Edi; Gejolak dalam Penjara 9

Selasa, 6 Apr '10 06:30

"Brengsek! Sudah 2010!" umpatnya. Matanya menerawang. "Padahal kemarin saya mengharapkan waktu berhenti, jam dinding tak lagi berdetak!"

"Ada apa Mas?" tanya saya. Ia mengalihkan tatapannya ke permukaan tanah, "karena saya gagal berhadapan dengan perubahan," jawabnya. "Saya mati rasa, otak beku."

Setelah itu kami berdua hening seketika. Masing-masing saling menunggu. Belum ada yang memulai lagi pembicaraan. Suara-suara kecil yang tadinya sayup menjadi semakin jelas. Terdengar juga suara nafasnya, seperti sedang memburu sesuatu. Dia seperti sedang berdiri pada puncak gejolak paling bergetah dalam hidupnya. Semacam gejolak yang sunyi tapi mengguncang di dalam dada, diam tapi menjerit di ujung batin.

Edi, Edi Wibowo, mahasiswa Sastra Inggris Fakultas Sastra Universitas Jember (FS Unej) angkatan 2002 itu kini harus mengakui, pada satu aspek, betapa kejam sebuah perubahan. Meski Edi menyadari pula, bahwa pada wajah-wajah yang kita tegur sapa sepanjang waktu, kawan-kawan yang sebagian kita akrabi sungguh, pada percakapan-percakapan, pada perpindahan dan gerakan-gerakan yang coba kita kenali, dan secara luas, pada laju hidup dan sejarah: "tidak ada yang abadi selain perubahan itu sendiri."

"Sampai di sini (Jember), kita serupa gelas kosong," ucapnya suatu kali, di sebuah warung kopi, "lambat laun, kita akan terisi. Gelas pasti akan berontak ketika sudah penuh," lanjutnya. Kami bicara panjang lebar sampai pagi, hingga kopi tinggal ampas." Malam itu adalah momen pertama saya mengenal Edi lebih dekat. Namun itu sudah lama sekali, tiga atau empat tahun lalu.

Apakah  hujatan Edi- brengsek -tiba-tiba keluar dengan sendirinya,  independen, tanpa melibatkan entitas-entitas di luar dirinya? Edi sendiri beberapa kali pernah bilang, bahwa diri sekalipun, tidak pernah benar-benar independen. Bahkan apa yang dianggap "diri," kata Edi, sesungguhnya tidak pernah benar-benar ada- bahwa diri -tidak lebih dari akumulasi, atau sintesa dari intervensi-intevensi pengalaman.

"Kemarin Pak Hadiri (PD III FS) menghampiri saya, awalnya ngobrol soal ikan, eh,  skripsi dan kuliah saya disinggung juga," kenang Edi. Ia tersenyum. "Saya bilang, masih ada kuliah, semester depan juga masih ada satu mata kuliah, sosiolinguistik. Padahal dia (Pak Hadiri) yang akan ngajar sosiolinguistik." tambahnya. Edi masih tersenyum. Ia menatap saya lebih akrab. 

Jumat lalu (26/02), kami ngobrol lagi di alun-alun Jember ketika bulan hampir purnama. Ada yang tak pernah berubah dari Edi sepanjang saya mengenalnya, yakni tatapannya yang seolah menyimpan penjara. Ia memang sedang menyimpan penjara. Bahkan kini penjara itu Ia saksikan semakin hebat membelenggu. Edi tidak menyebutnya penjara. Barangkali saya agak berlebihan. Tapi kami sama-sama sepakat belenggu-belenggu itu beroperasi layaknya penjara. Sama-sama mengurung. Dan penjara itu -bernama kampus FS Unej- lengkap dengan belenggu-belenggunya.

Belenggu pertama, kata Edi, adalah waktu. Bukan waktu dalam pengertian umum. Namun waktu terkait proses akademiknya di FS. Edi satu-satunya mahasiswa Sastra Inggris angkatan 2002 yang masih bersatus mahasiswa. Jika dihitung, Ia sudah menjadi mahasiswa selama delapan tahun, dikurangi satu tahun ketika ia memutuskan terminal pada tahun 2006.

Belum juga diwisuda (pada hari sabtu) setelah kuliah tujuh tahun bagi penilaian umum adalah patologi. Titik. Dan ada sangsi moral yang harus ditanggung oleh mahasiswa-mahasiswa seperti Edi. Hal ini terkait erat dengan sistem yang diberlakukan di kampus: maksimal tujuh tahun. Edi menanggung patologi karena ia 'hampir" melanggar sistem. Dalam hal ini sistem mendapat legitimasi lebih kuat karena unsur kekuasannya yang memaksa. Artinya siapapun yang ditentukan berada di bawah kendali sistem tersebut harus tunduk. Selain itu unsur-unsur yang dinilai berada di luar produk legislasi (sistem) akan cenderung-malah otomatis akan diabaikan. Sehingga waktu (Edi) dipenjara sepenuhnya oleh sistem. Ia harus menyelesaikan kuliah paling lama tujuh tahun, atau dikeluarkan. Hanya itu pilihan yang tersedia.

Belenggu kedua, ungkap Edi adalah absensi dan nilai (A B C D E). Meskipun Edi mengamini harus ada reward and punishment, namun ia menyayangkan ternyata dua hal tersebut, baik absensi maupun nilai telah menjadi orientasi tunggal bagi sebagian besar mahasiswa, dan mengamputasi proses-proses lain yang jauh lebih substantif. Pada akhirnya intelektual-intelektual yang lahir dari kampus tidak lebih dari sekedar generasi "portopolio," angkatan kerja yang paling banyak hanya siap bekerja untuk diri mereka sendiri.

Saat saya tanyakan alasan Edi kenapa Ia belum juga merampungkan kuliah, jawaban pertama yang Ia berikan adalah "malas." Namun dibalik itu, dari percakapan-percakapan "intim" yang sering kami lakukan, ada sesuatu yang lebih idealis dibandingkan dengan "malas," yakni sebuah keterasingan besar yang berangkat dari kekecewaan dan hasil pembacaan kritisnya melihat gejala-gejala degradasi di kampus, semacam depresi pasca melahirkan.

Edi mengaku langsung kecewa dengan kondisi di kampus, bahkan ketika untuk pertama kalinya masuk FS Unej. "Apa yang saya bayangkan sebelum masuk kampus ternyata tidak sama dengan apa yang saya saksikan," ungkapnya. Ia membayangkan kampus dipenuhi dengan orang-orang kreatif dan progresif. Meskipun tidak memiliki memori sepenuhnya tentang kondisi-kondisi (ideal) tersebut, tapi Ia berani mengklaim bahwa ada yang salah dengan kampus. Siapapun yang melakukan penilaian kritis juga pasti akan mengungkapkan hal yang sama.

Nurani Soyomukti (2008) secara eksplisit menyebut pendidikan (kampus) sebagai anonim dari pesismisme budaya. Di mana kampus gagal melakukan komunikasi antara teks-teks akademik dengan dinamika sosial masyarakat. Alih-alih ada komunikasi teks dengan konteks, malah hal paling mendasar dari kampus, yakni sebagai tempat belajar (dalam arti sesungguhnya) dan ruang untuk memanusiakan manusia nyaris lenyap. Lebih jauh, Ia juga mencatat bahwa pesimisme terhadap pendidikan bukan hanya berasal dari orang-orang biasa. Pesimisme ini juga lahir dari filsuf dan tokoh-tokoh sejarah. "Everett Riemer menyatakan bahwa school is dead, dan Ivan Illich menggagas deschoiling society." Sementara Edi mengatakan, "saya berada pada tingkat pesimisme yang akut." Alamat pesimisme Edi bukan cuma FS Unej, namun kampus secara umum. "Lebih baik tidak ada kampus jika kondisinya tetap seperti ini," gemingnya.


Tag: kampus, Sastra, Edi, pendidikan Unej

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

dream-frog 0 0
beruntunglah mereka yang bisa segera keluar dari kampus, karena mereka tidak terlalu lama menderita.
zahrul - millah 0 0
tapi untung juga ada kampus, karena bisa memunculkan seorang Edi. Sedangkan soal penjara, itu soal "belakangan" yang juga merupakan "hasil" dari proses seorang Edi.
Themmy 0 0
sistem menjadi cara paling ampuh membuat mahasiswa berpikir cepat - cepat selesai dan melupakan tanggung jawab sosialnya.
Wahyu Eko P 0 0
sungguh brengsek, kampus tau apa tentang edi dlm hal ini, mahasiswa mencari nominal (A B C D dan E) atau ilmu dalam kampus. saya sadar akan sistem, tapi bukan penjara. teman saya juga hampir mirip dengan Edi. bukankah mencari ilmu tidak hanya didalam gedung . banyak nya sistem (aturan)akan semakin pula pelarian. penjara itu sistem. tapi saya agak sepakat dengan zahrul - millah: untung ada kampus maka terciptalah orang seperti edi.
ketoles ARBIMAPALA 0 0
Entah kenapa sya yakini, apa yang bugn zaki sampaikan, merupakan fakta yang terjadi hampir di semua kampus, degradasi telah terjadi, tidak ada pergerakan, tidak ada peningkatan keilmuan, tidak ada gerakan untuk membangun pemikiran yang khas Indonesia
diaz..bram 0 0
permasalahan klasik yang hampir di rasakan teman2 aktivis.....
PPMI Malang 0 0
karena kampus tak lebih dari sekedar rumah jagal yang bernama institusi....
si berang-berang 0 0
ayo bersama-sama (TIDAK) lulus cepat-cepat.
demi kemanusiaan.
Wahyu Eko P 0 0
si berang-berang: sieplah

Silahkan login untuk memberikan pendapat