Percakapan disuatu Pagi 2

Selasa, 16 Mar '10 23:31

suatu pagi, ketika matahari baru saja menunjukkan kesombongannya selular ku berdering dan membangunkan aku. sejenak aku menatap nama yang tertulis dilayar selularku, "Father",ternyata ayah yang menghubungiku. dengan setengah mengantuk aku mengangkat telpon yang berdering.

"ya,pak" sahutku dengan mata yang masih terpejam.

"lho, masih tidur ya,kamu ?"

"iya,kemarin nongkrong sampe pagi sama teman - teman"

"jangan kebanyakan begadang,dek"

aku yang setengah tidur berusaha untuk tetap mendengarkan penjelasan bapak.

"em, kamu makannya teraturkan disana ?"

"ia,pak"

"begini,dek. apa kamu masih berencana untuk pindah universitas ? kalau ia, minggu depan bapak kirimin duitnya, gimana ?"

perkataan bapak membangunkan aku dari tidurku.

"enggak pak, nggak jadi. tanggung sisa satu tahun lagi, selain itu tanggung jawab diorganisasi nggak bisa ditinggalin, pak."

"oh begitu, ya ? begini maksud bapak."

berhenti sejenak untuk menghela nafas.

"kakakmu, tri, tahun ini lagi banyak tanggungan dikeluarganya jadi kemungkinan besar agak susah untuk ngirimin uang jajanmu."

dengan sabar bapak berusaha menjelaskan padaku.

"oh begitu ya, pak ?"

dengan berat hati bapak menjawab "betul, dek. makanya bapak usul kamu ambil cuti satu tahun, gimana ?"

aku, yang kebingungan dan tak tahu harus berkata apa terpaksa berpikir lebih keras disaat yang kurang tepat ini.

"ya sudahlah, pak. kalau kakak nggak bisa ngirimin duit juga nggak papa kok. nanti saya akan mencoba cari duit tambahan untuk makan. dan untuk tempat tinggal, saya akan pindah di sekretariat organisasi."

kali ini bapak yang terdiam dan tak bersuara.

"saya berusaha tahun depan sudah jadi sarjana, pak"

kini giliranku meyakinkan bapak dengan janji (layaknya diplomat) yang sudah ku ucapkan.

"dek, kamu bicara dulu sama ibumu ya !"

tak ada penjelasan kenapa bapak memberikan telepon kepada ibu setelah beberapa lama beliau tak bersuara.

"dek, bapak sudah cerita semuanya, kan ?"

"sudah,bu. saya sudah sampaikan juga bahwa saya akan mencari uang jajan sendiri dan akan tetap melanjutkan kuliah, bu."

"ibu mengerti keinginanmu, nak. tapi apa kamu yakin ?"

kali ini justru ibu tampak lebih tegar dari pada bapakku.

"saya yakin, bu. tapi saya minta bantuan doanya."

"pasti, nak. kamu belajar yang rajin ya ! kamu harus bisa jadi lebih baik dari pada bapak dan ibumu ya, nak ! nanti ibu juga akan berusaha jualan roti dan kerja di rumah teman."

"jadi lebih baik ? secara finansial mungkin bisa, tapi secara moral hanya kalian yang terbaik" sahutku didalam hati.

"lho, ibu ada pekerjaan selain jual roti, ya ?"

"ia, nak. jadi, bu angel (teman ibu) baru saja melahirkan anak tapi karena dia sibuk dengan pekerjaan, maka ibu menawarkan diri untuk menjaga anaknya. dan Puji Tuhan, dia memberikan kepercayaan pada ibumu, nak."

aku menjadi terharu dan hampir menangis.

"bu, sudah dulu ya. saya mau bersiap kuliah. jaga diri baik - baik ya, bu."

berusaha menutup pembicaraan karena sudah tak sanggup lagi menahan haru.

"ia, nak. kamu juga jaga diri baik - baik, jangan ikutin pergaulan yang nggak bener, rajin - rajin belajar dan jangan lupa ibadah."

setelah diberi wejangan - wejangan, kami mengakhiri pembicaraan yang cukup singkat dan mengharukan ini. kemudian aku bersiap menuju kampus, dengan sebuah visi baru yang semakin kencang berhembus yakni "menugbah nasib keluarga".

 


Tag: cerpen

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

FF Haq 0 0
Sepertinya anda terinspirasi dari mbak fu'ah ya....
: )

Jangan hanya diam. Tunjukkan kelebihan mu dihadapan mereka. : D
Themmy 0 0
@ ff haq : he 3x... trims buat commentnya, ini sudah lama saya buat, tapi karena baru gabung makanya baru bisa d'publikasikan....
tapi saya sangat salut sama karyanya mbak fu'ah...
btw salam kenal..
saya dari LPM INOVASI Unsrat Manado...

Silahkan login untuk memberikan pendapat