Mahasiswa dan Kebiasaan Mencontek 14
Kamis, 20 Mei '10 09:57
Ujian diadakan untuk mengetahui hasil dari kegiatan belajar dan mengajar selama perkuliahan, dari ujian tersebut dapat terlihat bagaimana kemampuan mahasiswa dalam menyerap materi yang disampaikan dosen dan bagaimana kemampuan untuk memecahkan suatu masalah. Tak jarang, tinggi rendahnya hasil dari ujian merupakan cerminan dari tinggi rendahnya kepintaran mahasiswa, sehingga banyak mahasiswa yang enggan dianggap bodoh sehingga melakukan banyak hal untuk mendapatkan nilai ujian setinggi-tingginya, dan termasuk dengan melakukan kecurangan.
Kecurangan yang sering dilakukan mahasiswa adalah mencontek. Mencontek merupakan usaha untuk menjawab soal ujian dengan bantuan-bantuan yang tidak diperbolehkan, dan hal tersebut sangat dekat sekali dengan mahasiswa. Bisa dilihat dari 70% mahasiswa setidaknya pernah mencontek, dengan frekuensi jarang dan kadang-kadang. "Terpaksa mencontek karena tidak paham dengan materi yang disampaikan oleh dosen," ujar salah satu mahasiswa Ekonomi yang menyatakan alasannya mengapa mencontek, dan hal tersebut mewakili 50% dari semua responden yang mencontek. Seringkali masalah proses belajar mengajar di kelas dikeluhkan oleh mahasiswa, mulai dari metode pengajaran yang membosankan, sampai penjelasan materi oleh dosen yang terlalu memusingkan. Meskipun disamping itu masih banyak pula mahasiswa yang mengaku tidak pernah atau malas belajar.
"Perasaan ketika mencontek ya biasa saja, karena memang sudah terbiasa mencontek," jelas salah satu mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) saat ditanya perasaannya ketika mencontek, dan hal tersebut pun dirasakan oleh 30% responden lainnya, dan hanya 17% yang menyatakan merasa malu ketika mencontek, padahal sudah jelas mencontek merupakan perbuatan yang tidak baik.
Sukses atau tidaknya proses mencontek berlangsung dikarenakan oleh beberapa faktor, dan yang terbesar adalah karena faktor pengawas. "Ada pengawas yang cuma duduk-duduk saja, sehingga pengawasannya longgar dan kita mudah untuk mencontek," ungkap salah satu responden dari Fakultas Hukum (FH). Disamping itu, faktor tempat duduk pun menjadi salah satu faktor pendukung kedua setelah pengawas, dan sepertinya hal tersebut sudah disadari oleh pihak Quality Assurance Center (QAC) sehingga mengeluarkan kebijakan pengurutan dan penomeran tempat duduk di kartu ujian sejak ujian tengah semester ganjil, selain itu kebijakan tersebut memang untuk meningkatkan mutu pendidikan UMS. Namun sayang, seperti yang dikutip dari KORAN PABELAN edisi 30 tahun 5, bahwa penerapan kebijakan tersebut masih longgar di beberapa fakultas sehingga nomor kursi di kartu ujian belum maksimal.
Kreativitas mahasiswa memang sudah tidak diragukan lagi, termasuk dengan menyiapkan media atau sarana untuk mencontek. Mulai dengan menggunakan handphone dan menyiapkan catatan kecil yang bisa dibuka kapan saja di ruang ujian, namun yang dirasa paling aman adalah dengan melihat jawaban teman. "Kalau melihat jawaban teman itu lebih tenang dan aman, kalau ada razia pun tidak akan ada barang bukti," ujar salah satu responden dari Fakultas Psikologi, dan teman tersebut juga dianggap salah satu faktor yang menyukseskan usaha mencontek oleh 21% responden.
Usaha untuk mendapatkan nilai yang tinggi dengan mencontek, ternyata tidak membuat bangga dengan hasil yang didapatkan meskipun nilainya bagus, hal itu bisa dilihat dari 45% responden yang menyatakan tidak bangga ketika ditanya kebanggaannya terhadap hasil yang diperoleh dari mencontek karena dirasa bukan hasil sendiri, dan hanya 7% saja yang menyatakan sangat bangga sekali, meskipun hasil yang didapatkan tidak murni sesuai dengan kemampuan sendiri.
Ketika disinggung apakah ada keinginan untuk berhenti mencontek, 87% responden menyatakan ingin berhenti karena sadar bahwa mencontek merupakan perbuatan yang tidak baik, "kalau mencontek terus, kapan bisa pintarnya," jelas salah satu responden dari Fakultas Teknik. Sedangkan faktor yang dapat menghentikan kebiasaan mencontek adalah paham materi yang disampaikan oleh dosen di kelas, "Semoga bisa berhenti mencontek kalau dosen ngajar di kelasnya mengasyikan dan bisa bikin mahasiswa paham pada materi mata kuliah tersebut", harap salah satu responden dari Fakultas Ilmu Komunikasi dan Informatika (FKI).
---
itulah realita di kampus kami, bagaimana dengan kampus kalian?
atau, jangan-jangan Anda merupakan salah satu pelakunya? ;))
gambar diculik dari sini
Tag: mencontek, polling, jajak pendapat
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
ketoles ARBIMAPALA: Perlu
-
ika journal: Perlu
-
rina: Perlu
-
Die Key belajar nulis: Responsif
-
titiN wae: Perlu
-
andi_tulungagung: Perlu
-
FF Haq: Penting

Komentar:
memakai dasi, jas, sepatu bermerek, semir rambut, bisa juga celana dalam yang menjadi budaya orang atau bahkan bangsa lain.. mengadopsi identitaspun menjadi sesuatu yang "WAH" sebagai pembias identitas kita..
ika journal: sepakat.. mending sesuai dengan kemampuan kita saja..
Die Key belajar nulis: yaa.. mencontek tak hanya sebatas pada ujian saja, mencontek dalam kehidupan dan identitas..
tapi tak selamanya mencontek itu buruk..
titus ray: haahaha, berarti lulus UN tergantung kepiawaian seseorang dalam mencontek ya?
banyak kan skarang siswa2 kalo UNAS kaya' gituh...
asal d bikin rapi aja gimana cara menconteknya,etc nanti udah beres kok...tinggal menunggu jawaban
xixixixi~~~
jaman gni g pda curangya gak lulus..
bahkan yg mnyediakan 'kisi2 jwban UN' skolahnya sndri..
hayooo...
dn ada jga smacam istilah gini :
"posisi duduk menentukan kelulusan.."
hahahaha.. lucu ya?
posisi menentukan prestasi...
setuju q
tapi sekarang wah anti banget mungkin karena sudah insyaf...
Silahkan login untuk memberikan pendapat