Worker Market Fair di Negeri Impian 2
Rabu, 5 Mei '10 08:06
Hari Minggu, alangkah indah rasanya. Saya berjalan-jalan di negeri impian menghabiskan sisa waktu hari libur saya untuk melihat-lihat acara perayaan hari Korporasi Sedunia yang ditandai dengan adanya acara Worker Market Fair (WMF). WMF adalah acara yang mempertemukan antara pegawai dan pencari pegawai di mana Para Direktur dari berbagai perusahaan akan berusaha memperebutkan pegawai-pegawai untuk bekerja di perusahaan mereka. Mereka akan melakukan segala macam cara mulai dari menawarkan gaji hingga tunjangan seumur hidup. Ada juga yang memakai cara curang dengan membuat isu jelek tentang perusahaan-perusahaan tertentu. Apapun dipakai asal bisa mendapatkan pegawai bagi perusahaan mereka.
Acara WMF diadakan di Pusat kota. Ketika saya melihat tempat parkirnya yang luas, saya seperti memasuki sebuah pameran saja, bahkan lebih mewah dari show room yang pernah saya kunjungi. Mulai dari mobil mewah, helicopter hingga jet mewah berbaris dengan rapi. Camera saya yang sangat minim mungkin tidak cukup untuk memotret semua kendaraan bagus tersebut. Maklum kapasitasnya yang cuman 64 Terra Byte tidak cukup untuk memotret semua kendaraan ini.
Di luar begitu rapi dan indah, namun ketika memasuki ruangan acara, ternyata suasananya sangatlah berbeda. Di dalam suasananya tampak begitu ramai, bejubel dan terasa kurang tertib. Dimana-mana tampak wajah-wajah yang tertekan. Suasana ini mengingatkan saya pada suatu tempat ketika saya sedang berada di negeri saya sendiri. Saya tidak tahu dimana tapi serasa seperti ada yang mirip.
Di sebelah sana ada seorang manager yang berusaha berlatih memberikan presentasi terbaik. Di sisi lain ada seorang yang tampak seperti direktur yang sibuk menata pamflet-pamflet. Kemana gerangan pendamping dari direktur ini? Kenapa dia hanya berdiri sendiri?
"Saya sudah sangat putus asa." Kata direktur tersebut ketika saya hampiri. "Sekretaris saya satu-satunya sudah pergi untuk pindah ke perusahaan lain yang menawarkan jet pribadi sebagai kendaraan antar jemput. Saya tidak bisa bersaing dengan perusahaan-perusahaan besar itu. Untuk saat ini saja saya sudah kehilangan 3 pegawai andalan saya. Bila saya tidak bisa menggantinya melalui acara ini, maka saya akan memilih untuk menjual perusahaan saya."
Disisi lain tampak di deretan kursi tunggu, sekitar 10 orang berdasi. Sepertinya mereka adalah para direktur dari perusahaan luar daerah. Masing-masing membawa tas yang penuh. Keringat dingin mengucur di kening mereka. Tampaknya mereka sedang menunggu panggilan wawancara. Perusahaan luar daerah kurang disukai para pegawai, oleh karena itulah tampaknya mereka sangat kuatir.
"Saya sudah lima tahun bekerja dengan pegawai yang sedikit." Kata Direktur pertama yang saya temui. Dia duduk di deret paling akhir. "Saya sudah mencoba membuat surat proposal penawaran, tapi tidak ada satupun pelamar yang mau melamar di perusahaan saya. Bahkan saya sudah mendatangi rumah mereka satu-persatu, tapi hasilnya nihil."
Dia mengusap keningnya dengan sapu tangan sebelum melanjutkan. "Walaupun saya mengharapkan pegawai yang berijasah S1, tapi jika seandainya saya mendapatkan pegawai dengan ijasah SMA-pun pasti saya terima. Pegawai apapun pasti akan saya terima, yang penting saya dapat pegawai. Saya berani menggaji tinggi asalkan mereka mau bekerja di tempat saya."
Selang beberapa waktu, tampak ada seseorang yang keluar dari ruangan wawancara.
"Benar-benar tidak dapat diterima!" kata orang itu dengan sedikit suara yang agak keras. Sayapun menghampirinya untuk menanyakan apa yang terjadi. "Saya tahu saya berasal dari perusahaan kecil, tapi saya tidak rela direndahkan seperti ini. Lebih baik saya berdiri di lampu merah untuk menyebar lowongan daripada datang ke sini."
Orang itu merapikan pakaiannya dan kemudian diapun mulai bercerita kepada saya tentang apa yang dia alami. "Tadi saya sudah diwawancarai. Saya tahu bahwa orang yang didalam sana memang seorang calon pegawai yang sangat kasar, tapi saya tidak mengira bahwa dia akan berkata seperti itu. Dia mengatakan bahwa dia akan bekerja di perusahaan saya asal dia digaji 25 juta perbulannya. Saya tidak mampu menggaji segitu dan bermaksud bernegosiasi, tapi lalu dia bilang bahwa masih banyak perusahaan yang mengantri di belakang dan dia tidak punya waktu untuk bernegosiasi. Dia bahkan tidak memberi saya kesempatan untuk menjelaskan perusahaan yang saya miliki."
Tidak lama kemudian, direktur itupun pergi setelah memberi salam. Dan sayapun kembali duduk di deretan kursi tunggu. Satu persatu para direktur keluar dan masuk tempat wawancara dimana mereka akan bertemu calon pegawai mereka. Ada yang gembira karena akhirnya dapat pegawai, tapi sebagian pulang dengan harapan bahwa mereka akan ditelepon.
Negeri impian saat ini memang sedang krisis. Jumlah pengangguran sudah turun hingga dibawah angka Nol. Itu artinya jumlah pegawai yang ada tidak mencukupi untuk jumlah perusahaan yang begitu besarnya. Setiap tahun para direktur perusahaan berusaha melakukan yang terbaik di acara ini dengan harapan mereka bisa dapat pegawai. Kebutuhan pegawai di negeri ini mencapai angka 20 Juta per tahun. Pemerintah mengatakan bahwa mereka sudah mengurangi jumlah kekurangan pegawai, tapi banyak pihak yang tidak percaya dengan standard yang diberikan pemerintah.
"Seharusnya pemerintah mengubah kebijaksanaan tentang kepegawaian." Salah seorang dari direktur yang duduk di sebelah saya mulai bercerita. "Kebijaksaan pemerintah tentang outsourcing telah membuat perusahaan kalang-kabut. Sangat sedikit sekali pegawai yang mau memperpanjang kontraknya. Mereka lebih memilih untuk berpindah ke perusahaan lain yang gajinya lebih besar."
"Bukankah pemerintah sudah mengurangi jumlah outsourcing dan tidak membolehkan outsourcing kecuali pada bidang pekerjaan yang sifatnya tidak permanen." Saya mengomentari ucapan Direktur tadi.
"Memang demikian," jawabnya. "Tapi perusahaan sekarang banyak yang bermain curang, mereka menerapkan outsourcing hampir pada semua tempat, selain itu para pegawai tampaknya lebih memilih outsourcing karena dengan begitu mereka bisa pindah pekerjaan seenaknya. Tidak ada yang mau jadi pegawai tetap, semuanya ingin jadi pegawai kontrak. Perusahaan-perusahaan pun saling berlomba agar pegawai dari perusahaan lain segera pindah ke perusahaannya bila kontrak mereka sudah habis."
"Bagaimana dengan kebijakan pengangkatan pegawai tetap." Tanya saya.
"Itulah Dik." Jawab Direktur. "Saat ini pemerintah menerapkan peraturan bahwa pegawai yang dikontrak lebih dari dua kali, harus diangkat jadi pegawai tetap. Tapi kebanyakan pegawai tidak mau dikontrak lebih dari itu, mereka akan langsung pergi begitu kontrak habis. Seharusnya pemerintah menerapkan peraturan bahwa kontrak hanya berlaku sekali kali dan setelah itu pegawai itu harus diangkat jadi pegawai tetap. Sehingga dengan demikian perusahaan tidak akan kesulitan mencari pegawai."
Mendengar perkataan itu, saya jadi terharu. Melihat keadaan perusahaan-perusahaan disini yang sangat kesulitan mencari pegawai. Sudah banyak para manager dan direktur perusahaan yang bunuh diri karena tidak kuat menanggung beban perusahaan.
Setelah lama duduk dan berbincang, akhirnya saya memutuskan untuk berjalan-jalan. Tempat ini ternyata lebih luas dari yang saya kira. Setiap sudut selalu ada saja meja yang terisi oleh para pegawai yang sibuk mewawancarai para direktur yang ingin merekrut mereka. Setiap calon pegawai biasanya memiliki lima sampai 10 antrian. Namun ada yang sampai lebih dari 10 sehingga banyak juga yang harus berdiri.
Rasanya saya ingin berada lama di sini, karena saya belum berbincang-bincang dengan para calon pegawai, kalau saja saya tidak menerima telepon dari teman yang menyuruh saya pulang segera.
"Tanggal 6 Mei nanti akan ada demo para Korporat." Kata teman saya di telepon "Mereka rencananya akan mogok tidak mau lagi memimpin perusahaan karena banyaknya pegawai yang menuntut gaji tinggi dan banyak pegawai yang hanya bekerja kurang dari setahun. Kalau tidak pulang sekarang, nanti kamu tidak akan bisa pulang, karena bandara akan tutup. Jalan-jalan akan macet. Para demonstran berencana akan menutup jalan dengan membakar limousine dan pesawat jet. Mereka juga akan menaruh Ferary, Jaguar, serta BMW di tengah jalan. Beberapa diantaranya akan mogok makan hingga pemerintah menghapus kebijakan outsourcing dan pegawai kontrak. Mereka ingin agar semua pegawai menjadi pegawai tetap agar mereka tidak kebingungan mencari pegawai bila pegawai memutuskan untuk berhenti setelah kontrak mereka habis."
Mendengar saran teman saya dari telepon itu, sayapun langsung memutuskan untuk pulang segera. Sebenarnya saya masih ingin berada di sini. Tapi sudahlah, lebih baik saya pulang saja dari pada nanti jalanan macet dan terjadi kerusuhan.
Walaupun kecewa tapi setidaknya saya masih bisa mengambil gambar unik. Karena ternyata di lampu merah sana terlihat seorang direktur yang menyebarkan pamflet perusahaannya. Sepertinya itu adalah direktur yang tadi. Tidak jauh dari situ terlihat sebuah helicopter yang sedang diparkir, pasti itu milik sang direktur. Mungkin gambar ini akan menjadi gambar perpisahan sebelum saya pulang.
Klik, Klik, Klik
Selesai.
Tag: buruh, pegawai, job, market, fair, impian, gaji
Terkait:
-
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial Bermasalah
Sabtu, 7 Mei '11 14:15 -
Muasal Hari Buruh Internasional (Mayday)
Minggu, 1 Mei '11 17:12 -
Buruh Tolak Kriminalisasi
Rabu, 27 Apr '11 19:40
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
FF Haq: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat