DEMO MAHASISWA MEWARNAI PILREK UNAIR 2010 15
Senin, 10 Mei '10 16:59
Sore yang tampak lenggang. Tepat jam dua siang pada 16 April 2010, dari arah belakang perpustakaan umum Unair kampus B, berjejer demonstran yang mulai menyeruakan tuntutan mereka. Mengatasnamakan Forum Mahasiswa Demokrasi yang peduli dengan transparasi kampus. Radit dari Fakultas Hukum yang berhasil diwawancarai Team Red mengatakan “Tujuan aksi ini adalah untuk menuntut transparasi Pilrek dari adanya proses tertutup penyeleksian 12 Carek sampai keputusan 3 Carek tingkat senat akademik”. Dari keterangan diatas sudah jelas tergambar bahwa Universitas Airlangga kembali mengadakan pemilihan rektor yang terselenggara pada awal Maret dan akan berakhir pada Juni 2010. Kegiatan itu terstruktur secara beruntun dan sistematis. Untuk panitianya sendiri dari kalangan birokrasi dan ada sebagian kecil dari perwakilan mahasiswa yang terbentuk dalam PSCR (Panitia Seleksi Calon Rektor). Semua aktifitas dan sirkulasi pemilihan rektor berkantor pusat di kampus C atau lebih spesifik di gedung rektorat.
Namun, bagi kalangan aktifis mahasiswa, pemilihan rektor dipandang tidak adil karena tidak melalui system transparasi kampus, itulah yang mendasari adanya demonstrasi yang terjadi pada 16 April 2010 lalu. Sedangkan dalam Keputusan Presiden Nomor : 257/M Tahun 2001 tentang Pengangkatan Rektor Universitas Airlangga diatur oleh senat akademik universitas. Dari keterangan Dekan Fakultas Ilmu Budaya mengatakan “tugas mahasiswa adalah belajar. Urusan pilrek sudah diatur oleh birokrasi atau pemerintah kampus. Apalagi mahasiswa punya wakil satu suara yang berasas representative dan di wakilkan kepada BEM Unair. Kalau mahasiswa yang menentukan, Rektor buyar.” Sedangkan berdasarkan pandangan BEM Unair mengenai Pilrek menyatakan bahwa proses penyeleksian 12 Carek menuju 3 Carek, mahasiswa harus ikut terlibat dalam pemilihan secara langsung. Menurut Nurudin, wakil ketua BEM Unair dari Fakultas Hukum mengatakan “lebih khususnya, mahasiswa disini diizinkan untuk mengetahui proses penyeleksian sampai ke 3 Carek, apalagi kami berharap nantinya ada perwakilan yang bisa masuk ke tataran senat akademik. ” Nurudin menambahi, adanya demonstrasi itu, juga mengajak bergabung untuk mengadakan konferensi pers serta dalam perwujudan transparasi pilrek Unair 2010. Namun dari BEM Unair menolak sebab forum tersebut tidak ada legalitas dari konstitusi Unair. Dengan adanya berbagai polemik, maka dari kalangan BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan DLM (Dewan Legislatif Mahasiswa) Unair, telah sepakat dan memutuskan untuk mengawal jalannya pemilihan umum rektor Unair dengan berlandaskan dan menjunjung tinggi independensi serta kejujuran.
Dari uraian diatas, BEM dan BLM yang mengatasnamakan mahasiswa Unair memulai untuk melakukan pengawalan jalannya sosialisasi pemilihan rektor sampai penetapan rektor yang terpilih oleh MWA (Majelis Wali Amanat). Bentuk pengawalan ini, terbagi menjadi enam tahap. Tahap yang pertama adalah Uji Masyarakat Kampus yang berada di ruang Garuda Mukti lantai 5 Gadung Rektorat. UMK ini dilaksanakan pada tanggal 12-13 April dan bertujuan untuk mengupas profil, visi dan misi dari 12 calon rektor. Tahap selanjutnya dari pengawalan pemilihan Rektor BEM dan BLM membutuhkan banyak dana, sehingga pada tanggal 12-16 April, BEM dan BLM sepakat melakukan pencarian dana swadaya yang murni dari mahasiswa karena menghindari isu jika pengawalan ini ditunggangi oleh salah satu calon rektor. Selanjutnya pada tanggal 15 April ada meet and share pilrek versi mahasiswa. Pada 16 dan 17 April ada pilrek versi mahasiswa sekaligus publish ke media hasil pilrek versi mahasiswa. Serta yang terakhir, pada 26-30 April ada fit and proper test dan penetapan 3 calon rektor. Sejauh ini ada pergantian meet and share pada 23 April. Akan tetapi acara tersebut digagalkan oleh panitia sebab yang datang hanya satu carek saja. Sedangkan kabar saat ini, proses Pilrek, dari PSCR sendiri mengatakan bahwa tim PSCR belum menemukan pelanggaran yang ada pada carek. Untuk pilrek versi mahasiswa, ternyata baru bisa dilaksanakan pada tanggal 26 April 2010, dan dari Fakultas Ilmu Budaya mendapat jatah 240 suara, dan langsung setelah penyebaran kartu suara, akan dihitung bersama. Ketua BLM Fakultas Ilmu Budaya mengatakan “menurut saya pribadi, adanya jatah satu suara mahasiswa saat pilrek ke tiga besar, hanya sebagai taktik untuk meredam mahasiswa. BLM merasa kesulitan sebab dalam upaya pemilihan Calon Rektor versi mahasiswa ini, tempat suara di segel oleh Rektorat.” Tutur mahasiswa Ilmu Sejarah yang bernama Aris Setiawan. Mari kita tunjukkan bahwa mahasiswa adalah manusia intelek dan kritis dalam berfikir dan bersikap. Hidup mahasiswa!!!
Tag: birokrasi
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
nenden pabelanis: Responsif
-
andi_tulungagung: Responsif
-
FF Haq: Penting
-
sisca civitas: Perlu
-
Oo Zaki: Penting
-
Die Key belajar nulis: Responsif
-
Rizki: Responsif
-
Wahyu Eko P: Bagus

Komentar:
pola pikir apa yg sharusnya mhsiswa pegang ya???
hahaha..
iya neh, kemarin juga di unair baru saja ngadain diskusi tentang arah kebijakan BHMN setelah penolakan BHP di pihak rektorat...
but, tambah Ge_Je !!!
tpi, klo pingin jadi orator yg handal, blajarlah dari guru CICERO, Molon adalah sosok guru yg brhasil mmbina mruidx dgn 3 kata, "penyampaian, penyampaian dan penyampaian". (bca novel IMPERIUM)
woek..kemarin kamu nampak angun dengan sayap sepirit yang agak layu,,
dengan wajah yang agak senduh..
sedikit lagi..sabarlah kawan..sebentar lagi,,kamu bakal menemukan apa yang slama ini kamu cari+risauhkan...
hehehe...
zzzzz.... aduhh, yg lg kasmaran...
ini tulisan straight news?
Silahkan login untuk memberikan pendapat