Antara Jasa dan Rekayasa 0
Rabu, 9 Jun '10 02:12
8 Juni 1921 menjadi saksi lahirnya seorang pemimpin negara yang dalam sejarah Indonesia tercatat sebagai presiden dengan masa jabatan terlama, 32 tahun. Dilahirkan di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, mantan presiden Soeharto yang memiliki nama lengkap Muhammad Soeharto tumbuh sebagai bibit pemimpin di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dia mengawali garis kehidupan politiknya dengan bergabung bersama pasukan kolonial Belanda KNIL. Selama Perang Dunia II, dia menjadi komandan peleton, kemudian kompi di dalam militer yang disponsori oleh Jepang, dikenal sebagai tentara Pembela Tanah Air (PETA). Setelah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, pasukannya bentrok dengan pasukan kolonialisme Belanda. Demikian perjalanan hidupnya berlangsung hingga akhirnya di pertengahan tahun 1962 dia diangkat menjadi panglima Komando Cadangan Strategis (Kostrad) hingga 1965.
Riwayatnya sebagai presiden Indonesia tercatat sejak keluarnya Supersemar pada tanggal 12 Maret 1967 diangkat oleh MPR sementara saat itu. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 27 Maret 1968 dia secara resmi dilantik sebagai Presiden Indonesia yang kedua setelah mantan Presiden Soekarno untuk masa jabatan 5 tahun pertama. Soeharto dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998 hingga masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei setelah terjadinya kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa.
Selama masa jabatannya, Soeharto banyak melakukan rekonstruksi Indonesia ke arah yang lebih baik. Dalam bidang Ekonomi dia berhasil mengembalikan kondisi Ekonomi Indonesia yang amburadul pada masa itu dengan tujuan jangka pendeknya yaitu: mengendalikan inflasi, menstabilkan nilai rupiah, memperoleh hutang luar negeri, dan mendorong masuknya investasi asing. Dalam bidang politik dia sangat diperhitungkan. Setelah berhasil mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dia berhasil meredam oposisi dengan melemahkan kekuatan partai politik melalui fusi dalam sistem kepartaian. Cara ini dilakukan dengan sangat rapi sehingga pada masa jabatannya yang begitu lama Indonesia serasa aman meski dengan benteng keamanan semu belaka. Kampanye Keluarga berencana (KB) hingga berhasil menekan jumlah penduduk sehingga dapat mencegah padatnya penduduk, dan masalah-masalah yang menjadi imbasnya seperti kelaparan, penyakit dan kerusakan lingkungan hidup, menjadi bukti keberhasilannya dalam bidang kesehatan. Dalam bidang pendidikan tidak perlu diragukan, wajib belajar 9 tahun adalah titik tolak kemajuan pendidikan di Indonesia.
Namun di balik semua keberhasilan itu, ada banya kebobrokan yang mampu diredam selama masa jabatannya berlangsung. Usaha meredam ini dilakukan dengan cara membatasi akses-akses informasi yang dirasa mengancam kedudukannya, seperti kasus penutupan 12 surat kabar dan aksi menangkap dan memenjarakan rakyat Indonesia termasuk mahasiswa. Bahkan pada tahun 1978, gerakan mahasiswa dieliminir dengan diberlakukannya Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Mahasiswa (NKK/BKK). Pada masa jabatannya juga disinyalir banyak terjadi tindak kekerasan yang berbau politik untuk mengamankan posisinya. Selain itu, keberhasilan memperoleh hutang luar negeri ternyata tidak mampu diimbangi dengan kemampuan untuk mengembalikannya sehingga pada akhir masa jabatannya hutang Indonesia menumpuk hingga tidak mampu dibayar lunas walau dengan menjual tanah Indonesia sekalipun.
Setelah pengunduran dirinya pada tanggal 12 Mei 1998, Soeharto belum dinyatakan bebas dari tanggung jawabnya sebagai salah seorang yang pernah menjabat sebagai pimpinan di suatu negara. Berbagai dugaan korupsi dilimpahkan padanya. Seiring dengan menurunnya kondisi kesehatan beliau, pada akhirnya jelajah hidupnya yang sempat melegenda di seantero dunia harus diakhiri di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta pada tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB akibat kegagalan multi organ. Beliau meninggal pada usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari terhitung sejak tanggal 4 hingga 27 Januari 2008.
Soeharto, bagimanapun dialah pemimpin yang kebijakannya mampu membawa perubahan di Indonesia
8 Juni 1921 menjadi saksi lahirnya seorang pemimpin negara yang dalam sejarah Indonesia tercatat sebagai presiden dengan masa jabatan terlama, 32 tahun. Dilahirkan di Kemusuk, Argomulyo, Yogyakarta, mantan presiden Soeharto yang memiliki nama lengkap Muhammad Soeharto tumbuh sebagai bibit pemimpin di Negara Kesatuan Republik Indonesia. Dia mengawali garis kehidupan politiknya dengan bergabung bersama pasukan kolonial Belanda KNIL. Selama Perang Dunia II, dia menjadi komandan peleton, kemudian kompi di dalam militer yang disponsori oleh Jepang, dikenal sebagai tentara Pembela Tanah Air (PETA). Setelah proklamasi kemerdekaan pada tahun 1945, pasukannya bentrok dengan pasukan kolonialisme Belanda. Demikian perjalanan hidupnya berlangsung hingga akhirnya di pertengahan tahun 1962 dia diangkat menjadi panglima Komando Cadangan Strategis (Kostrad) hingga 1965.
Riwayatnya sebagai presiden Indonesia tercatat sejak keluarnya Supersemar pada tanggal 12 Maret 1967 diangkat oleh MPR sementara saat itu. Satu tahun kemudian, tepatnya pada tanggal 27 Maret 1968 dia secara resmi dilantik sebagai Presiden Indonesia yang kedua setelah mantan Presiden Soekarno untuk masa jabatan 5 tahun pertama. Soeharto dipilih kembali oleh MPR pada tahun 1973, 1978, 1983, 1988, 1993, dan 1998 hingga masa jabatannya berakhir setelah mengundurkan diri pada tanggal 21 Mei setelah terjadinya kerusuhan Mei 1998 dan pendudukan gedung DPR/MPR oleh ribuan mahasiswa.
Selama masa jabatannya, Soeharto banyak melakukan rekonstruksi Indonesia ke arah yang lebih baik. Dalam bidang Ekonomi dia berhasil mengembalikan kondisi Ekonomi Indonesia yang amburadul pada masa itu dengan tujuan jangka pendeknya yaitu: mengendalikan inflasi, menstabilkan nilai rupiah, memperoleh hutang luar negeri, dan mendorong masuknya investasi asing. Dalam bidang politik dia sangat diperhitungkan. Setelah berhasil mengambil alih kekuasaan dari Soekarno, dia berhasil meredam oposisi dengan melemahkan kekuatan partai politik melalui fusi dalam sistem kepartaian. Cara ini dilakukan dengan sangat rapi sehingga pada masa jabatannya yang begitu lama Indonesia serasa aman meski dengan benteng keamanan semu belaka. Kampanye Keluarga berencana (KB) hingga berhasil menekan jumlah penduduk sehingga dapat mencegah padatnya penduduk, dan masalah-masalah yang menjadi imbasnya seperti kelaparan, penyakit dan kerusakan lingkungan hidup, menjadi bukti keberhasilannya dalam bidang kesehatan. Dalam bidang pendidikan tidak perlu diragukan, wajib belajar 9 tahun adalah titik tolak kemajuan pendidikan di Indonesia.
Namun di balik semua keberhasilan itu, ada banya kebobrokan yang mampu diredam selama masa jabatannya berlangsung. Usaha meredam ini dilakukan dengan cara membatasi akses-akses informasi yang dirasa mengancam kedudukannya, seperti kasus penutupan 12 surat kabar dan aksi menangkap dan memenjarakan rakyat Indonesia termasuk mahasiswa. Bahkan pada tahun 1978, gerakan mahasiswa dieliminir dengan diberlakukannya Normalisasi Kehidupan Kampus/Badan Koordinasi Mahasiswa (NKK/BKK). Pada masa jabatannya juga disinyalir banyak terjadi tindak kekerasan yang berbau politik untuk mengamankan posisinya. Selain itu, keberhasilan memperoleh hutang luar negeri ternyata tidak mampu diimbangi dengan kemampuan untuk mengembalikannya sehingga pada akhir masa jabatannya hutang Indonesia menumpuk hingga tidak mampu dibayar lunas walau dengan menjual tanah Indonesia sekalipun.
Setelah pengunduran dirinya pada tanggal 12 Mei 1998, Soeharto belum dinyatakan bebas dari tanggung jawabnya sebagai salah seorang yang pernah menjabat sebagai pimpinan di suatu negara. Berbagai dugaan korupsi dilimpahkan padanya. Seiring dengan menurunnya kondisi kesehatan beliau, pada akhirnya jelajah hidupnya yang sempat melegenda di seantero dunia harus diakhiri di Rumah Sakit Pusat Pertamina, Jakarta pada tanggal 27 Januari 2008 pukul 13.10 WIB akibat kegagalan multi organ. Beliau meninggal pada usia 87 tahun setelah dirawat selama 24 hari terhitung sejak tanggal 4 hingga 27 Januari 2008.
Mo Awwanah
Lembaga Pers Mahasiswa Siar Lembaga Pers Mahasiswa Siar
Tag: Soeharto

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat