Berpakaian rapi ya. 4
Senin, 15 Mar '10 10:53
Komunikasi. Interaksi antar manusia amat sangatlah penting, ini dikarenakan sosial akan terjadi jika adanya komunikasi. Dalam salah satu mata kuliah yang diberikan oleh kampus mengajarkan tentang bagaimana melakukan interaksi sosial dengan baik. Belum sampai setengah jam saya sudah gerah dengan apa yang ditekankan oleh dosen kepada mahasiswa. Kami diharuskan menggunakan kemeja dengan dengan celana bahan besertakan sepatu pantopel tak lupa juga dasi yang menjadi kembanggan kampus.
Teringat kembali tulisan dari seorang teman, Arman Dhani. Tulisannya menggambarkan bagaimana seharusnya mahasiswa belajar berinteraksi, dengan berorganisasi. Organisasi seakan-akan mampu menggantikan mata kuliah yang saya jalani. Semua materi yang ia dendangkan merasuk masuk kedalam telinga sehingga membuat teringat cerita-cerita yang selama ini saya jalani di Lembaga Pers Mahasiswa (LPM) Journal. Materi memang bisa memberikan gambaran tentang apa yang harus dan akan dilakukan saat menemukan atau menghadapi kondisi tertentu, namun terkadang realita menjadikannya berbeda karena saat itu emosi, perasaan, dan beban pikiran kita berbeda saat berada di dalam kelas.
Kembali lagi kita membahas tentang pola berpakaian dalam kelas yang dosen terapkan kepada sistem penilaian. Sekira tidak adil apabila kita melihat segala sesuatu dari apa yang nampak dihadapan, karena interaksi terjadi antar personal bukan antar pakaian. Walaupun memang cara berpakaian mampu menggambar kepribadian seseorang, tapi dalam kelas kita ingin mendapatkan tentang ilmu interaksi sosial bukan bagaimana cara berpakaian yang serasi.
Kebiasaan yang kelewatan.
Mengenakan pakaian dengan rapi sesuai jadwal sudah diterapkan oleh sistem pendidikan Indonesia sejak kita duduk ditingkatan Sekolah Dasar (SD). Harapan awal dari seragam sangatlah baik, agar tidak terjadi kesenjangan sosial antara peserta didik satu dengan yang lain. Hal seperti ini terus diterapkan pada tingkatan yang lebih lanjut, menyebabkan keterkekangan yang berdampak jangkang panjang. Sebenarnya dampak menggunakan seragam dapat kita rasakan disaat melihat cara berpakaian mereka ketika berada dibangku kuliah.
Kebebasan yang tidak terlalu mengekang membuat mereka menjadi lebih binal dari pada monyet. Secara sadar mereka menentukan apa yang akan digunakan, tapi kenapa masih juga terjadi kesalahan penggunaan pakaian saat kuliah (saya menyebutnya salah kostum). Pakaian yang seharusnya digunakan disaat menghadiri acara pesta digunakan untuk berangkat kuliah. Bukannya tidak suka apabila mereka menggunakan pakaian semacam itu, namun alangkah sangat disayangkan apabila orang-orang yang berniat menuntut ilmu malah menjadikan kampus menjadi stage catwalk demi mencari perhatian lawan jenisnya.
Sebenarnya ini tidak sepenuhnya menjadi kesalahan dari sistem pendidikan Indonesia, karena lingkungan sosial yang membuat mereka menjadi semacam itu. Mudahnya seperti televise yang selama ini menjadi trend center para anak muda. Mengikuti mode pakaian seakan menjadi sebuah kewajiban
Tag: kampus, sistem pendidikan
Terkait:
-
Krisis Kritis
Jumat, 28 Okt '11 18:10 -
Kolaborasi Ramaikan Persma.com Yuk!
Jumat, 19 Agu '11 15:37 -
Belajar = Proses, Bukan Urusan Ponten
Selasa, 9 Agu '11 13:22
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sisca civitas: Perlu
-
Oo Zaki: Perlu
Komentar:
tp ya kuliah pke hem, jlan2 pke kaos oblong mah sy tw..
ha3x..
Kaidah sopan dan tidak sopan yang coba diterapkan dalam seragam formal sekedar pemaknaan bersifat 'kesepakatan' saja. Bukan hal yang benar-benar relevan. Coba kita tanyakan pada dosen kita, apa ada hubungannya kerah dan kuliah? Apa orang yang bersandal kecerdasannya lebih tumpul dibanding orang bersepatu? Apa orang yang berdasi lebih bijak daripada yang tidak berdasi? Tidak. Justru secara sadar atau tidak sadar kita telah menanamkan pola pikir kastanisasi atau pembagian kelas tinggi dan kelas rendah yang anti keberanekaragaman dan anti-egaliter melalui penggunaan seragam itu.
Terjangkitnya beberapa mahasiswa oleh virus fashion sendiri merupakan tanda bahwa gaya lebih diutamakan daripada guna. Fashion non function. Konsumerisme nyata-nyata tengah menggerogoti kita. Ini menimbulkan pemujaan berlebihan (fetishisme) kepada barang atau komoditas. Selama kita hidup dibawah kapitalisme jangan kaget kalau ternyata anak kitalah mangsa berikutnya.
bahkan arti etika sendiri adalah sebuah misteri yang tersembunyi dalam seribu wacana.
dulu, saya bertanya pada guru saya:
kenapa saya harus pakai seragam
guru saya berkata:
supaya kamu, tidak tahu, siapa diantara kamu yang kaya ataupun miskin, karena kita semua berpakaian sama.
apakah hal itu masih berlaku sekarang......
entahlah, tapi nasehat itu tak akan pernah hilang
Silahkan login untuk memberikan pendapat