Meneladani Sosok Umar bin Khathab 0

Rabu, 16 Jun '10 05:40

Umar al-Faruq
Oleh: Samsul Zakaria

 

Dia adalah seorang yang pada awal kemunculan Islam masih dalam keadaan kafir. Tradisi jahiliyah yang manjadi notabene bangsa Arab pra Islam ketika itu tidak luput menjadi kebiasaannya. Membunuh bayi perempuan hidup-hidup, ta'ashshub (ekstrim dalam hal kesukuan), mabuk-mabukkan, dan kebiasaan kafir Quraisy lainnya masih sangat erat dalam kesehariannya. Adalah Umar bin Khattab yang atas berkat rahmat dan hidayah Allah SWT akhirnya memeluk Islam setelah mendengarkan lantunan ayat suci al-Quran yang dibacakan saudarinya, Fatimah bin Khattab. Kisah keislaman Umar sungguh begitu mengesankan dan nampaknya itu merupakan bukti kedekatan (taqarrub) Rasulullah pada Allah SWT hingga doanya supaya salah satu dari dua Umar (Umar bin Khattab dan Umar bin Hisyam) ada yang masuk Islam terkabulkan. Menurut telaah kaum Islam hal itu hampir mendekati kemustahilan, melihat begitu kejamnya Umar, betapa ia membenci Rasulullah dan pengikutnya. Apa hendak dikata jika Allah sudah berkehandak dan meridhai, Umar pun dengan mudahnya memeluk agama yang benar, Islam. Umar yang begitu membenci Islam menjadi pribadi yang taat beragama dan begitu mencintai Islam.

Setelah Umar mengikrarkan keislamannya, maka mulai saat itu pula ia menjadi orang yang paling gemar (banyak) membela Islam, sosok yang setia mengikuti perjuangan Nabi Muhammad menegakkan kalimat ilahi (i'lau kalimat Allah) seantero negeri Arab dan penjuru dunia. Hal inilah yang terkesan sangat kontradiktif namun begitu mengesankan dan patut disyukuri. Umar yang dikenal sebagai sosok yang anti Islam namun setelah dia bertekad (ber'azam) masuk Islam kondisinya berubah total, dia menjadi salah satu tonggak penentu kejayaan Islam, seorang yang paling bertanggung jawab atas keselamatan Rasulullah sebagai Nabi yang membawa misi ilahi (ketuhanan). Kondisi ini tentu sangat menguntungkan umat Islam, Umar yang sebelum masuk Islam menjadi pentolan kafir Quraisy, setelah masuk Islam tentu menarik simpati mereka untuk mengikuti jejaknya. Islamnya Umar membawa berkah besar dengan masuknya kafir Quraisy yang semakin memperkokoh benteng dakwah Islam. Umar juga termasuk golongan 10 shahabat yang mendapat jaminan masuk surga (al-asyrah al-mubasysyarin bi al-jannah) karena begitu besar kontribusinya atas kesuksesan dakwah Islam. Terbukti dalam setiap peperangan yang dilakukan semasa Rasulullah dia tidak pernah alpa bahkan menjadi salah satu shahabat yang berandil besar atas kemenangan kaum muslim ketika itu.

Umar dikenal sebagai shahabat yang banyak menelurkan pemikiran-pemikiran brilian, memberikan solusi konkrit terhadap kondisi umat, dan memutuskan perkara berdasarkan ijtihadnya. Pada masa Abu Bakar, dialah orang yang mengusulkan pengkodifikasian al-Quran setelah mengetahui banyaknya hafidz (penghafal al-Quran) yang gugur pada saat perang Yamamah. Dalam masa kepemimpinannya misalnya, Umar menangguhkan hukuman potong tangan pagi pencuri yang melakukan aksinya saat masa krisis (baca: paceklik). Semua itu dilakukan demi terjaganya kemaslahatan umat Islam kala itu, selama tidak menyalahi aturan dan tidak menodai akidah (‘aqidah) umat Islam. Begitulah Umar, sebagai khalifah ke-2 dari al-Khulafa ar-Rasyidun yang memimpin umat Islam selama kurang lebih 10 tahun merupakan golongan orang yang terdahulu masuk Islam (as-sabiqun al-awwalun). Meraka adalah orang-orang yang selayaknya menjadi panutan umat Islam sampai saat ini, menjadi teladan kita dalam kehidupan sehari-hari. Umar, termasuk para shahabat yang lain telah menunjukkan konsistensinya dalam beragama dan mampu mengejewantahkan nilai-nilai Islam dalam kehidupan nyata. Sebagai orang-orang awal yang masuk Islam, berjuang demi kelanggengan Islam di dunia ini, mereka memiliki keutamaan yang tidak dimiliki umat Islam sesudahnya. Sebagaimana pepatah Arab yang berbunyi:


اَلْفَضْلُ لِلْمُبْتَدِئِ وَاِنْ اَحْسَنَ الْمُقْتَدِئ

Artinya: "Keutamaan itu adalah milik pemula walaupun penerusnya lebih baik."

 

Umar bin Khattab dikenal juga dengan sebutan Abu Hafsh, memiliki julukan al-Faruq, yang berarti pembeda antara yang hak (al-haq) dan yang batil (al-bathil). Dia adalah orang yang dengan sigapnya membela dakwah Rasulullah SAW dengan sepenuh hati dan atas panggilan jiwa. Dengan segala kemampuannya telah berhasil menunjukkan kemantapan akidahnya dalam beragama, berani mempertaruhkan nyawa demi menegakkan Islam, tak gentar walau maut (kematian) taruhannya untuk mengatakan bahwa yang hak adalah hak dan yang batil adalah batil. Sebagai akademisi yang tentunya sudah memahami tugas dan kewajibannya selayaknya kita, umat Islam umumnya mampu memberikan kontribusi lebih terhadap Islam. Sebagai makhluk tuhan yang telah memeluk Islam atas izin-Nya sejak lahir wajar jika kemudian kita harus berjuang sepenuh hati, sekuat tenaga demi tegaknya Islam di dunia yang fana ini. Apabila Umar yang dahulunya begitu garang, sangat memusuhi Islam, setelah memeluk Islam berubah seratus delapan puluh derajat, berbalik begitu mencintai Islam, maka seyogyanya kita lebih dari sekadar Umar. Semoga Allah SWT berkenan meridhai niat, langkah dan amal kita. Masih terbuka lebar kesempatan untuk menjadi sosok Umar yang begitu mencintai Islam dan shahabat Rasulullah yang lainnnya yang berkorban banyak untuk Islam, ikhlas, semata mengharap ridha-Nya. Semoga!

 

Samsul Zakaria,

Mahasiswa Fakultas Ilmu Agama Islam,

Jurusan Syari'ah UII


Tag: teman-teman

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat