Ingar- Bingar Manusia Pasar 0

Sabtu, 10 Apr '10 14:20

 

Seringkali orang tidak menyadari dan merasakan apa yang dia pegang, dia miliki, dia lihat, bahkan melalaikan kehendak hatinya sendiri, terbawa dalam pandangan kognitif terhadap dunia material yang terlalu cepat dan mudah berubah. Belum lagi seiring cepatnya laju perubahan era globalisasi dan neoliberal kebanyakan orang meraih sekenanya untuk mempertahankan hidup termasuk menghalalkan berbagai cara. karena baru sekarang ini potensi ilmu-pengetahuan dan teknologi mencapai kemampuan yang luarbiasa untuk menghasilkan kekayaan, kelimpahan dan kesejahteraan yang begitu cepat. Namun demikian, pada saat yang sama, dan tak pernah terjadi sebelumnya, kesenjangan dan ketidakadilan di dunia juga semakin tajam.

Ditambah kondisi pendidikan kita yang selalu memposisikan manusia sebagai objek proses transver pengetahuan dan guru sehingga sumber pengetahuan hanya terpaku pada otak dan  nalar tanpa pernah  mengajak manusia agar mengasah ketajaman hati dan rasa ketika menyikapi realitas hidup yang serba berubah.      

Hidup menjadi tak ubahnya bak rutinitas yang tiada pernah berakhir, karena manusia kehilangan kediriannya untuk kreatif mewarnai dunia dan terjebak dalam dikotomi ekstrem antara idea dan dunia material. Namun kita semua sama tahu diantara dua pandangan ini tidak ada yang bisa mencapai subtansi kebenaran yang diidamkan. Manusia hanya mampu hidup dan bergumul dengan dunia yang serba tidak pasti ini dengan segenap kapasitas panca indera, kekuatan hati, akal, ketajaman rasa dan kasih sayang. Dengan begitu ia bisa sepenuhnya berani dan bebas tenang menghadapi hidup.

Dengan perkembangan jaman modern, kebanyakan manusia munafik pada dirinya sendiri, menutupi kondisi kejiwaannya. Bayangan-bayangan  akibat kausalitas rasio menjadikannya tenggelam akan ketakutan-ketakutan dan batasan-batasan yang dibuat sendiri. Dampaknya perlahan ia mulai dihantui ketakutan-ketakutan terhadap tantangan yang menurutnya akan dia dihadapi, sedikit banyak muncul kesangsian pada kemampuannya sendiri dan masyarakat.

Orang menjadi sangat terasing dan terlantar dari kehidupannya sendiri. Karena apa yang dia lakukan tanpa berlandaskan dari kediriannya didalam dunia dan alam. Apa lagi dampak dari kehidupan yang terus dipacu oleh persaingan-persaingan globalisasi menuntut manusia untuk meraih kompetensi sekuat tenaga. Manusia dituntut memiliki daya tawar yang dapat ditarungkan dengan orang lain. Sehingga seringkali tuntutan akan target ini telah membuat manusia melupakan otentitas dirinya sendiri. Efektifitas dan efisiensi seolah menjadi harga mati yang tidak bisa ditawar tawar lagi sehingga manusia melupakan penghayatan akan dirinya. Hukum rimba terulang lagi namun dengan bungkus yang lebih cantik bahkan menarik.

Parahnya lagi karena kegelisahan dan ketakutan akan ketidak berhasilan tuntutan ini manusia seringkali membohongi dirinya sendiri. Berbohong dengan apa yang dilihat, dan apa yang dirasakan, sehingga seringkali apa yang dia katakan berbeda dengan kehendak hatinya. Namun sayang, banyak praktek–praktek institusi dalam masyarakat kita yang menjadikan kebohongan layaknya sebuah kebiasaan. Kerap kali kita temukan banyaknya persoalan yang dibutuhkan kebohongan agar berhasil sesuai dengan target yang diharapkan. Seperti proses pendidikan yang kita kenyam sehari-hari. Seorang siswa seringkali dipaksa harus menjawab sesuai dengan panduan dan bimbingan dari guru meskipun itu tidak sesuai dengan pengalaman yang ia dapatkan karena jika tidak sesuai dengan tuntunan sang guru maka ia tidak akan lulus ujian.

Masalah ini sekilas memang hal yang sering kita lupakan dan jarang kita pahami untuk diraba dalam ruang diri kita. Tanpa rasa kemanusiaannya, manusia menjadi layaknya hewan liar yang pintar dalam menggunakan berbagai trik untuk mencari mangsa. Maka dari itu menjadi sangat penting untuk kita renungi dan kita fahami, ditengah badai krisis dimensi kemanusiaan era pasar bebas.

Manusia sudah selayaknya berdiri atas kesadaran penuh kemanusiaannya, pada posisi manusia otonom, atau dengan bahasa lain yakni manusia otentik. Dunia material akan selalu berubah, otonom bukan pula kemudian cuek dengan apa yang terjadi dan kondisi dunia material tau malah memaksakan segenap ide dan gagasannya, akan tetapi lebih pada proses penghayatan terhadap dunia ini, bergumul, melebur bersamanya dan mewarnai dunia dengan segenap kapasitas akal indera, kesadaran diri, perasaan dan cinta.

  

 

 


Tag: Kurikulum Liberal Arts Tawaran Menarik bagi Pendidikan Indonesia

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Silahkan login untuk memberikan pendapat