Kita Sedang Ditinggal Rakyat (Tentang Gerakan Makassar) 5
Rabu, 10 Mar '10 00:14
Hati saya untuk perjuangan tiada henti kawan-kawan sesama aktifis di Makassar. Haru saya untuk mereka yang tinggalkan kuliah, acuh nasihat orang tua, dan memilih jalan yang yang tak menentu ini, menjadi generasi yang penuh keresahan. Tak tunduk takhluk pada penindasan, dan penuh moral pembebasan.
Disini saya tidak hendak membahas demonstrasi bank centuty-nya. Tapi sejenak saya ingin mengkritik cara yang dilakukan kawan-kawan di sana. Kasus bank century adalah kasus yang berbau politis, sampai-sampai baunya bikin sesak napas. Saya kira kita semua sudah tahu simpul yang ada dalam kasus bank century, bagaimana bank century bikin rakyat makin sengsara. Sudah banyak dibahas dalam artikel, diskusi, atau lainnya. Yang jelas ada alasan mengapa kita berani mengamuk menuntut usut kasus ini.
Kembali kepada cara berdemonstrasi atau cara berjuang kawan-kawan di Makassar yang (selalu) berakhir anarkis. Rakyat memang setia menanti pembelaan dari mahasiswa yang selalu terdepan dalam memperjuangkan mereka. Tentunya untuk keluar dari kesengsaraan dampak kebijakan. Namun, bagaimana kalau perjuangan yang kita lakukan justru menyengsarakan rakyat yang notabene kita perjuangkan?
Dampak dari aksi kawan-kawan di Makassar, begitu besar bagi masyarakat yag menjadi bagian dari rakyat. Aksi tutup jalan, pengrusakan, teror, dan ancaman kepada pengguna jalan membuat masyarakat jengekel kepada mahasiswa. DIsini saya tidak hendak menawarkan aksi yang lebih kooperatif, dialogis, aksi cengeng, atau aksi malu-malu, bahkan paragmatis.
Kembali lagi, dalam diri seorang mahasiswa melekat karakter intelektual, militan, dan aksektis. Kita tahu bahwa dalam mengadvokasi korban (rakyat) pelu dipertimbangkan aspek litigasi dan non litigasinya, selkali lagi. Litigasi bagaimana kita memahami data, fakta, dan ansos. Lalu non ligasi merangkul semua elemen yang terlibat dalam isu, agar mendapat dukungan penuh. Serba kerepotan memang ketika yang kita advokasi menolak diadvokasi, menggelikan dan lucu sekali.
Seperti kasus di Makassar ini, yang akhirnya mahasiswa di cap anarkis, dan suka berulah. Rakyat jadi jengkel, jenuh, geram, bosan, cuek, acuh tak acuh, dan menghujat aksi mahasiswa. Bukannya sifat intelektual dan kerinduan akan perubahan yang kemudian dipuji. Biarkan saja, namanya juga perjuangan kok! Lalu apa dan siapa yang kita perjuangkan?
Okelah kalau setiap orang, kelompok, dan generasi memiliki cara masing-masing. Pejuangan memang butuh "tumbal perjuangan". Tapi jangan melupakan linkup advokasi dan konsep "idealis tapi rasionalis" biar tidak bunuh diri. Kalau bunuh diri, lalu mati, siapa yang mau membela rakyat? Semua punya cara masing-masing, tinggal hasil akhirnya saja. Butuh hati yang dingin dan lapang memang untuk menilai hasil akhir dari perjuangan kita. Yang berhak menjawab hasil akhir dari perjuangan kita adalah rakyat. Biarkan rakyat yang menilai! Kira-kira perjuangan kita memberi dampak atau tidak ke mereka? Atau yang kita lakukan hanya perjuangan omong kosong belaka? Perjuangan yang menjadikan rakyat tumbal perjuangan itu sendiri? Salam budaya kritis!
Tag: Gerakan Mahasiswa
Terkait:
-
Aku Ditelanjangi Oleh Pram dan Ki Hajar Dewantara
Sabtu, 14 Mei '11 13:56 -
Gerakan Mahasiswa DIY Siapkan Pesangon Buat SBY
Sabtu, 29 Jan '11 01:15 -
Organ dan Ormas DIY Geram dengan Sikap Pemerintah
Sabtu, 29 Jan '11 00:40
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rizki: Perlu
-
LPME Ecpose: Bagus
-
Wahyu Eko P: Penting
-
yanda: Perlu
-
Oo Zaki: Penting
-
arman dhani bustomi: Penting
-
Luki: Responsif
-
sisca civitas: Bagus
-
FF Haq: Penting
Komentar:
yang salah adalah sebuah perspektif adalah perspektif. power make knowledge, dan sejarah dibuat oleh yang menang. organisasi, sefasis apapun, berusaha menjadi hero.
dan rakyatlah yang selalu menjadi korban!
Demonstrasi atau aksi massa yang baik haruslah terdiri dari individu yang terdidik, terpimpin, dan terorganisir.
Terdidik dalam artian memahami sepenuhnya akan masalah yang disikapi, berlaku terpelajar, dan menjauhkan diri dari sikap-sikap preman (premanisme).
Terpimpin dalam artian massa punya kesatuan dalam sikap dan gerak (tidak bergerak berdasarkan spontanitas, semaunya, tidak terpecah-belah, dan mampu dikomando.)
Terorganisir dalam artian massa lebih dari sekedar komunitas, massa lebih dari sekedar gerombolan, dan massa bukanlah kerumunan liar. massa terorganisir adalah barisan solid yang memiliki basis kuat dan metode yang jelas dalam menjalankan aksi. Jelas dalam artian punya tuntutan yang jelas (apa yang diperjuangkan, digugat, dan dituntut), sasaran yang jelas (siapa penanggungjawab tertinggi yang digugat--sehingga aksi tidak meluber merembet ke tindakan dan perkataan yang tidak perlu), serta tempat dan waktu yang jelas (dimana dan kapan aksi itu dilakukan secara efektif, efisien, serta mampu menarik simpati, memberikan pemahaman pada rakyat, dan membangkitkan sedaran rakyat dengan resiko kerugian pada rakyat ditekan serendah mungkin.)
Massa bagaimanapun tidak boleh bergerak secara elitis. Ia harus merangkul golongan-golongan yang tertindas. Ia harus menggabungkan diri secara nyata pada rakyat. Tidak boleh bergerak gagahan dengan jargon usang agent of change atau kaum pembebas atau apapun. Karena hanya rakyat yang bisa membebaskan rakyat.
Bagaimanapun juga disisi lain kita harus sadar bahwa media massa, mayoritas dikuasai pemodal. Oleh karena itu mereka selalu bias dalam menayangkan demonstrasi. Demonstrasi yang layak diliput dan ditayangkan selalu diatur oleh kriteria sensasional. Jumlah massa yang besar dan kalau bisa demonstrasi itu berakhir rusuh.
Karena media dimiliki pemodal, maka mereka selalu menggunakan trik adu domba. Mereka memainkan skenario dan menggiring bahwa demonstrasi apapun pasti merugikan rakyat. Ketika ada demonstrasi serikat buruh maka rakyat dirugikan karena jalanan macet, ketika ada demonstrasi anti korupsi maka rakyat dirugikan karena demonstrasi meninggalkan banyak sampah, dan ketika suatu serikat pekerja transportasi umum mengadakan demonstrasi mogok maka rakyat dirugikan karena tidak bisa mengakses layanan transportasi umum. Nah, sadarkah kita bahwa media massa milik kaum pemodal selalu memainkan kata 'rakyat'? Ketika serikat buruh berdemonstrasi maka buruh bukan rakyat. Rakyat adalah pengguna jalan. Ketika ada aksi anti korupsi, maka demonstran yang terlibat bukanlah rakyat. rakyat adalah para petugas kebersihan pemerintah. Sedangkan ketika ada mogok dari serikat buruh transportasi umum, maka mereka yang mengadakan pemogokan massal itu dianggap bukan rakyat. Rakyat adalah pengguna alat transportasi umum. Sadarlah bahwa selama ini pemilik media massa menggunakan politik devide et impera, pecah belah lalu kuasai. Sesama elemen rakyat saling diadudomba.
Satu lagi istilah anarkis=kekerasan itu salah besar, kawan. Anarki berasal dari kata bahasa yunani archeon yang berarti negara dan ditambahi "a" yang berarti negasi. Sehingga anarki berarti tanpa negara. secara ideologis, anarkisme berarti adalah paham yang memperjuangkan masyarakat tanpa negara karena negara dianggap sebagai sumber penindasan. Ini jelas tidak ada hubungannya dengan kekerasan.
Anarkis lebih sering digunakan sebagai cap jelek yang dilabelkan pada para demonstran atau aktivis yang bertentangan dengan pemerintah. Ini sudah terjadi sejak lahirnya Mayday. Patut kita pertanyakan mengapa label anarkis tidak pernah disematkan pada Satpol PP yang menggusuri rumah penduduk dan melibas kaum pedagang kaki lima (PKL)? Mengapa juga polisi dan tentara tidak pernah dianggap melakukan tindakan anarkis? Ini untuk menanamkan pemahaman bahwa aparat negara adalah aparat yang dilegalkan atau disahkan untuk menggunakan kekerasan.
lulus.
kerjo.
mbojo.
kentu.
ngawe anak.
dadi mbah.
mati.
melbu surgo.
ketemu pengeran.
mabok bareng neng telogo.
disambi kentu meneh ambek bidadari....
haya gogggyyyy....
okh,,,,fuck....Gaaaaaaatttttttt. ....
kuliah
cr pacar
kerjo
mbojo
................
........... ..............
........................
...... ...................
......................
... ....................
.......................
m ati
mlebu surgo
mendem karo Bidadari....
manteb!
Silahkan login untuk memberikan pendapat