Maaf, Belum Ada Beasiswa bagi Si Miskin 3
Selasa, 30 Mar '10 23:51
SETELAH pengumuman pendaftaran beasiswa dibuka beberapa waktu yang lalu, di depan kemahasiswaan FE Unej dapat kita saksikan betapa antusiame mahasiswa untuk mendapatkan beasiswa sangat tinggi. Banyak mahasiswa berkumpul untuk melihat persyaratan pengajuan. Ada pula yang telah menyerahkan formulir pendaftaran.
Cobalah perhatikan dengan seksama, banyak mereka yang mengajukan beasiswa, sambil menunggu menyerahkan formulir asyik bermain telepon genggam terkini yang memiliki aneka fungsi. Tentu kalau ditaksir harganya lumayan mahal, itu belum termasuk pulsa yang harus dikeluarkan untuk menunjang aneka fungsi yang ada bisa berjalan.
Menyaksikan fenomena ini, mengingatkan kami pada percakapan dengan PR 3 Unej, Andang Subaharianto, sekitar setahun lampu yang dikutip dalam Buldokc N0 40, Juni 2009, bahwa sejatinya semua beasiswa itu untuk mendukung mereka yang kurang mampu dalam meringankan biaya studinya.
Dengan realita yang ada saat ini, perlulah kita bertanya akan apa yang dipamahami mahasiswa hari ini akan fungsi dari beasiswa. Apakah benar digunakan untuk menunjang kegiatan belajar atau hal lainnya?
Hal ini adalah pertanyaan yang harus kita jawab bersama. Betapa mengejutkan ketika kami mendapati salah seorang mahasiswa FE yang telah berulang kali dapat beasiswa, dalam sebuah percakapan di sebuah warung dengan ringannya mengatakan, jika beasiswa kali ini bisa diraih, dia akan membeli sebuah kamera digital.
Itu baru dari satu sudut saja. Di sudut lain ada sebuah keadaan yang bertolak belakang. Kami dapati pula seorang teman, karena IPK yang merosot, akhirnya tak mendapatkan beasiswa. Padahal selama ini dari bantuan beasiswa itulah dia bisa membayar SPP dan membiayai aneka kebutuhan kuliah. Dan beasiswa itu tampaknya masih belum cukup, dia masih harus berangkat kuliah dengan mengayuh sepeda angin dari rumahnya yang terletak di daerah Mangli. Teman itu di semester lalu akhirnya memutuskan untuk cuti kuliah dulu, lantas bekerja.
Ya, kerapkali batasan IPK minimal 2.5 yang dicantumkan sebagai syarat menjadi penghambat seseorang untuk memeroleh beasiswa. Terutama bagi mereka yang tidak mampu. Tentu bisa dibayangkan bagaimana sulitnya mendapatkan IPK bagus, jika kuliah tidak ditunjang sarana belajar yang memadai karena terhadang biaya. Hal itu akan lebih sulit lagi jika sebagian waktunya digunakan untuk bekerja.
Meski ada surat keterangan tidak mampu (SKTM) dari desa yang bisa membantu, tapi surat itu tidak lagi mujarab untuk menentukan seseorang miskin atau tidak. SKTM saat ini mudah sekali didapatkan. Terlebih prasyarat pengajuan beasiswa kali ini lebih longgar, tanpa harus dilengkapi rekening listrik atau pelunasan pajak bumi dan bangunan lagi.
Akibat prasyarat IPK minimal ini pulalah seorang teman yang sempat pula menjadi loper koran saat senggang kuliah, mengatakan percuma saja mengajukan beasiswa, toh pasti akan ditolak. Tampaknya IPK-nya yang kurang dari 2.5 membuatnya putus asa dan memutuskan tidak mengajukan pendaftaran beasiswa.
Hal ini perlu disikapi segera. Selain dari sisi mahasiswa yang perlu refleksi kemapuan ekonomi diri sebelum mengajukan pendaftaran beasiswa. Dari segi kebijakan kami rasa perlu alokasi beasiswa bagi mereka yang benar-benar tidak mampu, tanpa prasyarat apapun kecuali kondisi ekonomi. Selama kebijakan itu belum ada, maka maaf saja, belum ada beasiswa bagi si miskin! [Redaksi] Editorial Buldokc # 49 Maret 2010.
Tag: Pendidikan, beasiswa
Terkait:
-
Sekedar INFO, bolehkan? Kali aja ada yang berminat.
Sabtu, 12 Nov '11 14:23 -
Semakin Tinggi Penghargaan Manusia Terhadap Kekayaan, Semakin Rendahlah Penghargaan Manusia Terhadap Kebenaran, Keadilan, Kesusilaan, dan Nilai-Nilai Kemanusiaan
Rabu, 12 Okt '11 02:08 -
Belajar = Proses, Bukan Urusan Ponten
Selasa, 9 Agu '11 13:22
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
nody arizona: Perlu
-
Wahyu Eko P: Responsif
-
Debrina Civitas: Responsif
-
mas hery: Penting
-
Rizki: Responsif
-
Oo Zaki: Penting
-
diaz..bram: Penting
Komentar:
dalam hal ini perlu adanya tawaran konsep yang konkrit dan efisien guna membantu teman2 kita yang kurang mampu untuk mendapatkan beasiswa.
apakah itu bisa dilakukan dan diperjuangkan oleh teman2 LPME ECPOSE demi memperjuangkan ateman2 yg tdk mampu.......?
kesuksesan sekarang ada ditangan anda....
Kemarin, teman2 ecpose dipanggil dekanat karena tulisan ini. Sedikit ada perdebatan terkait editorial ini, yg dianggap memojokkan pihak penyeleksi beasiswa.
TAwaran kami ada ruang bagi yang tidak mampu untuk mendapatkan beasiswa, tidak ada prasyarat IP. Kami bilang, bagaimana mau dapat IP bagus kalau prasarana mereka tidak terpenuhi, apalagi kalau sambil kerja.
Meski pak dekan bilang yg tidak mampu menjadi prioritas. Belum ada mekanisme untuk verifikasi data. Asumsinya semua data yg ada dianggap benar. TApi data dilapangan mengatakan surat keterangan tidak mampu, kartu keluarga, dan penghasilan orang tua mudah dimanipulasi.
Kalau untuk ada beasiswa khusus untuk yang tidak mampu kami akan coba untuk mempengaruhi kebijakan di tataran universitas. KArena fakultas tidak bisa berbuat banyak. Aturannya membatasi IPK minimal penerima beasiswa 2.5.
HArapannya ke depan janji PR 3 Andang Subaharianto seperti ditulis di Buldokc 40 Juni 2009, bahwa perlua da beasiswa khusus tanpa prasyarat IP/IPK bisa direalisasikan.
Itulah beasiswa yang mampu mengakomodir si miskin.
Silahkan login untuk memberikan pendapat