Dilematika Mahasiswa dan Demokrasi 11
Senin, 19 Apr '10 09:46
"Buruh, tani, mahasiswa, rakyat miskin kota... bersatu padu rebut demokrasi. Gegap gempita dalam satu suara demi tugas suci yang mulia. Hari-hari esok adalah milik kita, terciptanya masyarakat sejahtera. Terbentuknya tatanan masyarakat Indonesia baru tanpa ORBA. Marilah kawan mari kita nyanyikan Sebuah lagu tentang pembebasan..."
Apa yang pertama terlintas ketika mendengar kata demonstrasi? Sebagian besar dari kita pasti akan menjawab "Mahasiswa".
Saya rasa Gerakan Reformasi 98 dan keberhasilan penggulingan Orde Baru merupakan hasil kerja keras para mahasiswa yang dengan rela hati turun ke jalan, menyampaikan aspirasinya dan selalu meneriakkan perubahan. Setelah kejadian tersebut, mahasiswa akhirnya selalu identik dengan demo atau aksi turun ke jalan. Selain itu, mahasiswa menjadi elemen masyarakat yang paling ditakuti oleh pemerintah, karena "mahasiswa bersatu tak bisa dikalahkan". Betapa hebatnya kekuatan mahasiswa, hingga bisa menumbangkan sebuah rezim yang telah bercokol di Indonesia selama 32 tahun, dan itu merupakan sebuah prestasi yang bisa dibanggakan. *setidaknya itu bayangan yang kutangkap ketika berumur 8 tahun*
Lalu bagaimana dengan sekarang?
Setelah 12 tahun berlalu, ternyata belum ada kekuatan dari gelombang mahasiswa yang mampu menyaingi Gerakan Reformasi 98 baik itu di Solo Raya, maupun Indonesia. Menyoroti fenomena di Solo Raya, dan khususnya di kampus UMSku yang tercinta saat ini gerakan mahasiswanya bisa dibilang -mohon maaf- 'mandul'. Baik dari Badan Eksekutifnya maupun dari Organisasi Pergerakan lainnya. Masih belum kita dengar sebuah aksi yang benar-benar WAH! Bahkan dibeberapa momen penting pun sering terlewat. Sebenarnya siapa yang salah? Memang, kita tidak bisa serta merta menyalahkan Badan atau organisasinya, karena saya yakin dari dalam organisasi tersebut sebenarnya ada Visi atau Misi untuk menyuarakan aspirasi dan demokrasi, tapi mungkin yang kurang hanya dari ketepatan aksinya.
Salah satu faktor yang bisa membuat sebuah aksi turun ke jalan bisa dibilang sukses adalah jumlah massa yang ikut andil di dalamnya. Dan target utama dari massa aksi tentunya adalah mahasiswa, yang didaulat sebagai agent of change. Tapi sungguh ironis bila melihat mahasiswa zaman sekarang, tampaknya mereka sudah mulai antipati pada hal-hal seperti itu. Buktinya beberapa waktu yang lalu ada sebuah aksi yang digelar di depan kampus UMS, sungguh miris ketika melihat jumlah massa yang ikut aksi tersebut hanya berkisar belasan orang saja. Padahal sebelum aksi dimulai sudah ada usaha penggalangan massa dengan orasi keliling kampus. Tapi sayang, tak ada mahasiswa yang tertarik untuk bergabung terhadap aksi tersebut, bahkan ketika diperhatikan yang ada hanyalah gumaman dan tatapan 'aneh' yang mengisyaratkan 'nggak ada kerjaan aja ikut demo'.
Karena saya penasaran dengan fenomena tersebut, maka dengan sengaja saya lempar sebuah pertanyaan di Wall Facebook salah satu temanku yang kebetulan merupakan ketua salah satu organisasi mahasiswa, "Ketua 'salah satu organisasi mahasiswa' koq tadi nggak ikut aksi di depan kampus?". Tak disangka, ternyata respon yang masuk dari pertanyaan itu banyak juga, dari banyak orang pula, salah satunya ada yang bilang: "wah.. emang dengan demo bisa bikin Indonesia jadi lebih baik?", "lagi pula, mahasiswa itu ngapain, nilai jelek-jelek mau ikut mengubah Indonesia? Seharusnya perbaiki diri sendiri dulu", "Tugas mahasiswa sekarang tuh nyari ilmu yang banyak,belajar yang rajin, setelah lulus, nilai bagus, masuk ke sistem pemerintahan, baru ubah sistem yang amburadul di Indonesia", dan pernyataan lainnya yang senada.
Dari penyataan-pernyataan di atas, saya berfikir kembali, ya pernyataan itu benar dan tidak bisa disalahkan, tugas mahasiswa pada dasarnya memang untuk menuntut ilmu, lagipula seringkali miris melihat para aktivis-aktivis kampus bergelar MA (Mahasiswa Abadi), apa kata orang-orang jika mahasiswanya saja susah lulus, mau jadi apa nanti di masyarakat? Tapi, di sisi lain siapa juga yang akan meneriakkan demokrasi dan menyuarakan aspirasi jika bukan mahasiswa? Kita masih butuh mahasiswa-mahasiswa yang kritis, responsif terhadap perkembangan Indonesia.
Pada akhirnya saya simpulkan, tak ada yang salah menjadi seorang aktivis atau akademis, jadilah aktivis yang kritis, atau jadilah akademis yang berprestasi, atau lebih baik lagi menjadi seorang aktivis dan akademis, jadi mahasiswa yang mampu mengawinkan dan menyeimbangkan antara keduanya itu. Dari itu semua tak ada pilihan yang salah, yang salah adalah menjadi mahasiswa yang apatis dan hanya memikirkan kebahagiaannya sendiri, hedonis, tak memiliki sedikit pun kepedulian terhadap pendidikan dan negara, *dan sepertinya yang ini benar-benar banyak saat ini*.
Ya, apa pun pilihannya, tetap satukan tekad untuk perubahan ke arah yang lebih baik. HIDUP MAHASISWA!!!
Tag: Mahasiswa, demokrasi, Demonstrasi
Terkait:
-
Mahasiswa Bukanlah Suatu Entitas Homogen
Sabtu, 31 Mar '12 23:27 -
Inspirasi Besar: Mahasiswa Harus Bangun Solusi
Senin, 6 Feb '12 16:35 -
Indonesia: Negara Yang Bukan-Bukan
Minggu, 30 Okt '11 06:31
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
faruq pabelanis: Biasa
-
ppmi_ta: Bagus

Komentar:
dari sudut pandang mana sahabat melihatnya......?
walaupun pglaman, sya keteteran ant kuL/orgnssi,, he..
"Tugas mahasiswa sekarang tuh nyari ilmu yang banyak,belajar yang rajin, setelah lulus, nilai bagus, masuk ke sistem pemerintahan, baru ubah sistem yang amburadul di Indonesia", > tpi sy jg stuju ma ini.....
y po rek??
jangan deterministik lah.
memangnya dulu yang demo ga matengin konsep dulu? baca, diskusi, transformasi ideologi dulu?
kalo sekadar demo ya mending tidur aja.
banyak cara lah, pun juga ga harus masuk pemerintahan.
coba buka2 buku "Radikalisasi Pemuda: PRD Menentang Tirani."
emang, mas2 nya iki wes "masternya" yo...
yoi, tak coba!
baca..baca..baca..
Silahkan login untuk memberikan pendapat