SUFI BERCINTA 9
Minggu, 18 Apr '10 23:48
Kilau sinar mentari tak lekang terus menyinari di siang itu. Udara sejuk pun terasa di lantai atas gedung Fakultas Ilmu Agama Islam (FIAI) UII. Para mahasiswa nampak segar dan berseri setelah melaksanakan shalat Dhuhur berjamaah di mushalla yang berukuran mini itu. Sebagian ada yang menuju kelas untuk mengikuti perkuliahan dan tak sedikit yang mampir ke perpustakaan yang jaraknya tidak jauh dari mushalla, sekitar sepuluh meter, untuk meminjam buku, online atau sekadar baca-baca saja. Tak terkecuali aku. Siang itu aku punya satu mata kuliah yang harus diikuti yaitu Pendidikan Kewarganegaraan yang diampu oleh Kaprodi Tarbiyah, Bapak Darmadji (lebih suka dipanggil Mas Dar) pada jam 13.00 WIB. Sembari menunggu jam masuk ada baiknya jika aku gunakan waktu yang singkat itu untuk melihat-lihat buku di perpustakaan yang sudah dipenuhi oleh mahasiswa. Aku pun masuk perpustakaan yang memiliki koleksi buku yang cukup lengkap bagi mahasiswa FIAI itu. Aku berjalan ringan mengitari rak-rak buku yang nanpak usang yang ada di dalam perpustakaan itu. Entah apa yang mengilhamiku hingga pada akhirnya aku melirik pada satu buku yang berjudul 'Ajakan Suci'. Menarik, bisikku lirih. Sekilas aku perhatikan buku itu dan ternyata isinya adalah kumpulan dari tulisan yang di tulis oleh al-Maghfur lah, KH. Ali Makshum. Di cover buku itu juga diilustrasikan lukisan beliau yang nampak berwibawa dan bersahaja.
Ada satu hal yang menurutku menarik dari kumpulan tulisan pendek itu, yaitu catatan yang terdapat pada halaman awal yang bertema mahabbah. Dalam tulisan itu almarhum Mbah Ali mengutarakan tentang konsep cinta, dimana segala sesuatu itu akan menjadi ringan dan mudah apabila dilakukan dengan sepenuh hati, dengan ketulusan, dan rasa senang serta cinta. Lebih-lebih jika cinta itu ditujukan kepada ilahi rabby, tentu akan manimbulkan efek yang begitu besar dan dahsyat. Manusia sebagai ciptaannya yang paling sempurna dengan dianugrahi akal, disadari atau tidak, terakui atau tidak telah mendapatkan curahan cinta dan belaian mesra dari Tuhan Yang Maka Kuasa. Setiap hari manusia mendapatkan limpahan nikmat dan karunia yang tiada henti, mulai dari bangun tidur hingga tidur kembali bahkan ketika dalam kondisi tidur pun manusia masih merasakan nikmatnya. Hal ini menunjukkan betapa besar sesungguhnya cinta Allah kepada hambanya. Maka menjadi sebuah keniscayaan jika hamba itu wajib mencintai Tuhannya, menjadi sebuah kewajiban seorang 'abid itu untuk mengabdi kepada penciptanya. Dan dengan demikian ada timbal balik yang setidaknya akan menjadikan hubungan itu harmonis, walaupun karunia Allah itu tiada dapat dibalas dengan apapun, langit dan bumi seisinya sekalipun. Subhanallah...
Dalam catatan itu, Mbah Ali Makshum mengutip perkataan seorang sufiah el-mishriyah, Rabiahal-Adawiyah tentang ungkapan rasa cintanya pada sang khalik. Berikut isi kutipan itu:
أُحِبّكَ حُبَّيْنِ حُبَّ الْهَوَي
وَ حُبًّا لِأَ نَّكَ أَهْلٌ لِذَاكَ
فَأَمَّا الَّذِى هُوَ حُبُّ الْهَوَي
فَشُغْلِي بِذِكْرِي عَمَّنْ سِوَاكَ
وَ أَمَّا الَّذِى أَنْتَ أَهْلٌ لِذَاكَ
فَكَشْفُكَ عَنِّي حَتَّى أَرَىك
فَلَا الْحَمْدُ فِى ذَا وَ ذَاكَ لِيَا
وَ لَكِنْ لَكَ الْحَمْدُ فِى ذَا وَ ذًاكَ
(uhibbuka hubbaini hubb al-hawa, wa hubban liannaka ahlun li dzaka,
Fa amma al-ladzy huwa hubb al-hawa, fa syughly bi dzikry 'amman siwaka,
Wa amma al-ladzy anta ahlun li dzaka, fa kasyfuka 'anny hatta araka,
Fa la al-hamdu fi dza wa dzaka, wa lakin laka al-hamdu fi dza wa dzaka.)
Artinya: "Saya mencintaimu (Allah) dengan dua cinta, cinta asmara dan cinta karena Engkau adalah dzat yang berhak dicintai. Adapun yang dinamakan cinta asmara itu adalah kesibukanku untuk selalu mengingat-Mu dan melupakan selain Engkau. Dan yang dimaksud dengan cinta karena Engkau adalah dzat yang patut dicintai adalah karena Engkau telah membukakan tabirku hingga aku dapat melihat-Mu. Maka tidak patut bagiku untuk mendapatkan pujian apapun, tetapi pujian itu adalah untuk-Mu semata."
Demikianlah, curahan hati dari seorang Rabiah al-Adawiyah, dengan konsep mahabbahnya ia mampu menyelami dunia sufistik ketuhanan. Dengan ketulusan ibadahnya ia mampu mencurahkan semua cintanya hanya kepada Allah semata. Sampai-sampai ia menolak untuk diperistri oleh seorang ulama' terkemuka kala itu, Hasan al-Bashry (Guru dari Washil bin 'Atha, pendiri aliran mu'tazilah) hanya karena takut cintanya akan terbagi. Dan menurut riwayat, sampai akhir hayatnya ia tidak sempat menikah. Begitulah kira-kira kehidupan sufistik itu. Sebuah pengorbanan yang tulus demi rasa cinta kepada pencipta alam semesta. hal ini karena Adawiyah benar-benar mampu merasakan hadirnya illah dalam setiap langkahnya sehingga ia selalu ingat pada-Nya dan tak mampu membagi cinta kepada selain-Nya. Baginya cukuplah berkhalwat dengan Allah saja untuk mendapatkan sebuah ketenangan batin dan psikis. Wallahu a'lamu bi ash-shawab...
Samsul Zakaria,
Kawah Candradimuka, PonPes Mahasiswa UII
Tag: CINTA HAKIKI
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Asridi Ketra Alias Asep: Perlu
-
faruq pabelanis: Bagus
-
si berang-berang:
Komentar:
terkenal banget tuh kata-katanya..
أُحِبّكَ حُبَّيْنِ حُبَّ الْهَوَي
وَ حُبًّا لِأَ نَّكَ أَهْلٌ لِذَاكَ
فَأَمَّا الَّذِى هُوَ حُبُّ الْهَوَي
فَشُغْلِي بِذِكْرِي عَمَّنْ سِوَاكَ
وَ أَمَّا الَّذِى أَنْتَ أَهْلٌ لِذَاكَ
فَكَشْفُكَ عَنِّي حَتَّى أَرَىك
فَلَا الْحَمْدُ فِى ذَا وَ ذَاكَ لِيَا
وَ لَكِنْ لَكَ الْحَمْدُ فِى ذَا وَ ذًاكَ
dan apakah dikampus UII masih ada yg seperti itu?
the important thing is the aplication before good thing,
do it!
ilahi?
benar?
sudah hilang ditelan mesin2 kok.
Silahkan login untuk memberikan pendapat