Seragam, Identitas Sosial 2

Senin, 8 Mar '10 14:02

Setelan baju kuning panjang mirip pakaian pegawai bengkel motor dengan menarik gerobak sampah yang berisi sampah, sapu dan cikrak. Pasukan kuning, kita sering menyebutnya begitu. Tukang kebersihan mungkin nama yang lebih umum melekat padanya, secara langsung ketika kita memandang seragam yang dipakai kita bisa langsung menyebutkan identitas sosialnya.

Begitu pula dengan anak SD yang identik dengan seragam putih merah, SMP dengan seragam putih biru dan SMA dengan seragam putih abu-abu. Seragam menurut arti kata Kamus Besar Bahasa Indonesia berarti sama ragam, corak dan budaya -pakaian. Busana yang melekat yang disebut seragam selalu menggambarkan identitas sosial individu tersebut macam pasukan kuning, satpam, polisi, TNI, pegawai negeri, dll.

Identitas disini pemaknaan-nya bisa jamak bisa berdasarkan latar cultural, profesi, negara, agama dan gender. Identitas tersebut bisa muncul sesuai dengan ruang, waktu dan kepentingan.(TOR Materi Ansos Dwi Pranoto, PJTL Jember 31 Juli 2009) Contoh ketika kita di jalan raya kemudian melanggar lampu merah kemudian kita ditilang polisi yang kebetulan ia adalah tetangga sebelah rumah kita, kita tidak bisa berkompromi karena pada saat itu identitas yang sedang nampak adalah polisi bukan sebagai tetangga sebelah rumah kita.

Secara kasat mata seragam yang melekat pada tubuh kita menghasilkan sebuah ruang dimana kita dibatasi olehnya, sehingga ketika kita melanggar batas tersebut kita akan dikenakan hukuman. "Wani di tata" berani di tata begitu ujar Edi Wibowo (Mahasiswa Sastra Inggris Fak Sastra Unej) ketika ngobrol di warung kopi masalah seragam yang melekat di tubuh.

"Wani ne sing di tata" berani nya yang di tata menanggapi masalah seragam yang melekat di tubuh siswa ujar Edi. Siswa sekolah dasar hingga tingkat atas masih menggunakan seragam yang sama untuk menunjukkan identitas kesiswaan mereka, baju harus tertata rapi, sepatu harus hitam, rambut tidak boleh gondrong dan yang terpenting aturan-aturan dalam sekolah harus ditaati. Timbul pertanyaan ketika seragam tersebut dikenakan di luar sekolah jika terjadi kesalahan siapa yang akan bertanggung jawab, pihak sekolahkah, orang tuanya kah atau si siswa itu sendiri?

Seperti awal yang telah disinggung bahwa identitas itu bisa jamak, dan pemaknaannya berbeda-beda tergantung ruang, waktu dan kepentingan. Menjawab pertanyaan di atas tentu seragam yang membalut tubuhnya yang menandakan dia adalah siswa tentu identitas yang muncul pada saat di keluar dari ruang dan berbuat dengan kepentingannya sendiri tentu dia bukan dapat dikatakan siswa. Tentu kita tak bisa mengubah persepsi dan realitas nyata yang terjadi sekarang bias identitas selalu muncul dan terjadi saat ini.

Contoh klasik adalah stigma mahasiswa tukang demo, perusak, tukang onar, dll setiap satu kejadian yang negatif selalu menambah stigma negatif tersebut. Toh stigma negatif itu tak membuat para masyarakat kapok menyekolahkan anaknya ke jenjang perkuliahan, karena pendidikan sudah merupakan kebutuhan bagi mereka.

Sudah tidak saatnya terjebak dengan identitas yang melekat pada tubuh kalian masing-masing, walau kadang kala identitas itu perlu untuk mengingatkan akan peran individu masing-masing. Peran yang seharusnya kita lakukan harusnya sudah lebih bebas dan keluar dari aturan-aturan yang membelenggu, kita sudah tidak lagi berseragam putih abu-abu, kita boleh gondrong, boleh berpakaian bebas (tapi masih pakai busana bukan telanjang), tentunya ini akan sangat berpengaruh sekali akan peran, pola gerak dan tujuan kita sebagai seorang mahasiswa dan khususnya lagi sebagai seorang pers mahasiswa. Jawaban yang anda butuhkan silahkan anda temukan sendiri, karena anda bukan seorang siswa lagi.


Tag: identitas, Seragam

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

FF Haq 0 0
Mas Rizki memang hebat bisa membahas masalah yang kelihatan sepele tapi berdampak. "Sudah tidak saatnya terjebak dengan identitas yang melekat pada tubuh kalian masing-masing," Saya terganggung dengan kalimat tersebut, karena jika kita tidak mengerti siapa kita maka kita akan lupa tentang tanggung jawab yang seharusnya diemban.
: p

Masalah siswa berseragam sebenarnya ada baiknya juga, namun alangkah baiknya jika kebebasan berekpresi ditanamkan sejak dini sehingga pada saat memasuki jenjang selanjutnya tidak mengalami goncangan yang kuat karena kaget dengan pergaulan yang binal. : D
Rizki 0 0
FF Haq: Yah kan karena Identitas itu muncul dan bisa berubah2-ubah tergantung ruang, waktu dan kepentingan..
Tapi yang saya heran kenapa yah Pak RT kalo dikampung, walau sudah gak jadi RT lagi masih dipanggil pak RT ; ))

Silahkan login untuk memberikan pendapat