Curhat Dari Pemredku....(ketika editing) 24

Jumat, 16 Apr '10 16:28

Suatu ketika, malam itu…..

Suatu ketika, aku berada diantara mereka di teras kantor redaksi. Mereka perempuan yang sibuk dengan kesibukannya masing-masing. Tepatnya saat kantor redaksi dalam proses penerbitan majalah edisi yang kesekian kali. Malam ini sudah terlalu larut, dan aku pun belum juga memejamkan mata, karena yang ada dihadapanku adalah tanggungjawab yang harus segera ku selesaikan. Tulisan yang telah dikirim ke kantor redaksi adalah menjadi tanggungjawab kami untuk mengolahnya menjadi tulisan yang lebih menarik tanpa harus mengubah inti atau maksud penulis. Beberapa hasil investigasi kru akan diolah menjai tulisan tanpa meninggalkan Paradigma Pemikiran Alternatif.
Diiringgi lagu ‘anyam-anyaman’ diselimuti malam yang semakin sunyi, jam menunjukkan waktu 01.05 tengah malam, terkadang kondisi seperti inilah yang akan menghidupkan ruang-ruang kecil disetiap sudut kampus dengan aktifitas seorang mahasiswa yang tidak pernah berhenti untuk berkarya.
Disudut lain masih diruang redaksi perempuan energic menggumamkan bibirnya mengikuti lirik lagu yang menemani sedari tadi, sambil menyelesaikan beberapa artikel yang ditulisnya ‘Dunia Semakin Sempit Dengan Kebohongan-kebohongan Yang Dibuat Birokrasi’. Sedang disampingnya masih ku lihat perempuan ayik ‘chating’ dengan beberapa aktifis, sebenarnya hanya bahasan ringan yang mereka perbincangkan terkait dengan isu yang berkembang, namun, karena petuah mereka bisa menjadikan ghiroh menghidupi kampus gersang ini, (jadi…Chating aja).

Di sisi lain masih di ruang redaksi ini, gendang telingaku masih menyapa suara keyboard komputer, entah siapa yang menggunakan komputer dalam ruangan berukuran 5x6 meter itu yang pasti aku menghirup asap rokoknya. Dan…aku kenal dengan rokok ini, rokok yang biasa dihisapnya, pasti pimred “buletin kampus“ masih menyelesaikan tanggungannya karena dikejar deadline dan besok pagi harus terbit, fikirku saat itu. Sssst….sssttt ku dengar ada yang keluar dari ruangan itu. Dia ternyata butuh secagkir kopi untuk menemani menyelesaikan beberapa tulisan dan melancarkan otot-otot yang ada dikepala, mungkin untuk mengurangi kejenuhannya menghadap layar. Tak lama kemudian lelaki berbadan kurus itu menyapa kembali layar komputer dan segera menyelesaikan tulisannya sebelum matahari menyapa lebih dahulu.

Masih ada sepasang laki-laki perempuan disampingku yang belum kutuliskan. Asyik dengan perbincangannya, bukan selebritis atau hal yang melankolis yang mereka perbincangkan, namun tentang ‘Berkembangnya teroris di negeri kita’ bukan perdebatan yang mereka perbincangkan, namun mencoba berfikir kritis atas isu yang berkembang saat ini, semua media mengangkat isu yang sama tentang bank century dan teroris. Dan isu yang berkembang selalu muncul untuk menutupi isu yang lain ‘belum tuntas penyelesaiannya atau masih menggantung’. Secangkir kopi dihadapan sepasang ini diseduhnya bergantian, mereka tidak berfikir bahwa ‘gak elok’ minum secangkir kopi berdua bahkan berempat, berlima kerena ini sudah terbiasa dan kebersamaan saudara yang kami jaga.
Berjam-jam mereka sibuk dengan aktivitasnya masing-masing, sesekali masih ada mahasiswa lain yang berkeliaran dan pandangan mereka pasti tertuju pada kami. Entah apa yan ada dalam benak mereka ‘jam segini-hampir menjelang pagi perampuan kok masih melek-an’ (mungkin itu).
Lelaki kurus diantara kami tiba-tiba melontarkan kata-kata ‘heh cah kok wis ngantuk aku, opo yo turu ae…penak e’ setelah dia selesai berbincang dengan perempuan itu. Ntah karena kata-kata dia atau apa, yang membuat kami tiba-tiba membuyar dan satu persatu masuk ke ruangan 5x6 meter itu dan mencoba untuk memejamkan mata, meski terpaksa.

Hanya aku yang sampai detik ini belum bisa memejamkan mata, bahkan sampai hujan menjemput pagi yang dikirimkan sang Hiang Widhi untuk ketentraman seisi alam raya. Entah apa yang kupikirkan, tentang perempuan, tanggung jawab, kampus, kawan-kawan seperjuangan dan….dan…… ’terkadang aku dan yang lain memang terserang penyakit ‘Insomnia’ yang tak terlepas dari kondisi kampus, pergerakan, bahkan amnesianya bangsa ini. Yang ku lakukan dengan beberapa teman bukanlah hal yang ngoyo tapi mencoba untuk hidup kembali.

*Akhirnya ‘Selamat Tidur Kawan’ Semoga apa yang kita lakukan malam ini bahkan yang kemarin dan seterusnya membuahkan hasil, setidaknya memberi kehidupan baru di kampus kita yang gersang ini (mumpung kita masih di kampus). Karena ketajaman pena mu akan menghidupkan kembali ruh perggerakan dan kampus ini hidup kembali*

Good Night……………..^_^

kantor redaksi

 


Tag: Percakapan disuatu Pagi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

nenden pabelanis 0 0
yoo gak jauh beda dengan suasana malam sabtu setiap minggu di kantor redaksi LPM Pabelan..
andi_tulungagung 0 0
nenden pabelanis: he....6x tp aku terharu ketika pemredku nulis kyak gt???
ketoles ARBIMAPALA 0 0
Menarik bung andi,
andi_tulungagung 0 0
ketoles ARBIMAPALA: ni tulisan au ambil dari bu pemred
Oo Zaki 0 0
Ehmm... ehmm... Uhuk.. Uhuk... : D : D : ))
andi_tulungagung 0 0
Oo Zaki: apani maksutny?????
nenden pabelanis 0 0
andi_tulungagung: ohh.. ini tulisannya pemredmu to?
hehhehe
andi_tulungagung 0 0
nenden pabelanis: yup so au kan terharu sbg wujud penghargaannya au upload he....5x
nenden pabelanis 0 0
andi_tulungagung: kenapa gak diajak ikut persma.com aja?
si berang-berang 0 0
tulisan yang menyegarkan...
fu'ah DIMENSI 0 0
huf.... tulisan dengan balutan perasaan. jurnalisme yang benar-benar menghanyutkan..
andi_tulungagung 0 0
nenden pabelanis: g;buleh sama PU nya ckckckck
A. candra BP2M 0 0
setengah malam telah dilalui bersama....pastinya, tanpa meninggalkan secangkir kopi. hmmm...ternyata sama aja ya...kebiasaan seperti itu juga terjadi disini tah???
andi_tulungagung 0 0
A. candra BP2M: persma selalu lekat dengan kopi dan rokok (bagi yang rokok) cz itu merupakan sumber ide, tetap semngat dan trus berkarya
Wahyu Eko P 0 0
andi_tulungagung: tulisan yang berbalut ,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,,, wkkkk wkkk
The President's 0 0
andi_tulungagung: kenapa seorang pimred masih bisa diitervensi oleh PUnya,ada apa masih ada diktatorial seperti itu,melarang kadernya untuk berkreasi & berexpresi?
The President's 0 0
Wahyu Eko P: berbalut perasaan dan beralaskan penderitaan.....
hehehehehehehehehehe
andi_tulungagung 0 0
The President's: wah kl itu tanya aja ma PU nya sendiri ckckckck
The President's 0 0
andi_tulungagung: mau nanya gmn lwong pimrednya tdk masuk dihttp://persma.com/
trus gmn.....?
saya kira itu adl tugasnya sahabat utk menanyakannya.....!!!
andi_tulungagung 0 0
The President's: The President's: maksutku nanya ma PU nya gt lo boz....
Wahyu Eko P 0 0
The President's: betul jga kamu
andi_tulungagung 0 0
Wahyu Eko P: layo
andi_tulungagung 0 0
curhatnya menarik.....ditunggu lagi cuthat selanjutnya
Wahyu Eko P 0 0
andi_tulungagung: curhat bertabur ..........?????????? wkk wkk

Silahkan login untuk memberikan pendapat