Surat Untukmu, kawan. 6
Minggu, 16 Mei '10 12:36
Salam Persma,
Tidak terasa lebih dari tiga tahun aku menapaki bangku kuliah di Universitas ini. Selama itu pula aku aktif dalam beberapa organsasi. Harus ku akui, organisasi kemahasiswaan tadi cukup meningkatkan kemampuan bahkan memangkas sifat-sifat burukku. Contohnya saja, saat masih duduk dibangku SMA aku begitu malas untuk belajar. Sedikit kuceritakan kejadian lampau itu, ketika Ujian Akhir Semester menanti aku lebih memilih bermain Play Station ketimbang belajar. Dan masih terngiang bagaimana Orang tuaku begitu ‘naik darah' dan memarahi aku habis-habisan. Tapi, sungguh benar kata pepatah ‘manusia belajar dari pengalaman'.
Catatan Mengenai Staff Pengajar
Mungkin, anda belum begitu mengerti bagaimana keadaan di ‘gudang ilmu pengetahuan' saat ini, biar ku ceritakan sedikit. Kampusku saat ini tengah berusaha Menuju Excellent University, Universitas yang unggul sederhananya. Pembenahan untuk menuju kesitu tengah diupayakan, yang terpenting adalah kesejahteraan staff pengajar, fasilitas belajar sampai kualitas mahasiswa. Oh iya!!! Disini, ada beberapa dosen yang menjadikan mahasiswa sebagai ‘lahan tambahan' untuk mencari nafkah lewat penjualan buku yang dikenal dengan Diktat, terkadang disertai ancaman bagi yang tidak membeli, namun hadiah bagi yang sepakat. Aku tidak pernah setuju dengan konsep semacam ini, makanya aku tidak pernah membelinya walaupun ancaman sering kali datang. Bagiku buku sangat penting dalam menambah wawasan tapi apa gunanya kalau kemampuan seseorang hanya dinilai dari pembelian buku yang tidak pernah dibaca? bahkan ada ancaman ‘penyunatan' nilai di akhir semester nantinya, bila tidak membeli buku. Yang lebih parah lagi ada beberapa teman ku yang telah membayar namun tak kunjung mendapatkan buku tersebut. Anehnya, temanku tidak kecewa sama sekali "yang penting nilai bisa diamankan" tuturnya suatu ketika. Dengan pemikiran yang seperti ini, konsep pendidikan yang diharapkan menghasilkan Manusia Utama dari Aristoteles, dalam bukunya Etika Nikomacheia tak akan pernah terjadi. Mungkin, anda akan bertanya apa sih maksudnya manusia utama tadi? Yang dimaksudkan dengan manusia utama adalah mereka yang menikmati bertindak secara budi luhur dan jijik jika melakukan tindakan yang tidak luhur atau dikatakan sebagai hidup berdasar moral. "kita merasa gembira dan sakit dimana seharusnya". Hal tersebut jelas berbeda dengan konsep dari Epikuros yang mengatakan "kalau mau bahagia hindarilah rasa sakit dan usahakanlah rasa nikmat", Pandangan tersebut merupakan cikal-bakal lahirnya hedonisme (berasal dari bahasa Yunani hedone, nikmat kegembiraan). Pendapat Epikuros yang mencari kenikmatan jasmani dan menghindari perasaan sakit dinilai Aristoteles sebagai ‘sifat yang dimiliki manusia bersamaan dengan binatang', artinya bukan khas manusia. Jadi, Aristoteles menekankan hasil dari pendidikan yang bermutu adalah apabila pendidikan dapat menghasilkan manusia-manusia yang bukan saja intelekual namun lebih dari itu, yakni bermoral. Kembali ke masalah penjualan buku, kenapa sampai bisa terjadi? secara singkat saya katakan kesejahteraan dosen yang masih sangat memprihatinkan adalah sebab utama. Nah, oleh sebab itu, misi utama yang paling digadang Universitas ini adalah mensejahterakan staff pengajar supaya tidak ada lagi dosen yang melakukan ‘pungutan liar' pada mahasiswa.
Mengenai Fasilitas Kampus
Kawan, fasilitas di kampus akhir-akhir ini sedang menjadi pembicaraan. Itu dikarenakan adanya fasilitas wifi dihampir seluruh fakultas, sehingga mahasiswa diharapkan bisa mendapatkan referensi belajar secara lebih instant dan cepat. Tapi, sayangnya universitas kecolongan, fasilitas yang memudahkan itu ternyata lebih banyak digunakan untuk chating bahkan download lagu, jujur aku juga ambil bagian dalam hal ini (he3x...). Seandainya, kalian berkujung ke daerah ini akan kutunjukkan bagaimana mahasiswa asyik nongkrong untuk berchating ria bahkan di tempat yang gelap sekalipun. Tapi fasilitas wifi tidak cukup untuk menutupi hal lain yang lebih penting, misalnya laboratorium untuk praktek mahasiswa (eksakta khususnya). Banyak teman-teman yang mengeluh kurangnya peralatan di laboratorium, sehingga fakultas atau jurusan berinisiatif untuk melakukan kerjasama dengan pihak swasta sebagai upaya mengembangkan kemampuan mahasiswanya. Kali ini saya harus memberikan ‘empat jempol' bagi fakultas yang bertindak seperti ini. Selain itu perpusatakaan, bukunya itu lho ‘katro' sekali!!! Memang ada yang mengatakan buku sifatnya ‘kekal', untuk ilmu pasti tentunya. Tapi, bagi ilmu-ilmu sosial yang bidang kajiannya terus berkembang seiring dinamika jaman, tidak mungkin memakai referensi yang sudah tidak sesuai lagi dengan tuntutan jaman. Jelasnya saya sangat yakin bahwa usaha-usaha untuk memenuhi fasilitas belajar terus dan sedang diupayakan. Saat ini saja, Universitas akan memiliki beberapa gedung baru, diantaranya Pusat Kegiatan Mahasiswa bahkan yang lebih fenomenal lagi adalah Rumah Sakit. Ditambah lagi, fasilitas smart card dinilai cukup mempermudah pembayaran SPP di semester berikutnya. Saya tidak perlu mengantri begitu panjang dan lama untuk melakukan transaksi pembayaran. Selain itu, tidak perlu lagi melakukan pergantian kartu mahasiswa tiap tahunnya, yang sangat repot dan menyebalkan tersebut.
Tentang Mahasiswanya
Keadaan mahasiswa di kampus ini cukup memprihatinkan, Kalangan yang dinilai Soe Hok Gie sebagai the happy selected few ini sekarang telah menurun daya kritisnya. Contohnya saja kegiatan diskusi ilmiah di kampus, gaungnya masih kalah jauh bila dibandingkan dengan ladies night, setiap hari selasa ada jatah untuk ‘anak kampus', lebih khusus wanita. Padahal kita semua tahu, bahwa kemerdekaan bangsa Indonesia dimulai dari diskusi kecil mahasiswa STOVIA. Yang menjadi pertanyaan, apa karena saat itu belum ada tempat hiburan malam sehingga mahasiswa lebih asyik dan gemar berdiskusi? entahlah, yang jelas keadaan sekarang seperti tadi yang ku tuliskan. Menulis ilmiah? setali tiga uang dengan ajang diskusi, menulis pesan singkat di HP, facebook sampai yang paling akhir adalah poker membuat tidak ada lagi mahasiswa yang mau menganalisa masalah, sekarang semuanya lebih singkat. Budaya menganalisa suatu masalah dan memberikan suatu solusi seakan-akan telah lenyap dari ‘kaum intelektual'. Bagaimana dengan di tempat anda ‘menimbah' ilmu?
Mengenai Sistem Pendidikan
Aku teringat akan kata-kata seorang dosen, "manusia membuat sistem pendidikan dan pada akhirnya sistem pendidikan itu yang akan membangun manusia". Mungkin kata-kata ini cukup relevan bila dihubungkan dengan Visi Kampus Menuju Excellent University. Sistem pendidikan yang telah dicanangkan untuk mencapai visi tersebut tentu akan membangun masyarakat kampus yang sesuai dengan penerapan sistem nantinya.
Kalian pasti belum lupa demonstrasi ‘kawan-kawan' menolak Undang-undang Badan Hukum Pendidikan (UU BHP), aksi mereka ternyata berhasil, UU BHP akhirnya diputuskan batal oleh Mahkamah Konstitusi. Karena bagi sebagian akademisi, sistem ini dinilai sebagai upaya Pemerintah untuk melepas tanggung jawab dibidang pendidikan dan tentu saja tidak sesuai dengan UUD' 45. Menurut Prof. Soedijarto, Ketua ISPI yang juga Guru besar Universitas Negeri Jakarta, UU BHP telah melangkahi konstitusi Negara yang mengharuskan penyelenggara bertanggung jawab terhadap pendidikan. "Di dunia, tidak ada yang begitu tegas mewajibkan Negara menanggung pendidikan, selain Indonesia" ungkap Soedijarto pada tabloid mahasiswa Transformasi Universitas Negeri Jakarta. Sedangkan menurut Todung Mulya Lubis, pendidikan berfungsi agar manusia dapat lebih mengenal dirinya, bahwa dirinya adalah manusia (subyek) bukan obyek. Ia melanjutkan, pendidikan harus membuat orang sadar bahwa dia ada, exist dan turut menentukan masa depannya bersama orang lain. Pendidikan harus membuat kita lebih manusiawi, lebih adil dan padu. Dalam bukunya "Hak Asasi Manusia dan Kita", Todung menyesalkan sering terjadinya pergantian sistem pendidikan seiring dengan pergantian dari satu menteri ke menteri lain, "seolah kita dijadikan kelinci percobaan sepanjang masa" tulisnya. Jika memang sistem akan membentuk manusia, bagaimana dengan sistem pendidikan kita yang sering berubah? akankah menghasilkan lulusan yang pasang surut seperti sistemnya?
Akhir Kata
Melalui surat ini, kiranya kalian mengerti keadaan kampus, tempatku sekarang menimbah ilmu, bagaimana kemelut yang terjadi di dalamnya. Yang jelas, aku telah menetapkan prinsip dalam diri bahwa tidak akan menjadi sarjana instant. Saya lebih memilih untuk menjadi ‘manusia utama' seperti yang dikatakan aristoteles, memiliki moral, kualitas diri dan bukan sekedar ijazah, walaupun prosesnya akan jauh lebih berat dan memakan waktu. Untuk itu, saya berharap doa kalian menuntun saya agar tidak terjerumus dalam lubang hedonisme.
Kiranya kita-kita ini berhasil menjadi 'manusia utama'
Salam Persma!!!
Tag: kampus
Terkait:
-
Krisis Kritis
Jumat, 28 Okt '11 18:10 -
Kolaborasi Ramaikan Persma.com Yuk!
Jumat, 19 Agu '11 15:37 -
Belajar = Proses, Bukan Urusan Ponten
Selasa, 9 Agu '11 13:22
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sisca civitas: Responsif
-
fu'ah DIMENSI: Bagus
-
FF Haq: Responsif
-
Wahyu Eko P: Bagus
-
Die Key belajar nulis: Responsif
-
pietre: Bagus
-
dewi alfath: Responsif
-
nenden pabelanis: Perlu
Komentar:
Menarik kawan lanjutkan.
Silahkan login untuk memberikan pendapat