Gusur Lagi, Gusur Lagiii... 1
Rabu, 9 Jun '10 02:31
Matanya berkaca-kaca saat menceritakan tentang kisah penggusuran tempat kerja dan tempat tinggalnya sekaligus. Awan mendung yang hinggap di langit kesekretariatan UKM saat itu mempertegas raut perihnya walau ia berusaha untuk tersenyum.
Suara Sutiyam terdengar bergetar Jumat sore itu (9/4). Bagaimana tidak, bangunan yang telah dipergunakannya untuk menyambung hidup selama belasan tahun akan segera digusur. Tak hanya itu, wanita yang akrab dipanggil mbak Yam ini juga terancam kehilangan tempat tinggalnya.
Sebelumya para pegiat UKM juga mengalami hal yang sama. Hanya saja, kisah "Opus" dan kawan-kawan tidak setragis kantin dimana UKM-UKM di gedung utara direlokasi dan menempati gedung 'baru'. Perpindahan ini ditandai dengan kegiatan UKM Pindah Omah (10/2) lalu.
Benar, setelah tragedi UKM Pindah Omah, kini giliran kantin UKM yang akan segera dienyahkan. Hal ini bersamaan dengan datangnya surat yang menginginkan agar kantin segera dikosongkan dalam waktu seminggu. Otomatis, kantin Mbak Yam dan Mbak Roes tak akan lagi kita temukan setelah Kamis (14/4) mendatang.
Sebelum kantin, pihak kampus juga akan segera menyita rumah dinas yang saat ini ditinggalinya. Padahal, hanya rumah itu tempat ia dan keluarganya beristirahat dari aktifitas sehari-hari. Rumah dinas yang berada di belakang SMA 8 Malang ini dulunya tidak layak huni dan akhirnya Istri dari Harsono ini merenovasinya dengan sistem kredit selama tiga tahun. Dalam masa renovasi, ada SK turun yang menyita rumah yang mana di dalamnya menyatakan untuk tidak dibongkar untuk mendapatkan dana dari program "Tali Asih". Namun hingga saat ini masih belum dicairkan.
Menurut Harsono, pihak kampus menyatakan bahwa jika mereka segera pindah, maka penggusuran kantin UKM akan dipertimbangkan kembali. Namun setelah pindah, ternyata penggusuran tetap dilaksanakan. Karena itu Mbak Yam mengirim surat yang ditujukan kepada Rektor dan Pembantu Rektor II, berisi uraian mengenai permasalahan penggusuran, baik kantin maupun rumah dinas.
Kantin mbak Yam telah membantu menjadi sponsor kegiatan teman-teman UKM. Selain itu, kantin ini banyak membantu teman-teman yang sedang kehabisan uang saku. Sudah dekat dengan para penghuni UKM, bahkan para alumni masih sering terlihat nongkrong di sini.
Pihak kampus dalam hal ini memang merasa benar tentang penggusuran ini. "Kantin yang berada di samping gedung UKM tersebut bukanlah sebuah lembaga," ungkap Zulkarnaen, kabag Humas UM.
PR (Pembantu Rektor) II, Prof. Dr. H. Ah. Rofi'uddin, M.Pd juga membenarkan pernyataan tersebut. "Keinginan kami sebenarnya menyatukan tempat makan yang ada (di pujasera, red) sehingga lebih nyaman dan tertata". Selain itu, Rofi'uddin juga menyatakan bahwa "Tali Asih" bukan merupakan sebuah perjanjian untuk mengganti rumah yang ditinggalkan oleh Mbak Yam, melainkan sebuah program pemerintah yang ditujukan untuk para PNS yang baru saja pensiun.
Berhubungan dengan penggusuran ini, PR III Drs. Kadim Masjkur M.Pd menyarankan untuk mengumpulkan tanda tangan pegiat UKM untuk menolak penggusuran kantin Mbak Yam. Selain itu, pegiat UKM yang dimotori oleh ketua RW UKM, Hendra, mulai mengumpulkan seribu tanda tangan mahasiswa.
"Kalau kita bercermin dari kebijakan yang baik, kan dia (kantin, red) harusnya diberi relokasi tempat," ungkap pegiat Jonggring Salaka ini. Memang, selain untuk mengisi perut, adanya kantin ini merupakan sarana yang sangat krusial dalam hal ruang sosial dan interaksi antar anggota UKM.
Uniknya, BEM dan MPM tidak mengakomodir isu ini, sehingga pengumpulan tanda tangan ini langsung ditangani oleh pihak dari mahasiswa dalam hal ini pegiat UKM. "Karena pengadaan kantin ini merupakan kebutuhan mendasar bagi setiap mahasiswa," lanjut Hendra.
Penggusuran kantin ini memang merupakan salah satu kebijakan untuk menata ulang perwajahan UM dalam menuju World Class University. Gedung UKM dan kantin yang merupakan pemberian PT Bentoel itu nantinya akan direnovasi menjadi sebuah gedung baru yang dapat digunakan untuk kepentingan mahasiswa.
Hanya saja, niat baik birokrat UM melalui penggusuran kantin yang tanpa disertai relokasi ini menjadi permasalahan bagi para pegiat UKM. "Gak enak ae kan mas ya kalau tempat biasanya kita cangkruk sekarang digusur," ungkap Asep. "Kalo memang bisa dipertahankan, ya dipertahankan saja. Kalo memang kurang tertata, ya okelah ditata saja. Gak usah sampe digusur, mungkin cukup diperbaiki dan renovasi saja," lanjut mahasiswa Teknologi Pendidikan ini. Kyo.
Dikutip dari Buletin Siar edisi April 2010
Lembaga Pers Mahasiswa Siar
Tag: UM
Terkait:
-
Mampukah Bidik Misi Menjawab Masalah Pendidikan di Indonesia?
Rabu, 9 Jun '10 02:19

Komentar:
Semangat bro....
Silahkan login untuk memberikan pendapat