Farmasi tak terganti 2
Selasa, 11 Mei '10 20:25
Beberapa hari yang lalu, saya membaca tulisan teman saya tentang penjara identitas. Ketika membaca tulisan tersebut saya merasa si penulis meluapkan kekesalan atas konstruk yang ada di masyarakat. Merasa kalau apoteker dipandang sebelah mata, dokter yang dianggap sebagai “tangan Tuhan”, atau prestise profesi dokter yang selalu diunggulkan daripada sekedar apoteker maupun perawat.
Stratifikasi memang masih ada di masyarakat. Sepeti ketika duduk dibangku sekolah, Konstruk “anak IPA lebih pinter daripada anak IPS” walaupun tidak ada bukti konkrit yang mendukung hal tersebut. Jago hitung-hitungan belum tentu jago penalaran. Pintar pecahkan rumus belum tentu pintar pecahkan suasana. Begitu pula untuk dokter dan apoteker. Jago menganalisis penyakit, belum tentu jago meracik obat. sederhana nya, mereka sudah memiliki porsinya masing-masing. Antara Dokter-perawat-apoteker, adalah sebuah sistem yang apabila salah satu subsistemnya hilang akan kelimpungan. Ketika pasien datang, siapa yang mengurus nya? Tentu itu tugas nya perawat. Memeriksa dan menganalisis pasien tentu menjadi tugas dokter. Lalu diberi obat oleh apoteker. Bayangkan saja jika tidak ada perawat, pasti pasien nya terbengkalai dan bisa saja meninggal. Atau sudah ada perawat tapi tidak ada dokternya, apoteker pun tidak bisa memberikan racikan obat karena tidak ada resep. Atau sudah ada perawat dan diperiksa oleh dokter namun tidak ada apoteker, tentu saja pasien tersebut tidak akan terobati penyakitnya dan tetap dalam keadaan sakit..
Buat para calon apoteker atau orang-orang jurusan farmasi, kalian sangat penting. Kalian sejajar dengan orang-orang berjas putih (baca: Dokter). Dan tak ada yang bisa menggantikan kalian. Terutama dalam meracik… (apapun itu)
Tag: interpretasi
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
FF Haq: Bagus
-
Die Key belajar nulis: Responsif
-
sisca civitas: Bagus
-
m2t: Bagus
-
rina: Bagus
Komentar:
jdi g ngerti.... he.
Silahkan login untuk memberikan pendapat