KEBENCIAN YANG MEMBARA 23

Kamis, 22 Apr '10 11:36

 

Aku sangat benci yang namanya laki-laki. Alasannya sudah lama sekali, aku lupa. Satu-satunya yang kuingat adalah karena aku lahir tanpa seorang ayah. Ibu menjelaskan itu dan kupikir sangat menyedihkan untuk diingat.

"Empat bulan dalam kandungan, kamu sudah tidak memiliki ayah," sambil duduk di depan TV, Ibu bercerita padaku. Waktu itu aku kelas 4 SD. Aku tak mengerti, atau mungkin tak berani untuk mengucapkan pertanyaan apa pun mengapa aku bisa melewati hari-hari di dalam rahim-nya tanpa ditemani seorang ayah. Ibu hanya melanjutkan kisahnya ketika membesarkan aku. Dia berusaha, membanting tulang dengan membuka warung sekaligus buruh cuci piring di sebuah warung makan. Dia hampir beberapa kali pingsan, katanya.

"Untung, berkat kuasa Tuhan kamu lahir sempurna dan sehat, Rika," kenangnya.

Nah, itulah yang membuat aku khawatir untuk melanjutkan pertanyaan, mengapa, kenapa, dan ke mana ayah pergi? Mendengar perjuangan dirinya melahirkan serta merawatku saja dadaku sudah terasa ngilu. Bagaimana kalau kubebani lagi dengan pertanyaan seperti itu? Bisa-bisa semangat hidupnya patah sama sekali. Sekarang, cukuplah kami berdua hidup bersama. Saling merawat, melindungi, dan bahagia. Cukuplah ibuku menderita dengan masa lalunya. Kini ia bersamaku, melewati hari-hari yang lebih menyenangkan. Menghadapkan mata jauh ke masa depan. Itulah yang aku, juga ibu pikirkan sekarang. Membuang jauh-jauh lembaran lama sebagai pelajaran yang berarti untuk maju ke depan. Namun, dalam hatiku memang selalu timbul bisikan, entah dari mana, "aku benci laki-laki!"

 

***

Sejak di bangku sekolah dasar, teman-temanku tak berhenti melontarkan sindiran bahwa aku anak yang aneh. Pertama, karena sifat pendiamku. Aku selalu memilih tempat-tempat sepi yang jarang dikerumuni orang. Bagiku cukup sederhana. Dengan mengambil posisi ke tempat sepi tersebut, aku merasa punya sudut yang berbeda dengan orang-orang pada umumnya. Seperti ketika teman-temanku yang perempuan asyik bermain lompat karet di lapangan utama sekolah, aku justru mengambil posisi di bangku kantin yang terhalang oleh tangga. Dari tempat itu aku bisa mengintip kegiatan teman-temanku di lapangan utama. Aku cuma mengamati, betapa bahagianya mereka. Kedua, kisah ibu yang ditinggalkan suaminya sejak aku masih di kandungan sudah menjadi rahasia umum. Masalahnya, di sekolahku lebih banyak diisi oleh teman-teman yang juga tetanggaku. Mereka mendengar cerita dari orang tuanya tentang ibuku. Kadang sebagian besar mereka menganggap itu lucu. Tapi bukan berarti pula tak ada yang menaruh simpati padaku, juga ibu. Menurutku keduanya sama saja, baik yang mengolok-olokku maupun yang mengasihani. Semuanya sudah jelas. Aku tidak suka diperolok dan tidak membutuhkan rasa belas kasihan. Aku cuma benci laki-laki!

 

***

Usiaku sekarang 20 tahun. Berkat ketekunan yang kurasa melebihi orang lain seusiaku, aku masuk ke universitas ternama dengan bea siswa tiada putusnya. Sifat-sifatku waktu kecil sudah mulai berubah akibat gaya hidup kampus. Sebagai mahasiswi, aku tak boleh lagi menjadi seorang yang pendiam. Aku harus sering berdebat dengan banyak orang, terutama terkait masalah-masalah yang prinsipil. Tinggi badanku sudah melampaui keindahan tubuh perempuan-perempuan lain di kampusku, bahkan aku merasa telah menyaingi penampilan artis yang menghabiskan uang banyak untuk merawat tubuhnya. Rambutku terurai sampai ke bahu. Aku tahu, aku nyaris sempurna di depan lelaki mana pun.

Di luar itu, ibu jauh lebih bahagia. Kini kami tinggal bersama paman yang datang setelah sekian lama tidak berjumpa. Pamanku, Ferdi, umurnya tak jauh dengan ibu yang juga kakaknya sendiri. Hanya terpaut dua tahun lebih muda. Ketika aku tahu dirinya adalah bagian dari keluarga ibu, rasa lega cukup menyesap perlahan dalam dadaku. Sudah lama aku kebingungan. Akibat kegiatan di luar, aku merasa ibu terlalu bosan sendirian di rumah. Dia juga mengeluhkan itu, namun tak bisa berbuat apa-apa. Karena itu, paman Ferdi sangat membantu kelancaran hidup kami. Tentu saja, aku memakai akal sedikit. Meski membenci laki-laki seumur hidupku, pria sekelas paman Ferdi tidak masuk kategori. Kebencian memang harus pada tempatnya. Kalau aku membenci paman Ferdi hanya karena dia laki-laki yang selama hidupku merupakan makhluk yang paling kubenci, bukankah sama saja aku telah membenci ibu. Dia akan menyesalkan jika sikapku seperti itu. Bagaimanapun, atas nama ibuku, aku bisa mengalah, sampai pada batas-batas tertentu.

Paman Ferdi bekerja sebagai staff di sebuah perusahaan telepon seluler. Ia telah menamatkan studi diplomanya, sehingga kini sedang melanjutkan jenjang strata I pada hari Sabtu dan Minggu. Dia orang yang rajin. Selalu bangun sebelum adzan Shubuh. Dia akan bekerja sampai matahari terbenam. Kurasa dia contoh laki-laki yang sangat bertolak belakang dengan ayahku yang tak pernah kulihat itu. Dia sangat peduli kepada aku maupun ibu. Jika hari gajian tiba, ia akan menelpon dan berkata, "kakak, beritahu Rika kita ada acara ke luar malam ini!" Ia mengajak aku dan ibu menikmati makan malam. Bercerita satu sama lain, memahami, dan berpikir rencana-rencana hidup ke depan. Ia juga senang merencanakan makan bersama di rumah. Aku yang malas dalam hal masak-memasak, biasanya mengantarkan dia berbelanja ke pasar. Lain dengan dia, begitu semangatnya membantu ibu memasak setelah pulang dari pasar.

"Rika, Rika! Cepat matikan kompor! Paman mau cuci sayuran sebentar," ia mengisi penuh baskom dengan air keran. Tangannya cekatan melepaskan daun-daun bayam yang tak sesuai untuk dimasak.

"Coba cicipi dengan lidahmu, Ka," pintanya.

"Ah, paman! Jangan aku, lidahku tidak peka. Ke mana ibu? Lebih baik dia saja," aku mendekati aktifitas paman Ferdi. Bagi seorang yang gemar memasak, tampaknya dia terlalu serius. Lain sekali dengan acara-acara masak di televisi yang pembawa acara sekaligus kokinya selalu tampak ceria dan tak ada masalah mengelola dapur.

"Ibumu sedang melayani pembeli di warung. Sudah deh, kamu saja cicipi sedikit. Gunakan perasaan saja kok, setelah itu kamu akan tahu itu sudah pas atau belum garamnya," ia beralih mengambil pisau. Memotong-motong bayam. Aneh sekali, masa masak bayam dipotong-potong begitu?

Kuaduk-aduk sebentar. Sop iga sapi. Tulangnya yang besar menyembul dari panci dan mengeluarkan aroma yang sedap. Kusendokkan sedikit kuahnya, lalu menaruhnya ke bagian telapak tanganku seolah sudah terbiasa memasak. Kusesap kaldu tersebut.

"Enak!" aku mengacungkan jempol seperti iklan komersial di TV.

"Yakin?" pertanyaan itu sudah pasti punya maksud meragukan. Paman Ferdi memicingkan mata, menyindirku.

"Huh, tadi 'kan paman sendiri yang menyuruhku untuk mencicipi. Katanya tinggal gunakan perasaan. Nah, kubilang enak!" aku menaruh sendok sup dengan jengkel yang dibuat-buat. Belum terbiasa aku bercengkerama dengan seorang laki-laki, apalagi di rumah sendiri. Tidak ada ayah, sama sekali.

Kalau aku berani bertaruh, inilah bahagianya punya keluarga lengkap. Pemandangan yang sering aku lihat dari teman-temanku di sekolah dulu. Aku mulai mengerti, mengapa mereka punya senyum yang berbeda dengan yang kupunya waktu itu. Hm, aku tidak menyesalkan. Kalau memang hidupku sudah seperti itu, mau apa lagi? Lebih baik aku bersyukur sekarang sudah memiliki ibu, ditambah paman Ferdi yang baik.

"Hahaha ... yasudah, oper itu ke mangkuk besar di meja makan. Ayo, Ka," paman Ferdi selesai memotong bayam, kemudian memberinya tepung dan meremas-remasnya dalam baskom.

"Nih, paman buat keripik bayam. Cemilan enak nan sehat!" katanya mengumumkan.

"Hah? Makanan model apa itu, Paman?" aku mengangkat panci yang mengepulkan asap, panas bukan main. Mataku sampai perih.

"Payah nih, Rika! Masa belum pernah tahu keripik bayam?" katanya. "Hei, hati-hati!" ia melihatku mulai kesulitan akibat mataku yang sangat perih.

"Memang aneh. Tapi, dari namanya, kelihatannya enak, ya, paman?" baru kali ini aku mendiskusikan hal-hal yang remeh. Keripik bayam? Paman Ferdi, atau bayamnya yang menarik? Ah, dua-duanya ada dalam pikiranku. Tidak salah lagi, dia memang orang yang unik. Hidupku jadi semakin nyaman jika ada dia. "Ayahku."

Kami melewati makan malam di luar dugaan siapa pun, baik aku, ibuku, maupun paman Ferdi. Benar-benar luar biasa. Coba tebak, apa yang kami bicarakan pertama kali;

"Rika, bagaimana dengan kehidupan cintamu?" paman Ferdi merogoh toples berisi kripik bayam buatannya. Dia senang makan nasi dengan tambahan "kriuk-kriuk" bersamanya.

"Hah?" aku hampir tersedak. Apa aku tidak salah dengar? Sejak kapan ada orang yang mencampuri kehidupanku? Memang banyak, tapi, paling-paling masalah aku yang tidak punya ayah, bukan untuk yang satu ini. Tidak ada yang peduli kehidupan cintaku bersama seorang pria. Jangankan orang lain, aku pun sama sekali tidak punya pikiran ke arah sana.

"Ya, paman ingin tahu. Bagaimana kisah cinta seorang Rika yang jelita ini?" ia tersenyum bangga. Bagiku malah terasa aneh.

"Tidak ada, paman. Jauh seperti yang paman bayangkan, bukan?" jawabku cepat.

"Tidak ada?"

"Ya!" aku mengangguk. Kusendok sekali lagi sop iga yang luar biasa lezat ini. Ingat kalau ini adalah buatan seorang lelaki, aku sungguh tak percaya. Cuma paman Ferdi yang membuatku percaya akan hal itu.

"Benarkah itu?" ia menoleh kepada ibu. "Aku tidak percaya. Apa itu tidak aneh. Rika yang cantik begini belum pernah berpengalaman mencintai dan dicintai pria?"

"Fer, dia gadis yang berbeda. Coba saja lihat," terang ibu singkat.

Aku tak tahu pasti apa yang ibu maksud. Aku gadis yang berbeda? Kalau dari segi fisik aku tidak berbeda sama sekali dengan seorang perempuan muda, bahkan lebih unggul beberapa. Kesimpulanku; ibu maksudkan adalah sifatku yang berbeda.

Paman Ferdi tetap dalam ketidakpercayaannya. Ia menatapku sambil mengangkat kedua alisnya yang tebal. Sampai-sampai kerut di keningnya terkesan banyak sekali.

"Aduh, paman! Masa sih, seorang perempuan, atau anak muda harus punya pengalaman seperti itu? Aku sudah dewasa sekali lho, punya pilihan, juga prinsip. Jadi, tidak ada masalah dengan itu. Lebih baik paman simpan kening yang berkerut itu," jelasku memuaskan kebingungannya.

Dia mengambil sendoknya lagi. Memasukkan sesuap nasi bersama daging sapi dan kripik bayam.

"Yah ... paman cuma agak khawatir. Kalau-kalau kamu punya trauma psikologis, Rika," paman Ferdi berkata pelan. Menghindari sesuatu.

"Maksudmu, Fer?" justru ibu yang membalas dengan pertanyaan.

"Oh, tidak apa-apa Nita. Aku sedikit berlebihan saja. Jangan dipikirkan." Kali ini, paman Ferdi agak kikuk.

"TIDAK BISA! Aku sudah tebak maksudmu! Kau ingin katakan bahwa Rika punya keanehan akibat tak pernah menemui kasih sayang seorang ayah, kan? Makanya dia jadi benci laki-laki?" aku tak menyangka emosi ibu meledak.

"Hei, Nit, tenang dulu ... aku ...,"

"Sudah!"

Ibu beranjak.

"Aku berani bertaruh, Rika adalah perempuan yang tiada bandingannya, bahkan olehku sekali pun!" ujar ibu. "Jangan bahas itu lagi, mengerti?"

"Oke, maafkan aku."

Kata-kata terakhir ibu terasa lebih nyaman. Ia menurunkan emosinya seperti menutup kran untuk menghentikan laju air.   

Beberapa menit kemudian, makan malam dirapikan. Aku menyiapkan diri untuk tidur. Besok akan menjadi hari yang sibuk. Biasa, organisasi kampus plus kuliah. Aku hanya tanamkan diri supaya tetap semangat. Tiada hari tanpa perjuangan.

Ibu kelihatan lelah sekali. Ia masuk kamar mendahului kami. Paman Ferdi masih menyempatkan diri di depan TV menyaksikan siaran langsung sepak bola.

"Paman, aku tidur duluan, ya."

"Ya, mimpi indah ya." Ia tersenyum, membuatku hangat.

"Rika ... " bisiknya.

Aku agak terkejut. Dia mengecilkan suaranya di bawah komentator sepak bola.

"Kenapa, paman?" tanyaku.

"Apa benar kamu benci laki-laki?" dia sangat terus terang dengan pertanyaannya. Apa ini sifat aslinya, atau karena yang ditanyakan adalah aku, keponakannya sendiri sehingga dia tidak canggung.

"Paman sudah tahu, kan?" aku malah balas bertanya. "Aku benci laki-laki karena ayah meninggalkan aku sejak masih dalam kandungan. Tapi tenang, ada pengecualian buat paman Ferdi."

Aku tidak mau membalasnya dengan sikap malu-malu. Kalau dia berani bertanya seperti itu padaku, kenapa aku tidak menjawabnya sesuai dengan harapannya?

"Kalau begitu, paman punya nasehat untukmu. Sebenarnya, hal ini bukan dariku, tapi dari seseorang yang sangat ingin bertemu dirimu yang sudah besar dan luar biasa cantik," dia terus berbisik. Tapi suaranya masih terdengar jelas di telingaku.

"Apa nasehatnya dan dari siapa itu, paman?" tampaknya, aksi paman Ferdi benar-benar sukses menarik rasa penasaranku. Cepat, sebelum ibu, siapa tahu, keluar dari kamarnya! Batinku dalam hati.

"Dia bilang, 'jangan tertipu!'. Itulah pesan ayahmu kepadaku. Selamat malam!" paman Ferdi lekas mematikan TV. Ia menepuk pundakku, kemudian masuk ke kamarnya. Aku hanya tertegun. Jangan tertipu? Dari ayah? Di mana dia? Mengapa paman Ferdi bicara dengannya? Ah, dia 'kan laki-laki tidak tahu diri yang meninggalkan ibu ketika mengandungku. Dadaku, sesak, aku mau tahu!

 

                                                                        ***

Besoknya, sepulang dari kampus, paman Ferdi sudah menungguku di halte bus. Ia bersama seorang pria yang membuat hatiku langsung bertanya-tanya setengah yakin. "Diakah ayahku?"

"Halo, Rika. Bagaimana hari ini? Baik-baik saja, 'kan? Paman Ferdi menampakkan senyum khasnya. Wajahnya cukup lebar.

"Lumayan deh, paman." Hal pertama kali yang kulakukan adalah tidak melihat sedikit pun ke arah pria di samping paman Ferdi tersebut.

"Gus, ini dia, anak semata wayangmu, Rika," paman Ferdi membuat gaya tangan seperti mempersilahkan seorang tamu kehormatan datang.

"Kau Rika? Apa kabarmu, Nak?" laki-laki itu mulai bertanya kepadaku.

Aku tak tahu apa yang harus kujawab, atau lebih tepat apa yang harus kupercaya. Begitu mudahnya seorang pria yang menyakitiku dan ibuku sedemikian rupa, tidak pernah kulihat wajahnya, tidak pernah kudengar namanya, belum sekali pun kucium aromanya, adalah ayah kandungku. Hal yang butuh persiapan yang sangat lama untuk memahami semua ini.

"Tadi sudah kubilang, lumayan, 'kan." Kata-kataku meluncur seperti mengatakan "masa bodoh!"

Dia kebingungan. Itu sudah pasti. Apakah dia benar-benar ayahku?

"Ehm, Rika, tenang dulu, sayang. Kamu sudah melewati hari-hari dengan berat, apalagi tanpa seorang ayah. Nah, sekaranglah saatnya kalian bertemu. Cobalah bersikap dewasa sedikit." Paman Ferdi menengahi, dan kupikir cukup bijaksana sekaligus bodoh.

"Paman bilang aku tidak dewasa?" hampir-hampir gigiku gemeretak. "Jangan merendahkan aku di depan dia! Aku tidak peduli, meski tak tahu kenapa aku yakin dia memang ayahku. Tapi, hal itu tidak mengubah rasa sakit ibu, juga aku. Begitu saja paman!"

"Ah ... iya, aku mengerti ... karena itu ..."

"Karena itu bawa pergi dia dan kita pulang!" aku mulai meninggi.

"Bukan, bukan begitu Rika. Coba dengarkan dulu, ini ada penjelasannya. Ya? Kamu mahasiswa, bukan?"

Terus terang kata "mahasiswa" menurunkan emosiku. Hal itu lantas saja berganti dengan logika, meski dadaku, sekali lagi nyeri sampai kepala.

"Aku mau bertanya, kenapa kau tinggalkan kami, aku dan ibu?"

Pada dasarnya, jawaban apa pun dari pertanyaan ini pasti tak akan kuterima. Dia dan paman Ferdi berbalas tatap.

"Begini, Rika, memang tujuanku hari ini berani bertemu dirimu adalah untuk menjelaskan hal itu. Tapi, lebih baik kita bicara di tempat yang lebih nyaman. Mau 'kan? Di sana ada café yang bagus," ia menunjuk ke seberang jalan. Aku setuju, sudah saatnya aku harus tahu yang sebenarnya. Setelah itu, akan kubuat pria ini, ayahku, menyesal pernah bertemu denganku.

Kami memesan minuman. Tak ada yang mau makan.

"Aku ingin bertanya dulu, Rika. Boleh?" ia mulai merasa yakin. Aku mengangguk tanda setuju.

"Apa yang kau dengar tentang ayahmu ini dari ibumu?"

Kedua mataku tak beranjak dari tatapannya. Rasanya, kami berdua benar-benar kepala batu.

"Semuanya tentang hal-hal yang menyedihkan," jawabku singkat.

Dia menghirup nafas dalam-dalam. Menghisap sedotan, minumannya coffee latte.

"Aku tak bisa menghindari kalau ini adalah salahku sehingga kamu tumbuh tanpa seorang ayah sampai sekarang ini. Tapi, aku pun punya alasan mengapa aku sampai berbuat seperti itu, meninggalkan kau yang masih dalam perut ibumu. Aku ... "

"Apa alasannya?" selaku.

"Rika, tenang dulu ..."

"Paman jangan ikut campur. Kumohon!" aku mulai memberanikan diri terhadapnya.

 "Aku sengaja merencanakan bersama Ferdi, karena aku tahu dia adalah adiknya ibumu, untuk mendengar perkembanganmu, Rika. Awalnya, aku bisa tahan dengan mendengarnya, akan tetapi lama-kelamaan aku semakin tak tahan untuk menemuimu. Kamu adalah anakku, bagaimana pun caranya."

"Bagaimana pun caranya? Jangan seenaknya! Kau belum menjawab, apa alasanmu! Cepat katakan! Kalau kau tidak mau pertemuan denganku hari ini menjadi percuma!" Luar biasa. Aku sudah tak tahan dengan emosiku. Mataku mulai tergenang sesuatu.

"Ibumu tak berkenan denganku. Katanya, aku ini laki-laki yang tidak bisa diandalkan. Aku selalu salah memasang lampu. Aku tidak berpenghasilan untuk membeli mobil. Aku tidak terhormat di kalangan tetangga. Aku berasal dari keluarga kampung. Ibumu bilang, ia hanya terdesak oleh orang tuanya untuk menikah, kemudian menemukan aku yang kebetulan adalah laki-laki bodoh sehingga percaya begitu saja bahwa dia adalah cinta sejatiku. Aku tidak bisa berbuat apa-apa. Dia memaksaku untuk keluar dari rumah. Dia bilang,'lebih baik hidup miskin dari pada bersuami aku'. Waktu itu ... "

Ia berhenti. Ayo, lanjutkan saja! Hatiku sudah mengeras, seperti memberi isyarat kepada seluruh syaraf.

"Waktu itu, aku tak tahu apa maksudnya. Tapi, sepertinya dia malu memiliki suami seperti aku. Cuma itu"

Semuanya, aku, paman Ferdi, dan dia, diam. Kami tak punya apa pun lagi untuk dibicarakan. Malam itu suasana café melantunkan lagu-lagu blues. Sang penyanyi pria, tampak seperti orang Timur dari Maluku, melolong dalam penderitaan sebagaimana blues dilahirkan oleh kalangan budak kulit hitam. Sya'irnya adalah tangisan serigala yang perkasa, namun terluka di hatinya.

Sekarang, tampaknya aku tak bisa menganggap laki-laki asing di depan mataku ini mengarang cerita. Sama seperti aku, dia sangat terluka, bahkan sangat parah karena tidak menemukan obat untuk sembuh sekian lamanya. Dia ayahku. Orang yang selama ini kubenci dan membuatku benci dengan laki-laki lain, di mana pun, kecuali paman Ferdi.

Beberapa kali bibirku bergetar. Ingin mengucapkan sesuatu, tapi hanya jari-jemariku yang bergerak. Tak kusadari, aku menyentuh wajahnya - orang yang dulunya kubenci. Sekarang, aku jadi membenci diriku.  

 

 

 


Tag: cerpen, kehidupan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

andi_tulungagung 0 0
bingun terlalu panjang
fu'ah DIMENSI 0 0
menarik, tapi terlalu panjang, sehingga kalau nggak mud baca jadinya gak kebaca deh... pilih media yang tepat buat tulisan kamu... jadi banyak yang baca ntar,,
semangat pokok e!
The President's 0 0
andi_tulungagung: MAKANYA DIBACA SOALNYA MENARIK LHO............!
masak org LPM g senang baca....?
nenden pabelanis 0 0
The President's: ohh.. orang LPM mesti senang baca ya?
kalo g senang baca bukan orang LPM?
jadi nenden pabelanis =! orang LPM..
: D
hehehe
The President's 0 0
fu'ah DIMENSI: panjang apa tidaknya itu tergantung kita yg mendesainnya,saya kira diatas itu masih tergolong cerpen dan juga bisa masuk kategori cerpan(cerita puanjang),tapi asyik kok utk dibaca........!!!!!!
The President's 0 0
nenden pabelanis: ya jelas lah,masak orang membaca itu harus buku/tulisan?
nenden pabelanis 0 0
The President's: gak mudeng maksudmu kang.. hehee
The President's 0 0
@bayulogi: tulisannya asyik,tulisannya pke sistim segitiga y bukan segitiga terbalik soalnya setelah aku baca ternyata entrypoinnya ada dialinea ketiga dan sampe akhir hanyalah keterangan saja.
tapi bgus kok tulisannya soalnya aku masih belum bisa menulis kayak gto.....!!!!!
bravoo selalu.....
The President's 0 0
nenden pabelanis: maksudnya itu seorang LPM harus banyak2 baca.
dalam hal baca bukan hanya dari buku akan tetapi membaca keadaan sekitar,kondisi dll
udah paham apa blom?
hehehehehehehehe
andi_tulungagung 0 0
The President's: au kurang tertarik ma cerpen ya maap dech
nenden pabelanis 0 0
The President's: ohh yaa..yaa..yaaa...
IQRO! : D
The President's 0 0
andi_tulungagung: emang tertarik dngan ap bos......?
ap tertarik dngan nenden tah....?
The President's 0 0
nenden pabelanis: masak hanya seperti itu......?
nenden pabelanis 0 0
The President's: apa sih? : -/
hmm.. lha emang harus gimana?
The President's 0 0
nenden pabelanis: hrusnya tdk sperti itu.........!
andi_tulungagung 0 0
The President's: bisa dipertimbangkan tp lihat foto profilnenden pabelanis: au takut lo...gmn bs tertarik ckckckckck
nenden pabelanis 0 0
andi_tulungagung: kenapa? ada yang salah dengan foto profilku?
hmm.. berarti kamu orang yang suka mendjuge buku dari sampulnya ya?
*lho?*
gyahahahha

The President's: lha terus? haru seperti apa?
andi_tulungagung 0 0
nenden pabelanis: fotomu yang pakai topeng monyet tu lo....
nenden pabelanis 0 0
andi_tulungagung: kerennn to?

hei! kita di artikel cerpen orang,
kenapa bahas potopropil??

*duhhh.. OOTnya makin parah*
ppmi_ta 0 0
nenden pabelanis: wkwkwkwk hbs au g' gnerti cerpen cih.... , ya ngumungin poto profil aja p kyake dah amu ganti ya...ternyata umunganku manjur jg ckckckck
fu'ah DIMENSI 0 0
the presidents: lihat konteks aja, cerita pendek kan pengennya mengemas suatu kisah pendek dari sudut yang paling menarik. kalau sepanjang ini namanya jadi apa coba? benar katamu, cerita puanjanggggggggggg..... buanget deh...
tpi basicly, nich cerita bagus kok.

nenden pabelanis & andi tulungagung: kebiasaan bahas apa-apa campur2... g sesuai konteks deh. apa ngomongin apa??
andi_tulungagung 0 0
layo
bayulogi 0 0
thx,thx,thx

Silahkan login untuk memberikan pendapat