CAMPUS CATWALK 19

Selasa, 27 Apr '10 02:23

Beda konteks beda zaman, beda zaman beda pula modenya. Sepenggal ungkapan tersebut cukup mampu untuk menggambarkan mode pakaian mahasiswa STAIN Tulungagung saat ini.

Tidak salah jika ungkapan tersebut mewakili dunia berpakaian mahasiswa saat ini. Bila di era Reformasi mode berpakaian mahasiswa diidentikkan dengan rambut gondrong, kaos oblong, celana bolong-bolong dan sandal jepit (apalagi sandal thiklek/bangkiak). Setelah 12 tahun reformasi, mode berpakaian mahasiswa pun berubah. Nah, di era inilah mode berpakaian diidentikkan dengan celana pensil ataupun legging, wow...!.

Mode berpakaian inipun juga menjalar di kalangan mahasiswa STAIN Tulungagung. Hal ini terbukti dengan semakin banyaknya mahasiswa baik laki-laki maupun perempuan memakai celana pensil atapun legging. Berbagai tanggapan mahasiswa yang memakai celana pensil pun terlontar terkait dengan kode etik yang berlaku di STAIN Tulungagung, "Saya rasa memakai celana pensil itu tidak menyalahi kode etik,, karena buat aku memakai celana pensil itu mengikuti perkembangan zaman atau model aja, dan dengan memakai pensil aku merasa lebih nyaman, lebih mudah dalam berekspresi. Lagian yang pakek celana pensil itu lebih baik dari pada yang pakek celana legging", Ungkap Yuni (PGMI/III) santai.

Hal senada juga diungkapkan oleh Richa (PGMI/III),"Yang penting kita itu PD dan nyaman. "ojo terlalu ndheso" dan walaupun pakek pensil saya masih mengikuti kode etik dengan bersepatu. Lagian kita pakai pensil juga ga' merugikan orang lain kok!".

Menanggapi semakin banyaknya mahasiswa yang memakai celana pensil, Ali Rohmad selaku Pembantu Ketua II angkat bicara," Saya rasa mahasiswa yang memakai celana pensil itu menyalahi kode etik karena dalam kode etik disebutkan kalau mahasiswi dilarang memakai baju atau celana yang ketat dan membentuk lekukan tubuh, Dan hal inipun sudah kami diskusikan dengan para dosen lain".

Memang dalam kode etik mahasiswa STAIN Tulungagung telah tercantum secara jelas bahwa bagi mahasiswa putri dilarang memakai baju atau celana yang ketat dan membentuk lekukan tubuh, nah, bagaimana dengan mahasiswa laki-laki yang memakai celana pensil yang notabene juga ketat, apakah tidak ada peraturannya?. Dalam hal ini kebijakan dari birokrasi sangat dinanti. Apakah nantinya nama STAIN (Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri) seiring dengan fenomena celana pensil dan legging yang semarak akan diganti dengan STAIIN (Sekolah Tinggi Agama Insyaallah Islam Negeri).

Mengenai sejauh mana pihak kampus STAIN Tulungagung memberikan  sanksi kepada mahasiswa yang memakai celana pensil, Ali Rohmad memberikan tanggapan, "Mengenai sanksi yang diberikan. Kami menyerahkan secara langsung kepada kebijakan para dosen itu sendiri, apakah akan dikeluarkan dari kelas atau tetap dibiarkan mengikuti mata pelajarannya. Dan hak ini juga tidak hanya diberikan kepada dosen tetapi kepada wali study juga untuk memberikan sanksi kepada mahasiswa. Dan sampai saat ini pelaksanaan itu belum maksimal".

Dari tanggapan Ali Rohmad tersebut terlihat kurangnya keseriusan dari pihak birokrasi kampus dalam menjalankan kode etik. Buat apa adanya sebuah kode etik jika tidak dipatuhi oleh civitas akademika STAIN Tulungagung. Mungkin kita akan teringat sebuah peribahasa hokum, "Sebuah Peraturan Dibuat Untuk Dilanggar". Kita nantikan cerita selanjutnya, apakah kampus Islam pinggiran ini akan menjadi sebuah Catwalk bagi modelis-modelis kampus yang selalu Up-date dengan perkembangan trend mode dewasa ini.(Adib Tamami)

 


Tag: fenomena kampus islam

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

ppmi_ta 0 0
astaghfirullahal adzim.....
kafi pasti senang lihat fenomena ini
aziz 0 0
saya cukup menarik...
ppmi tulungagung sukses
tetap dukung andi mahifal sebagai calon sekjend ppmi nasional...
nenden pabelanis 0 0
jangan2 aku termasuk modelnya lagii...
(doh)
The President's 0 0
nenden pabelanis: UDAH SIAPKAH ANDA MENJADI ARTIS.....?
Kyo 0 0
ahahahaha
gak bisa ngomong apa-apa...
tapi emang bener juga seh....
nenden pabelanis 0 0
The President's: artis apa dulu nih?
artis kamar mandi? atau artis apa?
haahaa..
kalau artis dalam arti pekerja seni, why not?
gini2 bapakku lulusan seni rupa.. hahahha
sisca civitas 0 0
ehmmm,, ssah jg
klo g dr dri sndiri kalee ya?
sya jg kdng mngabaikan aturan brpkaian..
bkan legging jelas..,, tp sendal jepitan... he...!
diaz..bram 0 0
realita yang terjadi di banyak kampus....
andi_tulungagung 0 0
aziz: kok wani2ne nggawe isu ki
fu'ah DIMENSI 0 0
nenden: ngapain bawa nama bapak segala????
Andi_: biarlah... ntar siapa tahu yang mau mendirikan butik tambah banyak.
siska: gaya lu.... sip!
andi_tulungagung 0 0
layo
sisca civitas 0 0
mas andi : 'layo' iku mksudte opo toh?
aziz 0 0
la iyoo
andi_tulungagung 0 0
sisca civitas: yopi ckckckckck
qiqi_dimensi 0 0
lagian ditko sekarang jarang yang jual clana komprang/borju, kbykan jual clna pensil...
andi_tulungagung 0 0
qiqi_dimensi: layo tp kl matching gt ya bagus2 saja cih cm masalhnya kebnyakan mereka hanya ikut2tan&reaksioner
Die Key belajar nulis 0 0
penjajahan gaya baru
andi_tulungagung 0 0
Die Key belajar nulis: buleh....4x
Dick 0 0
MODERN VERSI........?

Silahkan login untuk memberikan pendapat