada di atas dan terkadang ada di bawah. semuanya yg ada di dunia telah saling berkitan antara satu dengan yg lainnya, nasib semuanya bahkan sudah dituliskan di garis takdir sang pencipta bahkan sebelum dunia ini tercipta. tapi kenapa banyak manusia yg ingin menentang takdir? yg salah dijadikan benar dan yg benar dijadikan salah, laki2 ingin terlihat cantik dan perempuan ingin terlihat gagah. dunia sekarang seakan sudah menjadi roda yg berputar namun roda itu terhenti sama saat seperti masa dimana nabi Muhammad baru dilahirkan "ZAMAN JAHILLIYAH". mungkin dalam akal fikiranku apa kata2 ustadz itu yg mengutip dari hadits nabi memang benar bahwa "akan datang suatu masa, bla bla bla bla... dst hingga akhir". maaf, aku bukan ahli hadits yg baik jadi kurang begitu hafal.
begitu pula halnya dengan perjuangan hidup, perjuangan untuk mencari keadilan. keadilan dimana sekarang sudah diperjual belikan oleh para penguasa2 yg tidak bertanggung jawab, oleh para penguasa2 yg biasa mengatasnamakan agama untuk memulihkan rakyat yg kelaparan, oleh penguasa2 yg biasa memutarbalikkan fakta. sekarang di tahun 2010 yg katanya era reformasi, di indonesia masih saja terjadi hal2 yg kurang mengeenakkan seperti ini. bahkan mahasiswa yg katanya agent of change ikut2an bermain politik di dalam lingkup kecil yg biasa kita sebut KAMPUS. sebenarnya aku tak suka membicarakan yg namanya politik, politik itu tai kucing! keadaan yg selalu membuat rakyat mengelus dada karen kehabisan bahan pokok di dapur dan tak mampu membelinya karena harganya melambung tinggi. politik yg selalu menggunakan segala cara untuk mencapai tujuannya, aku benci politik. hanya membuat sahabat lupa kepada karibnyaa, membuat ayah lupa pada tanggung jawabnya, dan hanya membuat ibuku sakit kepala sepanjang malam memikirkan nasib kedua anaknya yg sekarang belum bisa memberikan apa2.
mungkin aku memang mahasiswa yg berfikiran sempit, tak gaul dan kurang memiliki potensi yg berarti. tapi kekacauan yg terjadi setiap hari di wajah bangsa telah menyadarkanku bahwa makhluk yg kurang potensi seperti aku juga bermanfaat bagi lingkungannya walau hanya secuil. tapi aku masih bingung kenapa mereka masih ingin menerapkan politik yg mereka jungjung2 itu. banyak sekali sekarang yg membuat rekayasa tetang politik. politik pun masuk ke dalam seluruh aspek kehidupan. bahkan agama seringkali dibawa2 untuk mencapai tujuan politik mereka, dasar licik! di kampusku sekarang masuk berbagai bentuk organisasi politik yg terselubung di dalam organisasi2 mahasiswa dan anehnya organisasi mahasiswa tertinggi di kampus tak mampu berbuat apa2 membiarkan semua pengaruh masuk ke dalam kampus.
kampusku sudah tak lagi berjalan dengan seutuhnya. satu hari kampusku terlihat seperti pasar, dan satu hari yg lain kampusku terlihat seperti ajang untuk berkompetisi yg tidak sehat, saat pemilu raya mahasiswa semua pihak berlomba-lomba untuk saling menjatuhkan dan saat ada yg kalah mereka menggantung spanduk yg brtuliskan "TELAH MATI DEMOKRASI DI KAMPUS". demokrasi.... heh! sesuatu yg selalu mereka jungjung tinggi dan mereka sendiri yg membelokkan jalannya demi kepentingan pribadi dan kelompok mereka dengan mengabaikan kepentingan mahasiswa lain. aku mengutuk perbuatan tersebut, idealisme meraka sendiri tergadaikan oleh kepentingan politik pihak luar yg hanya menggunakan mereka sebagai alat.
Tag: kampusku
Terkait:
-
TAK SEINDAH NAMANYA TAK SEBAGUS RUPANYA TAK SEHARUM NAMANYA ANDA TAHU?
Rabu, 15 Jun '11 16:56
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
FF Haq: Biasa
-
Wahyu Eko P: Biasa
-
bung hakim: Responsif
Komentar:
Politik Pers adalah bebas nilai, makanya kita berusaha independent walaupun pake atas nama kampus. Kalau kampus ada kasus, yah kita tetap reportase dan investigasi dunk.
ya nggak?
bebas nilai?
wkakkakaka....
emang ada ya yg bebas nilai?
sama sekali ga ada kepentingan atau 'nilai'?
'berusaha independen' itu bukan nilaikah?
jangan terlalu naif lah bung,
Seorang Jurnalis tidak boleh berpihak, walau bagaimanapun medan yg harus kita investigasi. Ideologi Pers setahuku seh merebut apa yang dinamakan para ahli "Publik Space rasional Discourse"
Segito aja dlo bung, tabik.
saya berpihak diri sendiri kok, berpihak pada pandangan saya, pemikiran saya, apa yang indra dan otak saya dapat olah, dengan orang2 berinteraksi dengan saya, dengan sedikit buku yang saya pernah baca.
anda? netral?
wah hebat donk.
lahir, langsung jadi wartawan cari berita, kan tidak punya latar belakang apa2, jadi bisa netral.
hahaha.
sip.
Silahkan login untuk memberikan pendapat