Pencarian 9
Rabu, 21 Apr '10 16:54
Aku bertanya pada dunia, apakah sebenarnya makna kehidupan itu? Duniapun mengandaikan adanya manusia tempat makna itu bersandar, karena makna adalah untuk makhluk yang bernama manusia. Seandainya tak ada segelintir manusiapun pernah hidup di dunia yang semakin renta ini, maka dunia tetap akan memiliki karakter, sejarah, durasi, tatanan dan arah tetapi tidak memiliki makna. Ketika dunia ini tidak pernah di huni manusia dan sejarah serta durasi dunia ini mungkin akan tidak jelas namun masih tetap dipastikan keberadaannya. Kini aku bertanya pada dunia yang semakin poranda ini tentang apakah tujuan dan alasan manusia untuk menjalani kehidupan di dunia yang penuh keingkaran dan kemunafikan ini. Duniapun kembali bersenandung dan berandai-andai bahwa yang tertarik dengan kegundahanku ini bukan sembarang orang, tapi orang yang barang kali hidupnya memang punya makna tersendiri. Kegelisahanku yang kedua ini juga mengasumsikan adanya perbedaan antara diriku dengan kehidupan di dunia fana ini. Kegelisahanku berikutnya adalah kenapa aku menjadi bagian dari semesta ini. Aku akan mencoba menjawab kegelisahan-kegelisahanku tentang identitas dan eksistensiku pada kehidupan di dunia yang semakin gila dan konyol ini. Bagaimana aku bisa membedakan diriku dengan seluruh isi dunia yang lain termasuk pada binatang dan tumbuhan? Kalau aku belum tahu siapa aku sebenarnya, bagaimana mungkin aku tahu makna kehidupanku sendiri? Kalau aku meragukan siapa sebenarnya aku, apakah aku ini benar-benar eksis hidup di dunia ini? Sepertinya aku tak akan bisa menemukan makna dalam kehidupanku sendiri
Memang kegelisahanku ini berisi dua sisi dan biasanya aku cenderung akan bertanya, bagaimana aku bisa yakin kalau aku benar-benar ada dan eksis di dunia? Sebab kegelisahanku ini juga berkaitan dengan makhluk Tuhan yang lain, seperti kelompok kera yang bergelantungan di pohon. Lalu bisakah aku bertanya tentang laut, tentang sungai serta tentang matahari yang terbenam di ufuk barat kepada setiap orang termasuk kepada diriku sendiri? Sampai di sini aku di hadapkan pada sebuah teka-teki. Aku akan selalu menegaskan dan tak akan pernah mengingkari nurani dan eksistensiku sendiri. Begitu juga dengan makhluk Tuhan yang lain seperti semut-semut yang sedang berbaris dan melagukan hymne bersama-sama. Kini aku tak perlu bersusah payah untuk meyakinkan diriku sendiri bahwa aku adalah aku dan bukan orang lain. Meski aku telah begitu yakin tentang keberadaanku sendiri dalam semesta raya ini, aku akan kesulitan untuk menjelaskan kepada dunia bagaimana sampai aku begitu yakin pada eksistensiku
Aku pernah berpikir jangan-jangan aku ini adalah orang lain? Masalah yang muncul adalah aku tidak dapat memastikan jawaban yang akan aku berikan kepada dunia yang maya ini, apakah aku ataukah bukan? Teka-teki logika ini bisa di kaitkan dengan kegundahanku yang lain, tapi dengan nada yang berbeda tentunya yaitu andai kata dunia yang semakin renta dan rapuh ini melahirkan diriku kembali apakah dengan begitu aku tetap akan jadi diriku lagi? Keresahan ini memang sangat membingungkan. Aku pikir keragu-raguan emosionalku yang menyangkut diriku dan semesta yang kadang kala di perparah oleh kerumitan yang muncul dari pikiranku sendiri. Dalam membicarakan hubungan antara siapa aku dengan menemukan makna kehidupan akan muncul kegundahan-kegundahan lain seperti kondisi psikologis yang menyebebkan aku mempertanyakan tentang diriku sendiri dengan kegelisahan tentang diriku sendiri dan dunia yang semakin poranda dan konyol ini. Kegelisahan-kegelisahanku ini aku kemukakan sebagai upaya mengekpresikan beberapa pandangan tentang dunia. Sekali lagi aku bertanya di dalam angan-anganku yang membisu, bagaimana aku tahu kalau aku ini memang ada? Bagaimana aku bisa tahu tentang siapa aku sebenarnya? Kini dunia belum berakhir untuk membahas pribadi macam apa aku ini, tapi hanya berkaitan dengan pribadi yang mana. Kegundahanku yang menyangkut tentang diri ini akan selalu muncul di dalam benak dan otakku.
Tag: Sadarkah Bahwa Anda Begitu Istimewa, Curhat Dari Pemredku ketika editing
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
fu'ah DIMENSI: Perlu
-
Como Bacomboy: Bagus
-
ppmi_ta: Bagus
-
faruq pabelanis: Bagus
-
jawirlpmgelora: Responsif
-
elkhoss_dimensimedia: Responsif
-
qiqi_dimensi: Bagus

Komentar:
Celakalah orang yang selalu merasa baik-baik saja..
kalo yang gak punya hati = bukan manusia?
nenden pabelanis: bukan hanya manusia bos yang punya hati ayan pun juga punya makanya ada yang jual hati ayam goreng ckckckck
tapi maksudku kan hati dalam arti qalbu..
*jadi bingung sendiri aku*
manusia itu rumit pokok e...
Silahkan login untuk memberikan pendapat