Akhir 8

Senin, 15 Mar '10 21:47

 

Mengawali sesuatu memang terkadang teramat sulit bagiku. Aku harus memutuskan untuk meninggalkan semua harapan dan impian yang aku bangun di kota ini. Sebuah kota yang mengajarkan pada ku tentang banyak hal, tentang sebuah makna kehidupan. Andai aku bisa untuk mengatakan sebuah kata, tidak.

Ponsel ku sedari tadi terus berderit, sebuah nama ’Ibu’ tertera di layar. Aku sebenarnya masih enggan untuk mengangkat, tapi deritan panjang yang tak kunjung henti itu membuat ku memang harus segera untuk mengangkatnya.

’ya Bu’? Ada apa?’

Nduk, aku sudah siapkan kamar, kamu cepat pulang ya nduk..’

’tapi aku masih mau mengerjakan skripsi dan...’

Nduk, tolong untuk kali ini kamu nurut sama Ibu’

Aku menghela nafas. Sebuah beban berat teramat dalam aku rasakan ketika aku mengingat pulang. Aku masih ingat ketika pulang ke rumah waktu itu. Bapak tidak dengan sungguh-sungguh menerima apa yang aku lakukan sekarang.

’plak!’

Sebuah tamparan mendarat di pipiku sesaat setelah aku masuk ke dalam rumahku.

’mau jadi apa kamu nduk? Mau jadi apa?’

Aku terdiam bisu.  Aku terduduk di kursi panjang ruang depan rumah ku. Aku tak mengerti, mengapa kali ini Bapak benar-benar marah padaku.

’Karno, anak bu Jum kemarin datang kesini. Kamu masih ingat kan?’

Karno? Lamat-lamat aku mengingat sebuah nama itu. Dia adalah orang pilihan Bapak untuk jadi calon suamiku.

’kamu dulu menolak niat baiknya, Bapak hampir malu nduk!!

Bapak menatap ke arah ku tajam. Aku kembali mengingat-ingat apa yang telah aku katakan pada karno, kurang lebih mas karno. Karena umur dia hampir sama dengan umur kakakku yang pertama.

’Ayo jawab!’

’aku.. aku masih ingin sekolah Pak, ingin nyuprih ilmu, biar jadi orang yang berguna,’

’iya, begitu kata kamu dulu. Jadi orang yang berguna nduk? Apa dengan begini caranya nduk?’

Aku semakin tak mengerti arah pembicaraan Bapak. Sepertinya ada yang sedang dipendam Bapak ku dalam-dalam.

’Apa dengan cara kamu ngeluyur ke sana kemari? Apa dengan nyangkruk dengan laki-laki nggak genah, dan bengak-bengok di jalanan? Apa begitu cara kamu nduk nyuprih ngelmu? Nggak bener blas! Bapak kecewa’.

Aku tersentak, ternyata Bapak tahu aku menjadi wartawan. Dan Bapak juga tahu aku sering bergaul dengan banyak laki-laki. Padahal, memang nyata-nyata aku berkata pada Bapak untuk menjadi orang yang berguna, ya.. dalam pandangan ku sendiri setidaknya.

‘kamu itu perempuan nduk, nggak Bagitu caranya, Bapak kecewa. Coba kalau kamu nurut sama seperti mbakmu Lastri, pasti kamu sudah berkeluarga dan lebih berguna nduk. Umur kamu sekarang sudah 20 tahun. Mau jadi apa kamu?’

Aku terdiam. Menunduk, tak ada tetes air mata. Karena aku memang sengaja untuk menahannya. Aku yakin sekali dengan apa yang telah aku lakukan ini. Menjadi wartawan adalah caraku untuk nyuprih ngilmu, walau Bapak tetap tak menyetujuinya. Aku pasti yakin sekali, suatu  saat Bapak pasti ngerti.

****

Nduk, kamu yakin? Ibu ndak tega melihat kamu seperti ini.’

Aku mempercepat gerakan berkemas-kemas ku. Dua hari pulang ke rumah sepertinya sudah cukup. Aku sudah mencoba menjelaskan pada Bapak sehari setelah dia marah padaku. Tapi aku sudah yakin, aku akan memutuskan untuk tidak lagi membuat mereka memikirkan aku secara berlebihan. Kuliah untuk perempuan seumuran aku di tempat tinggal yang kecil seperti ini memang sangat jauh dari ’kebiasaan’. Berkali-kali Bapak menentukan ’calon’ pendamping hidupku. Berkali-kali pula, aku harus membuat Bapak ’malu’, maafkan aku Bapak.

’Bu’, aku harus segera kembali ke sana. Aku yakin Ibu ngerti, kenapa nduk milih seperti ini. Nyuprih ngilmu nggak harus dengan berdiam di Sekolahan Bu’, banyak yang nduk bisa berikan dengan jadi wartawan. Ini ada sedikit uang buat belanja ibu, maaf nduk belum bisa beri lebih banyak dari ini.’

Ibu menatap ku pelan, ada air yang mulai menetes dari ujung matanya yang sudah mulai rabun.

Ndak usah nduk, bawa saja. Ibu masih ada Bapak dan mas mu Setyo, juga mbak lastri, kamu piye nduk?’

Aku menghela nafas. Aku memang sudah mendapatkan keputusan telak dari Bapak, aku tidak lagi dibiayai kuliah, dan juga dia masih enggan mengakui keberadaanku lagi sekarang. Ya, pahit memang kehidupan ini.

***

Aku melangkahkan kaki keluar dari rumah yang memberiku sebuah semangat yang tiada duanya selama 20 tahun lamanya. Tapi, memang beginilah keadaanya.

Bapak sama sekali tak menoleh ke arah ku, ketika aku bersalaman untuk pamit dengannya. Aku mengecup punggung tangannya yang keriput. Kemudian Ibu, mas Setyo juga mbak Lastri, mbak ku yang menyempatkan diri datang ke rumah untuk ngereh-ngereh aku sebenarnya. Tapi, begitulah aku, memiliki turunan darah dari Bapak. Seorang yang keras kepala, kurasa.

Mas setyo membisikkan sesuatu padaku,

Nduk, sebenarnya Bapak sayang sama kamu. Jaga diri baik-baik, lambat laun dia pasti mengerti.’ Katanya seraya memberiku sebuah bungkusan kecil yang mirip seperti berlembar-lemabr kertas lecek. Aku yakin, dia memberiku uang. Mbak lastri juga begitu,

dek, mbak mu nggak bisa beri apa-apa, aku yakin, Bapak pasti mengerti.’

Semua orang melepaskan aku pergi. Dengan tas ransel hitam yang aku bawa pulang, aku mengisi kembali dengan barang-barang ku. Liburan kali ini, aku memang harus menghabiskan di suatu tempat, yang lain, dan itu bukan rumah.

Aku melangkah,

’Assalamualaikum.’kata ku pada semuanya.

Aku melangkah pasti, ku dengar dari kejauhan Ibu menangis sesenggukan.

’Suatu saat nanti, aku pasti menjadi orang yang berguna Bapak’. Aku tersenyum..

***

Dan hari ini, Ibu terus menghubungi ku untuk segera pulang. Tiga tahun memang telah berlalu, yang aku tahu, selama itu pula aku masih ’diasingkan’ oleh Bapak. Walau sesekali mas Setyo atau mbak Lastri mengirimkan wesel pada ku. Tapi aku sudah bertekad untuk menghidupi diriku sendiri. Wesel-wesel yang dikirimkan mereka ku ambil untuk aku simpan. Sampai detik ini, gaji dari wartawan dan menjadi tim redaksi sebuah Majalah lokal sudah bisa menghidupi ku. Walau, secara batin, aku masih sangat kurang. Aku ingin sekali ketika semua yang aku dapatkan ini, disambut dengan sebuah senyum dari Bapak. Dengan harapan, beliau akan berkata,

nduk... wis mandiri ya sekarang. Bapak bangga punya anak seperti kamu’

Ah, tapi itu memang tinggal harapan semu. Tak ada senyum, tak ada sambutan, tak ada semuanya. Aku sendiri sekarang ini.

nduk, Ibu benar-benar pingin kamu pulang. Nggak ada uang? Ibu transferkan ya?’

Aku bingung. Menghela nafas dalam-dalam, aku masih belum siap bertemu dengan Bapak. Tiga hari raya Idul fitri, hari dimana agama ku menganjurkan untuk saling memaafkan, selalu tak pernah aku lalui dengan keluarga. Ku lewatkan di sebuah rumah kontrakan kecil, yang hanya cukup untuk menampung tubuhku yang semakin kurus, kata teman-teman ku.

’baiklah bu’, nduk akan pulang. Sore ini mungkin sampai di rumah.’

’iya nduk, Ibu tunggu.’

Aku merenung, sesaat setelah aku menutup telpon dari Ibu. Ada sebuah pertanyaan dan gelisah menggelanyut dalam fikiranku, yang aku tahu, waktu tiga tahun telah cukup membuat aku percaya, Bapak memang tak memberi maaf pada ku.

Sejenak aku tertegun, ku pandangi sebuah ID Card yang Menggantung di ujung kamar kecilku, bersebelahan dengan jaket lusuh yang aku gantunggkan. Tertulis sebuah nama, Ratna Ningratri, TIM REDAKSI. Ada sebuah tanggung jawab yang menghentikan ini semua, tapi ada juga sebuah ketukan batin seorang anak perempuan rindu untuk pulang.

Dengan pikiran yang sedikit bimbang, aku mengambil ID card itu. Langsung aku menarik ponsel di ujung meja yang baru saja aku letakkan. Sebuah nama terhubung dari ponsel ku.

’Dewi, mas Wisnu susah datang? He’eh.. sekarang kru sudah berkumpul? Aku mungkin akan datang terlambat. oh ya? Jam berapa? baik, aku segera menuju lokasi.’

Sebuah rapat redaksi sedang menungguku, ’ada sebuah peristiwa unjuk rasa beberapa buruh tani yang tanah olahannya diambil paksa oleh pemerintah.’ Begitu kata Dewi di ujung telpon tadi.

Aku segera bergegas, mengambil ID Card yang menggantung bersamaan dengan jaket lusuhnya.

Bapak, aku ingin ’berguna’ dulu, sebelum aku pulang ke rumah. Bisik batin ku kemudian.

Hari sudah agak siang, terik matahari tak menyurutkan aku untuk menuju kantor redaksi. Aku segera berkumpul dengan teman-teman kru yang lainnya, rapat memang segera dimulai karena beberapa reporter lapangan telah menuju ke lokasi.

’Ratna, kali ini aku percayakan tanggung jawab reportase di kamu. Sepertinya ini akan menjadi bahan yang menarik.’ kata Mas wisnu, pemimpin redaksiku.

Aku mengangguk pasti. Aku segera bergegas menuju lokasi.

’oh ya, ponsel kamu ada? Nanti ada apa-apa kami langsung bisa menghubungimu.’ Katanya kemudian.

Aku meraba saku jaket ku, ternyata ponsel ku ketinggalan.

’maaf mas, ketinggalan di Kontrakan.’

’ah kamu,  piye to? ini pake ponsel aku.’

Aku menerima ponsel dari mas wisnu. Ukuran slim, berwarna ungu muda, hemm.. catchy juga fikirku.

Aku menuju lokasi bersama kameramen. Kali ini aku memang benar-benar tak menyia-nyiakan waktu ku. Ibu, mungkin aku baru bisa pulang esok pagi-pagi sekali.

Suasana sudah mulai sangat terik sekali, beberapa buruh mulai berkerumun di dekat lahan-lahan yang sudah siap panen. Beberapa Ibu-ibu mengusap keringat yang menetes dengan ujung baju lusuh mereka. Sedangkan, Bapak-Bapak yang sedari tadi mengelompok, mulai menyimpulkan sesuatu sepertinya. Ada yang membawa senjata tajam, celurit dan cangkul. Mereka sepertinya memang sudah bersikukuh untuk mempertahankan lahan ini. Sebenarnya memang lahan sengketa. Akan dijadikan tempat-tempat layanan umum, tapi pemerintah setempat tidak memberikan ketegasan yang pasti terkait kompensasi yang akan diberikan. seorang Bapak-Bapak menggeram penuh marah,

arep dipakan opo anak bojoku? Nggak ngene carane.’

sedangkan beberapa Ibu-ibu di samping mereka, juga ada yang menangis sesenggukan. Aku melihat kengerian yang benar-benar memuncak ketika aparat setempat mulai berdatangan dengan mobil box dan beberapa mobil pick up, juga sebuah kendaraan berat yang siap melumatkan lahan padi yang sudah mulai menguning itu. Aku dan beberapa orang kru memang sudah bersiap siaga sejak tadi. Berita ini akan kami jadikan sebagai headline news, kalau pun setelah ini aku pulang ke rumah, dan harus berhenti, aku siap. Tapi izinkan aku untuk menjadi orang yang berguna untuk terakhir kalinya.

Bapak, doakan anak mu. Bismillah..

Beberapa orang aktivis peduli petani dan beberapa orang laki-laki yang mereka tunjuk sebagai wakil para pengunjuk rasa sudah bersiap di depan lahan untuk menghalangi para aparat. Aku mencoba untuk mendekat, melihat beberapa wakil dan aktivis melakukan negoisasi yang alot dengan para aparat, sembari menunggu keputusan itu selesai, seorang laki-laki dengan sebilah celurit berlari sangat kencang tak beraturan menuju tempat negoisasi. Tapi sempat dihalangi beberapa aparat dan teman-teman pengunjuk rasa yang lainnya. Dia sepertinya linglung, matanya merah, keringat menetes. Memakai baju lusuh pendek agak sobek-sobek, aku jadi ingat Bapak kalau memakai ‘kostum’ ke sawah. Kaki hitam, dengan berbalutkan  lumpur yang hampir mengering. Dia terus saja berteriak-teriak.

iki lemah punya kita. Kalian mau apa?’ dia terus memaki-maki dengan membawa sebilah celurit, kameramenku telah dengan sigap membidik ke arah lelaki itu, sebuah kemarahan luar biasa, fikirku. Aku masih terus saja mengikuti arah alur negoisasai beberapa aparat dan aktivis itu. Aku membawa sebuah recorder, juga note, takut ada yang terlupakan. Hampir deal sepertinya. Aku hampir bisa tersenyum lega, dan seorang di antara mereka akan segera berjabatan tangan.

Dan di arah yang lain, lelaki yang sedari tadi berteriak-teriak dengan sebilah celurit di tangannya semakin tak terkendalikan. Dia berjalan dengan sangat cepat menuju ke lokasi negoisasi. Beberapa orang berteriak untuk mencegah. Semua jadi panik, tangannya menyabetkan celurit ke berbagai arah, dan... ’clash.’ Semburat darah mengalir dengan deras, semua jadi panik termasuk aku. Apalagi aku memang takut darah, sangat takut darah. Dan semua hitam.

***

Betapa senang memang menghabiskan waktu di tempat yang kita sukai, apalagi mati di tempat itu. Peristiwa siang itu benar-benar menjadikan seorang Ratna Ningratri bisa berguna untuk Bapak dan seluruh keluarganya. Seluruh teman-teman di redaksinya menganggapnya sebagai seorang pahlawan, dan itulah yang memang dia inginkan selama ini, dikenang sebagai orang yang berguna, sehingga dia tidak sendirian untuk menjelaskan pada Bapaknya tentang definisi ’berguna’ seperti yang dia inginkan.

Seorang wartawan perempuan yang menghabiskan sisa hidupnya untuk menegakkan sebuah fakta dan kebenaran. Seorang perempuan dengan berkalungkan sebuah ponsel slim berwarna orange kini telah berbalutkan kafan dengan bersimbah darah di Rumah sakit, akibat sabetan celurit tak bermata.

Tidak, itu memang bukan ponsel milik Ratna, Ponsel Ratna sedari tadi berbunyi terus di dalam kamar kontrakannya. Ada 34 pesan singkat masuk, dan 45 panggilan tak terjawab, 6 diantaranya adalah pesan yang sebenarnya sangat ditunggu-tunggu oleh Ratna.

Pesan pertama dari Ibu

Nduk.. ini sudah hampir sore, kamu kok belum datang?’

Pesan singkat kedua dari Mas setyo.

’nduk, pulang saja. Kita sudah menunggu kamu di rumah’

Pesan singkat yang ketiga, dari mbak lastri

dek, mbak benar-benar kangen, kok ndak diangkat to? Mbak pengen ngomong’

Pesan singkat yang keempat, dari Ibu,

’nduk,, angkat telponnya. Ibu benar-benar pengen kamu pulang’

Sebuah pesan singkat yang kelima,

’nduk, mas tahu kamu masih marah. Angkat ya nduk.. kamu sudah sampai mana?’

Sebuah pesan keenam, pesan singkat yang teramat sangat ditunggu oleh Ratna, dari Bapak

nduk.. Bapak kangen sekali dengan kamu. Bapak ingin kamu pulang nduk, merayakan ulang tahun mu yang ke 23 bersama Bapak, Bapak pengen lihat kamu lagi nduk, juga Ibu, mbak Lastri dan mas Setyo. Angkat telpon nya nduk.. kamu dimana?’

 

 

 

 

 

by:

Nunung Afu’ah/16112009/h’py b’dy

 


Tag: jurnalis, cerpen

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Themmy 0 0
mantap sekali tulisannya, seakan - akan menjadi bagian dari certia tersebut.sekali lagi salut...
fu'ah DIMENSI 0 0
tulisan itu adalah sebuah hadiah buat diriku sendiri yang sedang berulang tahun beberapa waktu yang lalu
thanks..
FF Haq 0 0
Wakakakakakakaka
Segenap rasa bangga ku untuk ayah ku yang melihat ku di tempat yang tidak dapat ku jaman. Tapi suatu saat aku pasti akan menyusulnya.
: )
diaz..bram 0 0
good excelent tiada kata lain untuk kutuliskan...
Irwan Bajang 0 0
dramatis sih, tapi logika ceritanya kan agak timpang. Harusnya kan wartawan nggak berada di krumunan negosiasi, atau setidaknya berjarak, apalagi ketika mau take gambar.

Hmmm, dan untuk acara demonstrasi, negosiasi dan sebagainya, kordum aksi atau humas penanggungjawab aksi tentu saja sudah menghubungi wartawan setidaknya 2 atau 3 hari sebelum acara. Kan nggak tiba2 aksi, tiba2 wartawan datang, kecuali wartawannya memang tidak diundang dan kebetulan saja sedang hunting berita.

Tapi, sip deh..usaha opini yang bagus dan tragis melalui sastra cerpen.
: D
Selamat menulis lagi.
fu'ah DIMENSI 0 0
oyi...suwun pol.
dalam masa proses itu memang hanya berasal dari angan-angan yang masih mentah dan 'liar' dalam otak, hingga akhirnya muncul karya 'akhir'. komentar yang seperti punyamu yang aku tunggu, karena bagaimanapun perjalanan panjang itu masih tetap berlanjut. ^_^
fu'ah DIMENSI 0 0
: D
Irwan Bajang 0 0
fu'ah DIMENSI: hehehe
sip2..sama2 belajar deh...
ayo menulis lagi rame2
: D

Silahkan login untuk memberikan pendapat