PAULO FREIRE DAN KEMERDEKAAN PENDIDIKAN 8

Kamis, 22 Apr '10 22:52

Paulo freire lahir pada 19 September 1921 di Recife, Timur Laut Brasilia. Setamat sekolah menengah, Freire kemudian belajar Hukum, Filsafat, dan Psikologi. Sambil kuliah, ia bekerja “part time” sebagai instuktur bahasa Potugis di sekolah menengah. Ia meraih gelar doktor pada tahun 1959 lalu diangkat menjadi profesor. Dalam kedudukannya sebagi dosen, ia menerapkan system pendidikan “hadap-masalah” sebagai kebalikan dari pendidikan “gaya bank”. Sistem pendidikan hadap masalah yang penekanan utamanya pada penyadaran peserta didik menimbulkan kekuatiran di kalangan para penguasa. Karena itu, ia dipenjarakan pada tahun 1964 dan kemudian diasingkan ke Chile. Pengasingan itu, tidak membuat idenya yang membebaskan “dipenjarakan”, tetapi sebaliknya ide itu semakin menyebar ke seluruh dunia. Ia mengajar di Universitas Havard, USA pada tahun 1969-1970. Ia pernah menjadi konsultan bidang pendidikan WCC.

Pemikiran Paulo Freire tentang pendidikan lahir dari pengalamannya selama bekerja bertahun-tahun di tengah-tengah masyarakat desa yang miskin dan tidak berpendidikan. Masyarakat feodal (hirarkis) adalah struktur masyarakat yang umum berpengaruh di Amerika Latin pada saat itu. Dalam masyarakat feodal yang hirarkis ini terjadi perbedaan mencolok antara strata masyarakat “atas” dengan strata masyarakat “bawah”. Golongan atas menjadi penindas masyarakat bawah dengan melalui kekuasaan politik dan akumulasi kekayaan, karena itu menyebabkan golongan masyarakat bawah menjadi semakin miskin yang sekaligus semakin menguatkan ketergantungan kaum tertindas kepada para penindas itu.

Dalam kondisi seperti ini, lahirlah suatu kebudayaan yang disebut Freire dengan kebudayaan “bisu”. Dalam kebudayaan bisu yang demikian itu kaum tertindas hanya menerima begitu saja segala perlakuan dari kaum penindas. Bahkan, ada ketakutan pada kaum tertindas akan adanya kesadaran tentang ketertindasan mereka. Itulah dehumanisasi karena bahasa sebagai prakondisi untuk menguasai realitas hidup telah menjadi kebisuan. Budaya bisu yang terjadi adalah karena bisu dan bukan membisu, Mereka tidak tahu apa-apa. Mereka tidak memiliki kesadaran bahwa mereka bisu dan dibisukan. Karena itu, menurut Freire untuk menyadari kebisuan itu, maka harus menguasai bahasa agar mempunyai kesadaran kritis dalam mengungkapkan realitas. Untuk itu, pendidikan yang dapat membebaskan dan memberdayakan adalah mengajar untuk memampukan mereka mendengarkan suaranya sendiri dan bukan suara dari luar termasuk suara sang pendidik.

Dari situlah Freire menolak pendidikan gaya bank dan menawarkan konsep pendidikan hadap-maslah. Dalam sistem pendidikan gaya bank yang diterapkan di Brasilia pada masa Freire, Pada prosesnya, guru tidak memberikan pengertian kepada peserta didik, tetapi memindahkan sejumlah dalil atau rumusan kepada siswa untuk disimpan yang kemudian akan dikeluarkan dalam bentuk yang sama jika diperlukan. Peserta didik adalah pengumpul dan penyimpan sejumlah pengetahuan, tetapi pada akhirnya peserta didik yang disimpan dalam kebisuan sebab miskinnya daya cipta. Karena itulah pendidikan gaya bank menguntungkan kaum penindas dalam melestarikan penindasan terhadap kaum bisu.

Alternative yang ditawarkan Freire adalah pendidikan hadap-masalah. konsepsi ini bertolak dari pemahamannya tentang manusia. Ia mengaggap bahwa manusia merupakan bagian dari realitas yang harus dihadapkan pada peserta didik supaya ada kesadaran akan realitas itu. hal itu juga dilandaskan pada pemahaman bahwa manusia mempunyai potensi untuk berkreasi dalam realitas dan untuk membebaskan diri dari penindasan budaya, ekonomi dan politik.

Pendidikan ini ditujukan pada kaum tertindas dengan tidak berupaya menempatkan kaum tertindas dan penindas pada dua kutub berseberangan. Pendidikan bukan dilaksanakan atas kemurah-hatian palsu kaum penindas untuk mempertahankan status quo melalui penciptaan dan legitimasi kesenjangan. Pendidikan kaum tertindas lebih diarahkan pada pembebasan perasaan/idealisme melalui persinggungannya dengan keadaan nyata dan praksis. Penyadaran atas kemanusiaan secara utuh bukan diperoleh dari kaum penindas, melainkan dari diri sendiri. Dari sini sang subyek didik membebaskan dirinya, bukan untuk kemudian menjelma sebagai kaum penindas baru, melainkan ikut membebaskan kaum penindas itu sendiri.

 


Tag: Pendidikan, kemerdekaan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Asridi Ketra Alias Asep 0 0
pendidikan bukan pembisuan....
titus ray 1 suka | 0
memang gagasan paolo freire sesungguhnya harus diterpakan disemua sektor pendidikan. seperti dikatakan diatas, bahwa masyarakat sengaja dibisukan oleh situasi sosial masyarakat bahkan Guru pun cenderung menciptakan para peninidas. dari itulah freire mengklasifikasikan pemikiran manusia dari 3 bentuk kesadaran ; magis, naif dan kritis.
Asridi Ketra Alias Asep 0 0
betul2...setuju bang titus..
andi_tulungagung 0 1 tidak suka |
Meski gagasan dan pemikiran Freire cukup brilian dalam memberikan tawaran jalan keluar bagi pendidikan, Relefansi konsep-konsep yang dikembangkan Paulo Freire dengan masyarkat Indonesia tentu saja berbeda jauh. Hal ini karena latar belakang sosio kultural antara Brazil sebagai tempat yang melahirkan sosok Paulo Freire dengan serangkaian sistem sosialnya dengan Indonesia sebagai bangsa timur yang memang telah memiliki julukan sebagai masyarakat religius jelas berbeda. Sudut pandang ini harusnya kita pahami secara seksama

Asridi Ketra Alias Asep 0 0
owh.betul, Namun nilai pemerdekaan yang diusung oleh paulo bisa diterapkan di Indonesia. dan pada faktanya terkadang pendidikan di indo masih "membisukan". peserta didik tidak begitu mengeksplorasi apa yang ia pelajari.Mahasiswa, peserta didik terkadang nrimo ing pandum. Jiwa kritis itu tidak muncul. padahal itulah yang diperlukan agar tidak diperbudak. Budaya timur pun justru malah harusnya demokratis, termasuk dalam pembelajaran. apalagi dalam UU SISDIKNAS sudah dijelaskan prinsip-prinsip pendidikan yang menyatakan bahwa pendidikan harus dilaksanakan secara demokratis.
andi_tulungagung 0 1 tidak suka |
Asridi Ketra Alias Asep: tapi kan g'leterleg sama kan harus ada filternya
Asridi Ketra Alias Asep 0 0
betul2 rokok aj kalau yg g ada filternya banyak nikotinnya..
andi_tulungagung 0 0
layo

Silahkan login untuk memberikan pendapat