Mengail Pelajaran dari Marxis(me) 11
Selasa, 1 Jun '10 14:11
Ngobrol via SMS dengan Nurani Soyomukti (Mantan Aktivis Mahasiswa dan Penulis Buku). Minggu, 22 Mei 2010.
si berang-berang (sbb): Mas aku mulai dengan pertanyaan sederhana. Bagaimana jika seseorang di satu sisi mempunyai alat produksi namun di sisi lain bekerja pada seseorang hanya dengan menggunakan tenaganya. (Dalam kontradiksi kelas Marxisme) Dimana posisinya?
Nurani Soyomukti (NS): Ada borjuis kecil, ada posisi2 yang tidak masuk dalam kontradiksi utama pertentangan kelas. Dia bukan kelas fundamental antara majikan dengan wilayah pabrik. Indonesia semi feodal semi kapitalis.
(sbb): Saat ini, atau katakanlah Kapitalisme-lanjut, menurutku sudah berhasil mengaburkan yang mana buruh dan yang mana majikan. Ditambah lagi instrumen-instrumennya yang sampai merasuk ke dalam sisi paling fundamental manusia. Nah apakah revolusi kaum buruh masih bisa diharapkan mas?
(NS): Kabur atau dikaburkan? Atau pikiran kita yang belum mampu menyentuhnya karena kita hanya berada jauh dari hubungan real itu, hanya menulis, mikir dan tidak pernah menyambungkan dengan realitas, belum turun atau tinggal di kawasan produksi (pabrik). Itu masalah juga. Soal kabur, itu masalah pikiran kita dengan realitas. Nah itu, kontradiksi melahirkan pemikiran perlawanan. Yang memperjelas landasan teoritiknya filisafatnya biasanya kaum intelektual seperti kalian. Kalian kadang bisa progresif dan menyatu dengan kaum buruh. Tapi belakangan intelektual-intelektual dari kalangan buruh sendiri lahir. Aksi buruh tidak kalah dengan aksi mahasiswa. Buruh kaos merah dominasi aksi-aksi dan pengorganisasian gerakan, bahkan tiap 1 Mei kaos merah bergambar palu arit hampir separuh dari jumlah seluruhnya yang hampir 1 juta. Setelah itu mereka lakukan pendidikan politik dan tak akan berhenti perluas ideologi dan gerakannya.
(sbb): Memang mas, aku sendiri hanya beberapa kali berapa di kawasan itu. Dan selang waktunya juga hanya sebentar.
(NS): Mereka buruh, sudah memahami kepentingan kelasnya, tak bisa lagi dikaburkan. Meski belum menulis buku sepertiku, aku sudah mengaku kalah secara intelektual dengan mereka. Mereka bergerak dengan tujuan, tidak mengalir.
(sbb): Tapi kemudian masalahnya adalah interpretasi mas. Akhirnya yang obyektif (kalau ada) kan tidak lagi sama di tataran individual? Kalau kita menganalisa berdasarkan kekuatan-kekuatan material yang saling berhubungan (dialektis) tentu tidak ada yang kabur kalau pikiran dan indra kita bekerja dengan baik, semua bekerja dalam hubungan, jadi jangan melompat dulu ke makna atau simbol hanya untuk melampiaskan nafsu melihat keindahan dan simbol kehidupan material ini secara cepat atau oportunistik.
(sbb): Sejak awal, aku memang dididik dengan frame ‘post’ mas, tidak marxian seperti mas. Itu juga yang menyebabkan aku tidak percaya pada nilai-nilai universal. Atau bahkan tidak ada yang universal mas? Kalaupun ternyata marxisme pun ternyata totaliter, menyamaratakan dan terbukti gagal dalam beberapa aspek?
(NS): Intinya dialektika itu yang akan menguji, bukan totalitasnya. Jangan baca Marx langsung dari orang post. Kesalahan praktek marxis, apalagi dalam politik dan negara, di masa lalu yang totaliter, 1 partai, dan menjalankan kekerasan, dll., tidak menjelaskan ia wakil marxisme. Dialektika bukan empirisme, kita harus belajar jujur, jangan sampai memanipulasi realitas seperti Stalinis. Data-data tentang materi dan hubungan-hubungannya harus diangkat untuk menunjukkan makna-makna yang ada, bukan sebaliknya kan? Universal itu dicari dari patokan-patokan yang konkret, tapi di wilayah makna memang akan jamak. Atau kalian perlu jelaskan ‘makna’ seperti apa? Kalau gak ada yang universal, tentu gak ada yang diatur, hidup sendiri berpola, ada kontradiksi umum dan khusus, sudah tidak terbantahkan dan tak bisa disangkal.
(sbb): Iya tapi seperti mengulang perdebatan permanen mas. Kalau ada dialektika materialis, kita juga tidak bisa menegasikan adanya dialektika ide? Sedangkan marxisme sama sekali menghilangkan hal itu?
(NS): Nah itu! Materi itu memberi basis. Tanpa dasar materi tak ada ide, materi independen dari ide tapi ide tak mungkin ada dari tanpa materi. Ide-ide, harapan-harapan, ilusi-ilusi, obsesi-obsesi, cara pandang, makna, dll., dibentuk dari pergumulan manusia dengan kenyataan bumi bukan langit. Tak ada ide bawaan sejak janin atau masa sebelumnya. Dialektika ide? Tiap detik manusia hidup, serangan ideologis dan maknawi apa datang begitu saja? Tapi melalui kekuatan material itu (misalnya TV dengan kata-kata, visualisasi, suara, dll). Dan siapa yang memegang kekuatan material itu? Cara pandang seperti apa? Berakar dari kepentingan mana?
(sbb): Tapi kembali lagi mas, tidak ada yang universal dan total kan kalau seperti itu. Semuanya akhirnya melahirkan interpretasi dan aplikasi yang berbeda. Sesuai konteks. Nah kalau terus menerus menengok sejarah, atau berpatokan, maka apa yang terjadi di masa depan bisa saja terjadi mas? Dan kita semua tahu kalau ternyata memang berbeda-beda? Sedangkan ketika aku percaya bahwa semua adalah kebenaran kecil, tidak ada makna tunggal, itu menjadi lebih bisa diterima?
(NS): Bukan gitu, semua tergantung hubungan epos kesadaran dengan kakuatan-kekuatan kelas, kesadaran politis, dll., berada dalam hubungan nyata kan? Kapitalis berusaha mempertahankan diri. Gerakan bertujuan (dan bukan mengalir) untuk menghancurkannya bisa muncul, bisa mati, bisa bertambah pelan-pelan tapi pasti, bisa cepat dan membesar tiba-tiba, dan bisa menang dan menumbangkan kekuasaan feodal dan imperial seperti kemenangan Maois (tani sebagai pilar Revolusi) Nepal saat ini, atau beberapa negara Latin, dengan tingkat yang berbeda, dengan kemunduran dan kemajuannya… Semuanya jadi bagian sejarah yang nyata, konkrit, meskipun ide-idemu tak membayangkannya. Kita bisa tempatkan diri secara berjarak bahwa sejarah itu obyek di luar kita, yang kalian sebut positivistik. Jelas materialisme-dialektika-historis bukan positivisme, karena melihat kita sebagai bagian dari sejarah itu, berdialektika dalam epos material yang sedang bertarung, dihiasi ide-idenya yang hasil pertarungannya bisa memundurkan atau memajukan.
(sbb): Kapitalisme juga menyerang dengan instrumen-instrumen idea. Bahkan mungkin dengan filsafat. Sehingga ada realitas baru yang asalnya dari instrumen-instrumen tadi. Lalu marxis…?
(NS): Jawab: Ya iyalah, keyakinan kaum Marxis juga seperti itu dari sononya. Loh kok kamu bandingkan kapitalisme sebagai gejala dengan marxis sebagai analisa/cara pandang. Bukan jawabnya yang bingung, tapi gak nyambung.
(sbb): Maap mas kalau kata-kataku menyinggung mas. Tapi maksudku dengan instrumen-instrumen idea adalah filsafat ‘post’ yang beragam itu, yang oleh para marxis dianggap sebagai hasil borjuis-borjuis kecil, karena tidak mendukung perjuangan revolusioner kaum buruh. Sebenarnya aku memposisikan diri sebagai penanya, bukan sebagai lawan ideologis mas.
(NS): Iya makanya ada kata: Jawab. Hehe. Kita sahabat, teman diskusi, bukan lawan. Ingat puisi Thukul: ‘HANYA ADA SATU KATA: KAWAN!’ …
(NS): Saya dulu juga berangkat dari posmo. Mungkin sebelum orang-orang kenal post2 itu, aku sudah kenal lebih dulu di Jember. Dari buku-buku hingga jurnal aku cari-cari, pernah nemu Edisi Posmo di Jurnal Ulumul Qur’an (di loakan belakang Matahari) dan Prisma (ngopi di perpustakaan). Rajin mengutip kata-kata dan istilah sulit supaya dianggap keren sebagai intelektual. Aku berada dalam ketidakpastian, untuk apa juga pemikiran sophisticated tapi bikin terasing. Saat aku mulai jatuh hati pada gerakan rakyat kok ya aku menemukan idealisme luar biasa dalam ‘Manuskrip Ekonomi Filsafat Marx’ yang diterjemahkan Erich Fromm. Jadi aku punya 5 buku karya Erich Fromm, ditambah itu, waktu itu. Dulunya aku baca Marxisme dari intelektual-intelektual yang benar-benar gak menyukainya. Isaiah Berlin dan Magnis Suseno. Akhirnya aku mengujinya, Marxisme dengan realitas. Kini aku merasa bahagia bisa menggunakan Marxisme untuk bicara banyak hal, mengutip kata-katanya dalam semua buku-bukuku.
Terkait:
-
Membela Agama dan Membela Komunisme
Kamis, 13 Jan '11 21:41 -
MENGGESER PARADIGMA PENDIDIKAN INDONESIA
Jumat, 22 Okt '10 19:38
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Die Key belajar nulis: Penting
-
arman dhani bustomi: Bagus
-
ikhwan: Biasa
-
Oo Zaki: Perlu
-
BJ: Biasa
Komentar:
saya adalah apa yang saya tulis di facebook dan so called social networking sites!
itu saja..
iya, inbox uda ga muat makanya dipindah kesini om genjas.
Bagaimana mau melakukan pertentangan kelas klo Proletar kita enggan disebut buruh dan para intelektual kita gengsi ngobrol sama buruh tani. trus arep di apake kie???
Inilah salah satu teknik dominasi para intelektual (termasuk anda yang sok 'Post'): membuat hal-hal sederhana sehingga kelihatan rumit. Setelah kelihatan rumit, besar-besarkan. So sad. Saya jadi meriang membaca coretan anda di atas...
sederhana...? rumit....?
weleh, kalau tidak tahan dengan perayaan, ya ikut yg permainan, kalau masih tidak tahan, ya berobat dulu...
hehe,
sayang sekali, dunia terlalu eman kalau hanya dibelah dua.
saya tidak mau jadi intelek, mungkin esok2.
Saya yakin 'pengetahuan' anda ttg banyak hal itu diperoleh dari versi terjemahan (bukan bahasa aslinya). So sad...
Untungnya, saya bukan org intelek, yg suka ngomong ini-itu sprit anda, g tau teori, tdk juga sering ke Perpus hnya u/ pamer dftar bacaan. Sy takut ditangkap polisi ^_ pak
ada dua cara untuk melepaskan diri dari konteks,
yang pertama terus belajar,
yang kedua terus menyerang secara personal.
Silahkan login untuk memberikan pendapat