Membongkar Audio Visual Yang Enggan Berbenah 1
Kamis, 25 Mar '10 11:20
Waktu dulu, ketika saya masih duduk di bangku SD, saya keterbiasaan menonton serial drama di layar televisi. Namun keterbiasaan itu tak muncul setelah dewasa ini. Jujur dari dulu sampai sekarang saya masih ogah melihat layar yang menyuguhkan sinetron percintaan. Bukan saya benci sih, sinetron yang putus dari Si A, jadian dengan Si B lalu kembali lagi ke A dan terus-seterusnya, hanya saja saya muak dengan gaya mode yang mereka peragakan. Hal ini diperkeruh dengan suguhan-suguhan audio visual (TV), yang menyuguhkan berbagai acara yang bernuansa roman picisan (romantisme). Misalnya realty show Kontak jodoh, Talk Hime Out, Cinta Lama Bersemi Kembali (CLBK), Plaboy kabel, Back street dan masih banyak yang lain. Masih ingatkah kita dengan tayangan WWF, ya, edegan adu jotos dan terjangan itu, sempat menduduki tangga paling atas pada acara televisi. Bahkan atas tayangan tersebut harus ada ibu yang kehilangan buah hati untuk selamanya, dikarenakan meniru apa yang di lihat di dalam tayangan WWF tersebut. Belum lagi suguhan musik yang bernuansa romantisme. Lirik lagu yang cengeng dan lebai, sehingga mereka tak mau berpikir. Padahal sejatinya manusia dituntut untuk berpikir. Saya bukan pembenci sinetron dan suguhan-suguhan diatas. Tapi saya labih suka pergi kewarung dan minum secangkir kopi pahit, dari pada harus duduk diam memawas lakon-lakon yang sejatinya di lakonkan.
Apa Jadinya Sekarang ?
Persoalan diatas membuat kaum muda mengadopsi dari gaya mode trendy masa kini. Mulai dari bagaimana cara bercinta, menemukan cinta sampai harus meninggalkan cinta. Rambutnya pun tak lepas dari adopsi sang lakon dari sinetron diatas. Gaya berjalan dan berbajuan mereka ogah menjadi dirinya sendiri. Mereka beralibi “kalau gak gini bukan pemuda”. Padahal mereka sebenarnya mampu untuk berpikir untuk memikirkan disekelilingnya. Anak-anak yang sedang duduk di sekolah dasar (SD), dan sederajatnya, lebih memilih menghafalkan lirik lagu yang cengeng dari pada menghafal materi yang telah diberikan gurunya. Mereka lebih memilih menonton Dahsyat, Talk Hime Out , dan Cinta lama Bersemi Kembali di layar televisi dari pada harus duduk sambil membaca buku. Ini bentuk reel, yang dipersembahkan oleh media audio visual yang enggan berbenah. Lebih cenderung mereka-reka dari pada membina.
Kapan ya, saya dapat melihat sejarah perjuangan bangsa ini, berkaca dilayar tetevisi. Saya sudah capek pergi ke warung kopi, ketika di rumah lagi sepi. Steakholder media audio visual, tulisan ini tak bermaksud membongkar kemudian berhenti. Namun hemat saya, membongkar lalu kemudian membebahi yang enggan berbenah. Semoga !
Tag: audio visual
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sisca civitas: Perlu
-
andi_tulungagung: Biasa
-
ndt: Bagus
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat