Pentingnya Memosisikan Diri 1
Sabtu, 24 Apr '10 14:47
PENTINGNYA MEMOSISIKAN DIRI
Bentrokan (14 April 2010) yang belum lama ini terjadi antara Satuan Polisi Pamong Praja (Satpol PP) dengan warga Koja meninggalkan memori kelam bagi bangsa Indonesia. Kejadian yang juga menyisakan korban jiwa itu benar-benar mengetuk hati rakyat Indonesia. Betapa negeri ini dirundung duka nestapa yang tiada henti-hentinya. Satpol PP yang sejatinya berfungsi sebagai aparatur pemerintah tidak bisa memosisikan (positioning) dirinya dalam kasus ini. Di sisi lain warga Koja yang kapasitas mereka sebagai rakyat biasa kurang bisa menempatkan diri mereka dalam perkara itu.
Di sinilah sebenarnya letak urgensi memosisikan diri dalam pelbagai keadaan dan perkara. Dalam kehidupan bermasyarakat tentu kita mengenal istilah keadilan. Secara bahasa adil berarti menempatkan sesuatu pada tempatnya. Dalam kasus di atas kedua kubu yang bersengketa tidak bisa menempatkan sesuatu pada tempatnya. Pemerintah kota (pemkot) DKI yang dalam hal ini diwakili Satpol PP belum bisa menjalin hubungan yang harmonis dengan warga Koja. Begitu juga warga Kota, nampaknya sikap egois masih dikedepankan dalam masalah yang membutuhkan kedewasaan berfikir dan kearifan dalam mengambil keputusan.
Kekerasan (violence) seharusnya menjadi alternatif terakhir dalam menyelesaikan masalah manakala solusi yang bijak tidak ditemukan. Hal itupun dilakukan dengan penuh pertimbangan moral kemanusian dan ketuhanan. Bukan kekerasan yang anarkis yang mengakibatkan korban jiwa, kerugian materi, kejeraan sosial yang akan memperkeruh stabilitas pemerintah. Tidak juga berarti baku hantam antara dua kubu yang masing-masing seolah berfikir mau menang sendiri tanpa memikirkan efek negatif di balik semua itu.
Sebagai aparatur pemerintah selayaknya Satpol PP mampu membangun kharisma dan wibawa di mata masyarakat. Kedatangan mereka ke lokasi yang menjadi sengketa itu seharusnya sudah memberikan kesan kepada warga bahwa masalah itu akan diselesaikan dengan jalan damai. Tujuan mereka datang adalah demi terselesainya masalah bukan justru manambah masalah. Mengatasi masalah jangan dengan masalah dong. Bukan juga berarti perang antara kedua kubu akan dilakukan. Tidakkah malu bangsa ini berperang saudara di negeri sendiri. Bukankah jalan lain yang arif masih bisa ditempuh.
Di sisi lain, masyarakat Koja sebagai warga negara yang baik seyogyanya mampu menciptakan kondisi yang santun menyambut kedatangan Satpol PP ke daerah mereka. Bukan justru menjustifikasi bahwa pemerintah menginginkan perang dengan mengirimkan pasukannya ke daerah mereka. Sehingga sebisa mungkin kerusuhan itu dapat dihindari alias dinetralisir. Hal ini karena sikap saling menghargai, menghormati dan mengerti posisi diri merupakan cara ampuh untuk dapat menyelesaikan masalah yang terjadi. Kita semua berharap semoga kejadian serupa tidak pernah lagi terjadi di negeri ini. Cukuplah kiranya kita mengambil pelajaran dari peristiwa yang ada dan mecoba memosisikan diri dalam setiap perkara yang kita hadapi.
Samsul Zakaria
Mahasiswa Jurusan Hukum Islam UII
Tag: opini
Terkait:
-
Kampusku Bukan Sarang Teroris
Rabu, 4 Mei '11 12:43 -
Hati dan Harga Diri
Sabtu, 13 Feb '10 20:43 -
Kita koalisi juga donk!
Kamis, 22 Okt '09 12:35
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sisca civitas: Perlu
-
faruq pabelanis: Biasa
-
andi_tulungagung: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat