SALAH ASUH 0
Jumat, 30 Apr '10 11:15
Suatu pagi saya duduk di sebuah kedai kopi bertenda. Memesan satu gelas kopi dan saya lirik telepon genggam menampilkan angka digital 08.35 WIB.
Saya berada di kawasan elite Kelapa Gading, Jakarta Utara. Tepat di bagian tepi kali sunter yang airnya tak mengalir dan ... hijau! Undakan tanah atau sampah? Yang menutupi tiga per empat lebih lebar kali? Saya perhatikan seksama, dua-duanya. Spontan saya ogah melanjutkan pandangan ke arah sana lagi. Lantas saya menyapu para pedagang berjejer, dari mulai pedagang bubur ayam, gado-gado, nasi bebek, dan aneka minuman. Menemani saya, seorang pria berperawakan keras, merokok, seraya memunggungi kali Sunter yang tak menentu nasibnya tersebut.
Lebar jalan aspal sekitar 10 meter memisahkan antara kedai kopi bertenda tersebut dengan gedung megah milik "Mahatma Gading School" bertaraf internasional. Semua papan petunjuk tertulis dalam bahasa Inggris. Di gerbang utama, tertera telapak tangan memegang beberapa lembar uang di dalam lingkaran yang tercoreng garis diagonal, "NO TIPPING!" Perintah kalimatnya. Tidak diperkenankan ada pungutan liar bagi kendaraan yang akan keluar-masuk gedung sekolah.
Masih senggang rupanya ketika pandangan saya ikut "berekreasi" memandangi salah satu buah pembangunan paling fenomenal di kawasan Jakarta Utara tersebut. Beberapa anak remaja memakai kostum merah, bermain basket. Bangunan putih di depan mereka menggantung sebuah pengumuman besar, kira-kira banner 5 x 4 m, tentang seleksi olimpiade science nasional. Sekolah ini terdiri dari tiga gedung utama, dengan satu bangunan paling mencolok sendiri berwarna kuning di sebelah utara. Meski hanya dibatasi lebar jalan sepanjang kurang lebih 10 meter, tak tahu kenapa, jarak antara diriku di kedai kopi dengan bangunan-bangunan bersih nan rapi tersebut kuperkirakan lebih jauh lagi.
Kawasan industri yang mengelola impor berada tak jauh dari bangunan sekolah. Sekaligus ia juga bersebrangan dengan perumahan TNI AL Di Jl. BGR Boulevard, Kelapa Gading, Jakarta Utara ini segala-galanya tampak timpang satu sama lain. Dagangan rakyat tetap memenuhi tepi-tepi jalan, berhadapan langsung dengan muka apartemen, perkantoran, dan swalayan. Bagaimana pun, mereka berjualan tahu akan adanya permintaan. Mereka sangat yakin bahwa kebutuhan banyak orang di Jl. BGR Boulevard belum sebanding dengan dunia elite Kelapa Gading. Mereka menjajakan satu porsi makanan setara Rp 7.000 sampai Rp 10.000. mereka menyediakan kopi dengan Rp 2.000. Maka, ketika siang saya dating ke tempat ini, pemandangan aneh bakal terlihat. Siapa mereka, berdasi atau tidak, menyemut di pinggir tenda-tenda dengan pemandangan kali Sunter. Sesungguhnya fasilitas Kelapa Gading yang telah ditancapkan segelintir manusia itu tak sepenuhnya digunakan, bahkan dipikirkan penghuninya. Itu bagi mereka yang bekerja. Lantas, bagaimana nasib yang menganggur?
Kalau ingin mencapai wilayah Koja dari tempat saya bersantai meneguk kopi ini, kita cukup menempuh jarak beberapa kilometer saja. Tengoklah kawasan Rawa Badak, Koja. Di sanalah nasib orang-orang yang setiap harinya sibuk menunduk, meratapi nasib, dan menyesali kondisi para pendatang yang meluncur dengan sedan mewah yang memanaskan aspal dan udara sepanjang jalan. Warga Rawa Badak "hinggap" di belakang Depot Pertamina Plumpang. Dan tahukah apa artinya hidup seperti itu? Yaitu, membeli air untuk minum dan mandi, kalau memang beberapa dari mereka ada yang cukup beruntung secara ekonomi. Hidup mereka bertambah-tambah pilunya tatkala virus konsumerisme mewabah seiring didirikannya pusat perbelanjaan di kawasan Kelapa Gading. Logika pelaku pasar bebas memang mudah ditebak, mereka akan bersaing satu sama lain, tanpa pandang bulu siapa yang akan mereka jerat untuk membeli. Sayang seribu sayang, warga Rawa Badak tertangkap jaring mereka dan secara sistematis dilupakan dengan kemelaratannya.
Dan ... ketika "harta" mereka satu-satunya mau dirampok pula, kita pun saksikan Koja berdarah-darah. Mereka bilang: "Tak ada yang bisa membongkar 'Mbah Priok'!
Buat kalian yang takut bisnis dan citra politiknya hancur berantakan, segera pikirkan itu. Kalau tidak, boleh jadi yang tewas bukan hanya petugas (Satpol PP). Salah sendiri.
Tag: koja, satpol pp, kelapa gading
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Wahyu Eko P: Perlu
-
ketoles ARBIMAPALA: Bagus
-
Rizki: Bagus
-
sisca civitas: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat