phobia school 3
Selasa, 13 Apr '10 21:58
Ketika Sekolah Menjadi Phobia Bagi Siswa
Fenomena pelaksanan UNAS yang menimbulkan pro-kontra di kalangan prkatisi pendidikan ternyata menyedot perhatian public. Banyak kalangan akademisi mengkritik pelaksanaan UNAS tersebut. Di sisi lain pemerintah atau khususnya Dediknas tetap ngotot mempertahankan eksistensi unas.
Dalam sebulan terkahir, banyak berita yang menayangkan tentang penolakan Unas oleh kalangan praktisi pendidikan. Mulai dari murid, guru sampai kalangan pemerhati pendidikan banyak yang memprotes tentang pelaksanaan unas, tidak ketinggalan komnas HAM jug angkat suara tentang pelaksanaan unas di Indonesia.fenomena tersebut terjadi karena banyak kalangan masyarakat yang menilai bahwa pelaksanaan Unas tersebut hanya akan membuat ketakutan pada diri siswa. Menurut Komnas HAM melaksanakan Unas sama saja dengan merampas hak anak-anak. Karena menurut mereka dunia anak-anak adalah dunia penuh kesenangan dan keceriaan dan itu harus dilindungi.
Dalam sesi lain mereka juga mengangggap Unas tidak diperlukan. Menurut mereka Unas tidak dapat dijadikan patokan kelulusan siswa karena dalam kenyataanya Unas hanya bisa menilai hasil belajar siswa dari aspek Kognitif saja. Padahal dalam proses pembelajaran aspek Psikomotorik dan afektif juga sangat berpengaruh terhadap keberhasilan siswa. Mereka menyayangkan dengan pelaksanaan unas bisa saja siswa yang pandai pada aspek psikomotorik tidak dapat mencapai standart kelulusan.
Selain itu kalangan siswa banyak yang mengeluh pelaksanaan tentang pelaksanaan Unas tersebut. Banyak siswa yang menganggap Unas sebagai sosok yang angker dari suatu sistem pendidikan. Ada juga yang menyerupakan unas sebagai monster dari dunia pendidikan itu sendiri. Dampaknya, banyak siswa yang takut dengan sekolah. Dan siswa yang yang telah lulus enggan untuk melanjutkan ke jenjang yang lebih tinggi.
Sebenarnya yang menjadikan phobia bagi siswa tidak hanya pelaksanaan unas tersebut. Pengaruh sistem pembelajaran yang buruk juga kerap kali menjadikan siswa enggan untuk pergi ke sekolah. Siswa lebih memilih untuk pergi ketempat hiburan atau bolos sekolah daripada belajar di dalam kelas. Sebagian diantara mereka merasa takut untuk pergi ke sekolah, karena kalau pergi yang akan ditemui hanyalah suasana yang tidak menyenangkan dan tidak jarang menakutkan.
Disinilah peran serta pendidik sangat dominan. Pendidik harus bisa aktif untuk menciptakan Suasana belajar yang menyenangkan. Janganlah mencerminkan bahwa belajar itu susah dan menakutkan. Paradigma pendidik yang sebelumnya sebagai diktator yang bebas mengatur siswanya sesuai kehendaknya harus dirubah. Sekarang peran pendidik adalah melayani dan membimbing anak didiknya untuk bisa menguasai pelajaran. Hal inilah yang kerap kali di lupakan oleh para guru sekarang ini.
Tag: pendidkan
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Wahyu Eko P: Perlu
-
sisca civitas: Perlu
-
andi_tulungagung: Bagus
-
faruq pabelanis: Bagus
-
Irsyad Pabelanis: Bagus
-
hanif: Penting
-
Rizki: Bagus
-
ppmi_ta: Perlu
-
Oo Zaki: Biasa
-
elkhoss_dimensimedia: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat