Ikhlas Dalam Ke-tidak-tahu-an 2

Minggu, 25 Apr '10 11:24

Akhir-akhir ini kasus Gayus Tambunan selalu menghiasi headline media massa di tanah air. Pasalnya, pegawai pajak yang menuntut rakyat membayar pajak, justru melakukan korupsi. Sebagai aksi protes, para aktivis dari berbagai elemen masyarakat mengadakan himbauan boikot pajak. Lalu, bagaimana tanggapan masyarakat “kecil” atas sikap para pejabat yang korupsi uang rakyat?.

Berikut wawancara khusus saya dengan bapak Samsuri (pedagang nasi “kucing”).

Sejak kapan bapak berjualan ditempat ini ?

Saya sudah kurang lebih dua tahun berjualan didepan APMD ini, namun sebelumnya saya berjualan di Wonosari, dan rumah saya ada di Klaten, tepatnya di kecamatan cawas.

Mengapa Bapak pindah dari Wonosari ?

Disana sudah banyak yang jualan, selain itu juga tidak terlalu banyak yang beli seperti disini.

Adakah penarikan pajak atas jualan bapak selama ini ?

Saya bayar Rp. 7.500.00,- per bulan kepada kecamatan, namun izin pemakaian tempat jualan dikeluarkan oleh Pol PP. Katanya uang itu akan digunakan untuk kebersihan.

Berapakah penghasilan bulanan bapak selama berjualan angkringan ini?

Ya, kalau itu tidak menentu, kadang kalau banyak yang beli, ya kemungkinan ada untungnya. Tapi kalau sepi, ya terpaksa harus rugi, karena harus bayar uang kebersihan Rp. 7.500.00,- dan uang listrik Rp. 30.000.00,-. Jadi saya harus bayar Rp. 37. 500.00,- per bulan. Nggak tahu rugi atau untung, ya harus dibayar.

Jika mengalami kerugian, dengan apakah bapak menutupi kerugian itu?

Kan masih ada sumber lain untuk mendapatkan uang. Saya memiliki sawah dan saya tanami padi, itu panennya kalau lancar bisa tiga kali se-tahun. Dan kalau diuangkan bisa mencapai Rp. 12. 000.000.00,-. Artinya, tiap panen bisa memperoleh satu ton gabah, kalau dijual bisa mencapai Rp. 4.000.000.00,- satu kali panen. Jadi kalau di kali tiga, maka dapat menghasilkan RP. 12.000.000.00,-

Uang yang didapatkan dari hasil panen, dipergunakan untuk apa saja Pak?

Pendapatan Rp. 12.000.000.00,- itu, masih dalam hitungan kotor. Karena belum lagi uang tractor, uang penanaman, pemupukan, dan pemeliharaan lainnya. Selain itu, saya memiliki anak empat, yang dua sudah berkeluarga. Namun yang duanya masih sekolah dibangku SMK sehingga saya harus membiayai sekolah mereka.

Selain biaya pemeliharaan mulai dari tractor hingga panen dan membiayai uang sekolah anak-anak. Apakah bapak juga membayar pajak untuk lahan yang bapak miliki?

Ya, tentu karena dimintai trus sama pemerintah. saya membayar RP. 500.000.00,- per tahun. Karena saya memiliki tanah, ada tanah berupa sawah dan tanah pekarangan termasuk bangunan rumah tempat saya tinggal.

Apakah bapak pernah tidak membayar atau terlambat membayar pajak?

Nggak pernah, karena ditagih trus sama pemerintah. jadi kalau sudah mau panen mereka sudah mengingatkan untuk membayar pajak, sehingga tidak ada alasan untuk tidak membayar.

Apakah bapak  pernah dengar, jika pegawai pajak di pusat mengkorupsi uang pajak dari masyarakat?

Wah, saya tidak tahu, tahu saya ya, jualan saja.

Jadi, gini nih pak. Pemerintah yang selama ini menarik pajak dari rakyat ternyata dikorupsi oleh mereka, bagaimana tanggapan bapak atas hal ini?

Ya, ikhlaskan saja. Saya sudah ikhlaskan.  Biar mereka korupsi atau digunakan untuk apa juga, terserah mereka, yang penting saya tetap bayar karena diminta. Biar mereka pertanggungjawabkan nanti diakhirat.

Demikianlah hasil wawancara khusus saya dengan bapak Samsuri, dari kecamatan Cawas, Kabupaten Klaten-Jawa Tengah. Saat ditemui ditempat jualannya di jalan timoho (persis didepan STPMD Yogyakarta). Adapun bapak berusia 56 tahun ini adalah lulusan SMP Marhaen pada jaman presiden Soekarno. Yang saat ini, sekolah tersebut sudah beralih menjadi sekolah Negeri 3 Cawas.

 


Tag: berita

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

nenden pabelanis 0 0
hmm.. orang-orang kecil seperti pak samsuri tuh, seringkali lebih bijak..
Pipilia Sinergi 0 0
andai saja dunia di penuhi sifat ky pak samsuri.....?????
like this....

Silahkan login untuk memberikan pendapat