Online yang Berbatas Pagar 5
Rabu, 10 Mar '10 10:26
sebuah ritual awal semester yang dilakukan oleh semua mahasiswa di Unej. Dimulai dengan menuntaskan kewajiban membayar iuran SPP, aktivasi status kemahasiswaan, dan melakukan pemrograman rencana studi SKS (sistem kredit semester) mata kuliah yang akan ditempuh untuk semester berikutnya. Registrasi ini lebih tepat kita sebut registrasi online.
Sebagaimana sebutannya registrasi online, maka serangkaian kegiatan ini dilakukan dengan menggunakan perangkat komputer yang ditunjang kemajuan teknologi internet. Dan bukan fenomena baru lagi, yang namanya online, bisa dilakukan dengan jarak yang tak terbatas. Tujuannya untuk kemudahan di era yang serba canggih ini.
Demikian pula dengan Unej, untuk mempermudah kepada seluruh mahasiswanya melakukan registrasi, maka juga memberlakukan sistem online. Bedanya, kalau di Unej, seluruh sivitas akademik yang hendak melakukan registrasi ataupun kepentingan lainnya yang berhubungan dengan cyberspace (dunia maya), utamanya registrasi dan pemrograman SKS harus datang ke lingkungan Unej.
Sistem online di Unej masih terkotak oleh pagar yang menjulang. Yang seharusnya mempermudah mahasiswa malah sebaliknya. Pasalnya, mahasiswa yang berasal dari luar kota harus meluangkan waktu ekstranya untuk melakukan registrasi online yang hanya bisa dilakukan di dalam kampus.
Pun dengan pembayaran SPP, mahasiswa masih harus rela berjubel berdesakan dengan ribuan mahasiswa lainnya hanya untuk menunaikan kewajibannya. Padahal beberapa universitas lain telah menerapkan sistem yang memungkinkan pembayaran SPP bisa dilakukan dimanapun, meski di kampung yang udik.
Seharusnya ritual sakral mahasiswa tiap awal semester ini bisa dilakukan dengan khusyuk. Di Unej tidak begitu adanya. Pembayaran SPP di beberapa bank masih harus antri panjang. Seorang teman saya sampai nyeletuk, "Yang butuh duit SPP kan universitas, kenapa kita ngasihnya harus dengan susah berpeluh gini."
Lain perangkat lunak, lain pula perangkat kerasnya. Seperti tak mau kalah, fasilitas komputer yang bisa dipakai pemrograman turut serta menambah kesemrawutan ritual ini. Seperti halnya di FE. Ribuan mahasiswa harus berdesak-desakan mengantri di laboratorium komputer untuk melakukan pemrograman rencana studi. Padahal ada fasilitas 4 laboratorium lain dengan kapasistas 22 komputer yang bisa dimanfaatkan pula.
Memang benar akses melalui hotspot ada, tapi tidak semua mahasiswa bisa memanfaatkan fasilitas ini. Alasannya untuk pemanfaatannya membutuhkan laptop. Inilah sistem online di Unej. Online yang masih tersekat pagar kampus. Tidak ayal mahasiswa yang kesal dengan rutinitas yang menjemukan ini menuliskan protesnya di website Unej; "Mahasiswa kuliah saja sudah sulit, tapi untuk melakukan registrasi juga sulit."
Semester depan, betapa menyenangkan jika untuk melakukan registrasi bisa dilakukan dimanapun. Membayar SPP bisa trasfer, pemrograman bisa dilakukan jarak jauh. Jadi waktu yang sedianya untuk liburan bisa benar-benar dimanfaatkan mahasiswa. [Editorial:Redaksi]
Tag: media, buldokc, maret, editorial
Terkait:
-
UU HBP “Ide” Dua Sejoli
Rabu, 10 Mar '10 10:47 -
Masyarakat Dalam BHP
Rabu, 10 Mar '10 10:42 -
Nasib Mahasiswa Setelah BHP
Rabu, 10 Mar '10 10:39
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
nody arizona: Bagus
-
Rizki: Bagus
-
Oo Zaki: Perlu
-
Wahyu Eko P: Penting
-
FF Haq: Penting
-
kailila: Bagus
-
diaz..bram: Bagus
Komentar:
Karena sepengetahuan saya perangkat keras untuk melakukan administrasi secara online cukuplah mahal. Unej mungkin sedang nabung untuk memenuhi kebutuhannya.
Karena sepengetahuan saya perangkat keras untuk melakukan administrasi secara online cukuplah mahal. Unej mungkin sedang nabung untuk memenuhi kebutuhannya.
Silahkan login untuk memberikan pendapat