Bahasa Inggris (bukan) Nilai Tambah 4
Minggu, 20 Jun '10 15:32
Sebenarnya judul diatas merupakan judul salah satu opini karya seorang dosen saya yang dimuat di Jakarta Post. Suatu ketika, dosen saya yang kebetulan mendapat jam di pagi hari itu memberi sebuah ceramah mengenai perkembangan bahasa inggris yang begitu cepat di Indonesia. Beliau mengatakan bahwa – yang intinya – seharusnya setiap orang belajar dan menguasai bahasa inggris. Ketika kulihat beberapa mahasiswa lain, mereka mengangguk-angguk, mungkin mereka setuju.
Lebih jauh, dosen tersebut juga berkata bahwa menguasai bahasa inggris bukanlah suatu nilai tambah karena itu sudah menjadi kebutuhan. Seseorang mempunyai nilai tambah ketika orang tersebut mampu menguasai Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Batak, dll. Sampai di sini, lagi-lagi semua mengangguk-anggukkan kepalanya. Seperti yang telah diketahui, hampir semua aspek kehidupan selalu berhubungan dengan bahasa inggris, seperti internet, jargon-jargon iklan, sampai pembungkus obat.
Memang, saat ini bahasa inggris menjadi salah satu hal yang penting, apalagi setelah pelajaran bahasa inggris menjadi mata pelajaran di sekolah, dari SD sampai SMA. Juga, dengan membludaknya mahasiswa yang belajar di universitas-universitas yang membuka fakultas bahasa ataupun sastra inggris. Sebagai Negara yang menjadikan bahasa inggris sebagai bahasa asing (English as Foreign Language – EFL), metode pengajaran pun berbeda dengan Negara-negara yang menjadikan bahasa inggris menjadi bahasa kedua (English as Second Language – ESL), seperti Malaysia.
Terlepas dari EFL dan ESL, sebenarnya yang menjadi masalah disini adalah pada kalimat “. . . bahwa menguasai bahasa inggris bukanlah suatu nilai tambah karena itu sudah menjadi kebutuhan. Seseorang mempunyai nilai tambah ketika orang tersebut mampu menguasai Bahasa Jawa, Bahasa Sunda, Bahasa Batak. . .”
Mungkin akan ada perbedaan persepsi mengenai kalimat diatas, tapi bagi saya adalah kalimat tersebut seakan mengesampingkan bahasa ibu, bahasa pertama bagi hampir seluruh masyarakat Indonesia yang lahir di Indonesia. Juga, kalimat diatas menyiratkan bahwa jika kita ingin dianggap mempunyai suatu nilai plus, maka kita harus belajar bahasa daerah, bukan bahasa asing. Bukankah itu terbalik?
Tag: Bahasa
Terkait:
-
Selamatkan Bahasa Indonesia!
Jumat, 20 Mei '11 15:07 -
Musik Rock: Musik Keras atau Musik Mengayun?
Selasa, 25 Jan '11 10:00 -
Kasus Trivia Berjudul Bahasa Tulis
Selasa, 6 Jul '10 21:36
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
FF Haq: Penting
Komentar:
ya,, alangkah baikx bila sanggup dikuasai semuax...
kalau masih bisa dipakai ya pakai, kalau ga bisa ya buang.
simpel.
kok gue endak ya?
i really really use this fucking language.
hehehe
Silahkan login untuk memberikan pendapat