BRENGSEK!!! 15
Jumat, 16 Apr '10 12:28
Jangan salahkan aku mengapa aku berkata demikian. Itu hanyalah ekspresiku untuk mengungkapkan perasaan yang aku pendam ini, sebuah rasa kebencian yang teramat...
Aku selalu bilang ke teman-teman ku, aku benci dengan orang berseragam itu. POLISI. Aku benar-benar membencinya. Walau terkadang, ketika setiap pagi-pagi sekali, aku pulang dari kampus menuju rumahku, dia selalu menolong ku untuk menyeberang jalan pagi yang begitu ramai, namun rasa benci yang aku miliki tetap tidak terganti.
Aku sendiri juga tidak pernah tahu, mengapa aku benci dengan POLISI. Memori lama yang paling aku ingat saat itu adalah, ketika suatu kali, aku dan ayahku pergi ke kota untuk membeli peralatan sekolah, --karena memang aku berasal dari pelosok desa-- di perjalanan pulang kami terhenti karena polisi sedang mengadakan operasi, namanya ‘momen' kalau di tempat kami. Aku sudah menduga, ayah ku memang tidak memiliki Surat Izin Mengemudi (SIM) akhirnya kami harus berhenti sejenak di kantor polisi terdekat untuk mengadakan pendataan. Waktu itu seorang petugas dengan beberapa lembar kertas di depannya, menanyakan ‘bawa SIM?' ayahku yang memang sudah tua dan udzur menjawab ‘tidak pak..' dari sudut bibirnya, aku melihat sang petugas menyunggingkan senyumannya yang hanya sebelah. Aku tahu, ayahku memang salah, senyuman itu membuat aku berfikir sesuatu yang berbeda. Aku pun tidak menekankan pada kesalahan ayahku, tapi sikap polisi itu. Walau saat itu, aku masih kelas dua SMP tapi saat itu aku tahu, senyuman itu memiliki banyak sekali makna. Dan entah, panggilan dari mana. Ada rasa yang begitu ‘tak biasa' di anganku, yang kemudian lama-lama aku memahi rasa itu dan menyebutnya sebagai BENCI.
Kejadian berikutnya yang aku ingat adalah, ketika aku lulus SMA, dimana aku harus mengurusi SKBK (Surat Kelakuan Baik Kepolisian), dimana aku harus mengurus di kantor kepolisian dekat rumahku. Di sana, yang paling aku ingat, ketika Ibu ku dengan pakaian sederhana khas petani, benar-benar bukanlah sosok yang harus dilayani secara ‘manusiawi' oleh polisi tersebut. Dibentak, diacuhkan... itu yang aku ingat. Rasa yang sebelumnya aku pendam lama muncul kembali, BENCI.
Kejadian lain lagi, ketika memasuki dunia perkuliahan. Dunia yang sedikit mengenalkan aku tentang dunia mahasiswa, dunia idealisme dan pergerakan. Aku melihat banyak sekali teman-teman seperjuanganku yang dipukul, dihajar dengan paksa, walau saat itu aku hanya melihatnya lewat tayangan film. Film pergerakan mahasiswa tahun 1998 yang lalu. Rasa itu kembali datang dan sangat mengakar, BENCI.
Dengan modal ‘sedikit' idealisme aku mencoba untuk berjuang di dunia pergerakan. Walau pergerakan yang aku pilih adalah lewat tetek bengek tulisan, atau ‘media' begitulah biasanya disebut. Liputan tentang aksi turun jalan teman-teman mahasiswa di gedung dewan setempat menjadi tugasku saat itu. Dengan mata kepala ku sendiri, aku melihat apa yang sebelumnya aku lihat di tayangan film dan beberapa berita di tivi tentang bentrokan mahasiswa dan polisi. Dipukul, dihajar, dibentak bahkan diseret dengan paksa, dijambak...di dan di di yang lainnya. Rasa itu kembali menjadi sangat memuncak, BENCI. Bahkan bisa dikatakan, aku sangat BENCI polisi, bagiku polisi dan mahasiswa bukanlah satu sisi yang saling beriringan.
Sampai hari ini, polisi dan bolo-bolonya, TNI angkatan darat, ABRI, satpol PP atau apalah itu, asalkan mereka berseragam dengan wajah yang ‘sok' garang itu, bukanlah orang yang menarik untuk aku kenal. Mindset tentang kegarangan mereka sudah sangat terekam dan tersimpan dengan jelas di benakku. Preman berseragam, mungkin itu kata yang sangat pas bagi mereka.
Kejadian paling akhir yang sangat membekas adalah, peristiwa penggusuran lahan makam Mbah Priuk di Koja, Jakarta Utara, dimana banyak sekali korban yang terluka bahkan tewas. Kenapa, rasa yang aku miliki ini semakin lama semakin kuat dan sangat kuat bahkan teramat kuat??
Itulah mengapa aku BENCI polisi, jangan pernah tanyakan padaku lagi ‘mengapa'? karena aku hanya akan bilang, BRENGSEK!!!
Nunung Afu'ah DIMeNSI Tulungagung
Tag: Kritik
Terkait:
-
Kritik dan Peradaban
Kamis, 22 Des '11 11:08 -
Buat Kamu yang (Sedang) 'Sakit'
Kamis, 15 Apr '10 10:17 -
Rumah Sakit yang tidak me'rumah'kan orang sakit
Selasa, 6 Apr '10 01:41
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sisca civitas: Bagus
-
riwut purdianto: Responsif
-
Wahyu Eko P: Bagus
-
imaen: Biasa
-
Irsyad Pabelanis: Biasa
-
faruq pabelanis: Bagus
-
andi_tulungagung: Perlu
-
rina: Bagus
-
diaz..bram: Perlu
-
Oo Zaki: Responsif
-
ppmi_ta: Perlu
-
Rizki: Bagus
Komentar:
klo versiku mgkin jdulnya bkan Brengsek,
tapi J****k....
ha3x..
yah, sy jg prnh jd korban polisi2 korup, kena tilang tp mnta duit damai,, siaL..
tapi semua karena birokrsi yang ma'af djancok itu tadi, semua menjadi rusak. saya juga anti yang brengsek-brengsek tersebut, tapi mereka menjalankan titah yang membawa djancok
tapi semua karena birokrsi yang ma'af djancok itu tadi, semua menjadi rusak. saya juga anti yang brengsek-brengsek tersebut, tapi mereka menjalankan titah yang membawa djancok
tidak lebih.
haha,
emosional sekali kita semua.
kita??
kita??
Silahkan login untuk memberikan pendapat