Hantam Saja! Jangan Pikirkan! 2
Minggu, 18 Apr '10 15:16
Ada sebagian teman saya di jejaring sosial Facebook (FB), lebih tepatnya penggemar berat saya, menyarankan pada saya,”Nulis lagi,dong! Kok jarang lagi nulis! Aku kangen nih, dengan tulisanmu!” Begitu kata teman saya suatu hari yang saya juga tidak tahu, entah hari apa. Saya kira itu kurang penting, yang lebih penting, adalah saya mencoba menulis kembali, dan mencoba membagikannya di sini;Facebook. Bukan saya tidak menulis sebenarnya. Saya tetap menulis setiap hari, tapi saya tidak membagikannya di Facebook. Alias juga, saya menulisnya bukan di layar komputer, melainkan di kertas catatan harian saya. Artinya, saya tidak mempublikasikan tulisan saya.
Sejujurnya, di paragraf dua ini, saya malah bingung, apa lagi yang ingin saya tulis,ya? Ah, saya juga tidak tahu, apa yang ingin saya ketik. Apalagi Anda? Kalau Anda, saya kira tak masalah, karena tugas Anda adalah membaca tulisan ini dan, barangkali mengkritisinya. Apalagi,ya? Kok tiba-tiba, kata-kata yang sudah disiapkan menyingkir begitu saja? Ah, akankah saya terus menulis? Lho, kenapa pula saya mempertanyakan seperti itu? Biarlah, bila saya tak mengajukan pertanyaan itu, mungkin saya tak akan menulis apa-apa. Dan saya langsung menutup layar komputer saya. Lalu, lalu saya pergi ke luar kamar, dan menggoda bebek tetangga. Bebek? Ya, Bebek. Kenapa pula mesti Bebek, bukan yang lain? Karena dialah satu-satunya binatang
yang sering menyapa saya tatkala saya pergi setiap hari ke kampus.
Ada-ada saja. Ada-ada saja bagaimana? Maksud saya, menulis itu tidak lah susah. Apapun yang melintas di otak kita, maka, jangan ragu lagi silakan saja tulis. Silakan saja perdayakan kata-kata itu. Saya pun begitu, apa saja yang mencoba melintas di benak, itu saya hantam, itu saya tulis. Tanpa memikirkan terlebih dahulu, bagus atau tidak kata-kata yang saya tuliskan. Mungkin, sekali lagi, bila saya hanya melulu memikirkan kata-kata yang bagus yang ingin saya tulis, terus terang, saya malah dibuat pusing, dan akhirnya otak pun mengalami”kejumudan”. Kejumudan? Apa itu? Nah, saya pun tidak tahu. Yang jelas, kata itulah yang muncul di otak saya. Maka, tanpa ragu, saya tulis saja. Sebab, katanya, tinggalkanlah keraguan. Keraguan akan menghambat proses apapun, termasuk aktivitas menulis.
Tiba-tiba saya teringat Mas Hernowo. Maaf, bukan ingat mas-nya, tapi salah satu buku beliau yang menginspirasi saya.”Mengikat Makna Sehari-hari”-judul bukunya. Apa isinya, dan bagaimana pula mengikat makna sehari-hari itu? Isinya, ialah bagaimana kita, dalam kesehariannya diisi dengan bermakna. Agar bermakna, kata Hernowo, kita diwajibkan setiap harinya untuk selalu membaca dan menulis. Lebih bermakna lagi bila kegiatan membaca kita, diteruskan dengan menulis. Menulis apa yang kita ingat dari hasil bacaan kita. Dan itu dilakukan setiap hari. Disiplin. Bila itu terlaksana, lihatlah keajaiban yang akan kita peroleh dari dua aktivitas tersebut. Dahsyat. Minimal, tulisan kita akan berwarna, lebih hidup, dan tentunya kaya kosa-kata baru. Mari membuktikan bersama.
Saya tak sanggup lagi meneruskan tulisan ini. Apa? Tak sanggup? Sudah habis kata-kata kah? Bukan itu maksud saya,Bung! Lalu? Maaf, kedua bola mata saya sudah lelah. Lelah? Maksudnya, mau berhenti menulis,kan? Ya!, saya berhenti sejenak saja. Tidak lama. Karena, betapa pun banyaknya kosa-kata saya, bila mata saya sudah lelah, saya tak sanggup berbuat sesuatu. Termasuk menulis. Termasuk juga kewajiban saya pada sang satu. Begitukah? Ya. Terimaksih mataku. Terimakasih mata-Mu. Terimakasih juga mata-matamu semuanya.

Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat