Gudeg dari Jogja; Sebuah catatan 9
Senin, 8 Mar '10 13:24
Berjalan melewati peradaban dengan segala euforia dan daya tariknya seakan tak pernah usai. 100 tahun kebangkitan nasional sudah membuktikan bahwa kita masih terus bangkit. Belum mampu berdiri diatas 2 kaki kita sendiri. Begitu juga dengan pergerakan persma satu dekade terakhir. Gerakan yang mandeg dan kerja berkutat pada tataran pembenahan sudah waktu dihentikan. Sudah saat nya kita melakukan sebuah aksi nyata. Aksi sederhana, gak perlu bergerak masif yang cuma buat gaya-gayaan.
Sebuah pergerakan membutuhkan langkah awal sederhana, sebuah langkah menuju perubahan besar. Perubahan, itulah yang coba kami bawa sebagai oleh-oleh dalam tulisan saya tentang kebangkitan tahun 2009 ini. Dengan semangat sederhana namun mengena saya coba tawarkan sebuah tulisan iseng untuk Group PPMI di persma.com ini. Semoga bisa merubah pola kongkow kita di fesbuk. Berubah bukan berarti harus melupakan esensi pergerakan kita. Cita-cita PPMI tetap kita usung, yang berganti cuma "sandalnya".
Sandal saya analogikan sebagai bagian terdepan dalam memulai sebuah perjalanan. Sandal berada di bagian paling bawah, namun juga pelindung utama dari kerikil. Maka boleh lah kiranya saya yang dari Jember bercerita tetang sandal. Sandal bernama PPMI, dimana coba saya rangkai dalam tulisan. Namun sebelum melangkah lebih jauh, hendaknya kita coba merubah diri dulu. Bukan menjadi ksatria baja hitam atau power rangers. Namun menjadi pribadi persma yang siap melangkah jauh, menanjak, berbatu dan becek. Sehingga saat kita memilih sandal tak akan berganti-ganti lagi.
Beberapa waktu lalu Perhimpunan Pers Mahasiswa Indonesia mengadakan sebuah seremoni dies natalis yang ke 17. Katanya sih sweet seventeen, udah dewasa? Belum lah! Keadaan PPMI yang masih labil dan terseok-seok mencari formula untuk eksistensi. Dus keadaan ini tidak mengurangi kebersamaan yang kami miliki. Karena PPMI bukan tentang pergerakan dan pemberitaan persma an sich. PPMI lebih dari itu bukan?
Acara dies natalis di Jogjakarta diawali dengan sebuah seminar yang menghadirkan beberapa orang yang dianggap penting (meski ga semuanya), diskusi yang awalnya kami (kontingen Jember) pikir akan membahas soal Badan Hukum Pendidikan (BHP). Namun pada akhirnya ngelantur tentang pembahasan pendidikan gratis dan curhat bersama Dirjen Dikti dan rektor muda Paramadina.
Konon katanya seminar berbalut diskusi (atau sebaliknya?) ini berniat memberondong dan nodong menteri pendidikan untuk mencabut atau setidaknya merombak Undang-undang Badan Hukum Pendidikan. Namun apaboleh buat ternyata nyali bapak menteri saat itu mungkin sedang ciut dibalik segudang kesibukannya berkampanye pendidikan gratis agar semua anak supir angkot bisa jadi pilot.
PPMI alapyuh..
Agenda saya di Jogja saat itu selain belanja buku dan mojok bersama gadis-manis-asal-LPME-Ecpose adalah koordinasi nasional dan merancang rencana kerja. Tetapi entah kenapa beberapa teman yang datang saat itu sepertinya tidak semangat. Malah beberapa mencibir "alah paling juga sekedar rencana, ga bakal jalan". Amien! Halelujah! Saat itu saya mengamini. Mengekor bak burung betet kena suap kacang sebiji. Seperti mengulang insiden pembantaian Laporan Pertanggung Jawaban Arman di Mataram, Rapat Rencana Kerja hanya menjadi sekedar ajang mempertanyakan tugas dan capaian. Ah sekedar taik kucing yang dijilat berulang kali kupikir.
Membeo pernyataan President Dwight D. Eisenhower tahun 1957 "Plans are worthless, but planning is everything-keep yourself steeped in the character of the problem you are called on to solve." Sebuah rencana akan tinggal rencana tanpa inisiatif dan dedikasi untuk menjalaninya sebagai sebuah tanggung jawab. Sebuah penyakit yang menempel erat pekat pada setiap pantat dan pikiran banyak pegiat persma Indoneisa. PPMI kemudian tak lebih sebuah medium pemuas nafsu kumpul kebo LPM dalam onani wacana. Metafor paguyuban tidak resmi yang pernah didengungkan Pemred Balairung paska kongres mataram bertahun silam, agaknya bukan isapan penis saat oral seks saja.
Lalu bagaimanakah sebenarnya kinerja PPMI ini? Berkutat pada semangat kultural lusuh nan usang? Saya harap tidak, semangat inilah yang dulu pernah menjadi amunisi perang para legenda pers dalam menumbangkan tiran bernama Orde Baru. PPMI pernah menjadi kombatan serupa tangan Intifadha di Palestine. Tak inginkah kita kembali mengulang euforia masa silam? Audere est facere - To dare is to do my man!
Kini tawaran kembali kepada kita semua, pegiat persma, lebih khusus lagi anggota PPMI. Meminjam istilah band Homicide dalam "membaca gejala dari jelaga " Sebelum mata pena berkarat dan menolak kembali terisi. Siapkah kita bergulat dengan segala absurditas yang ada, menguji mentalitas nurani dan bercanda tajam dengan penguasa? Jika siap mari kita keluar jalan-jalan, mendaki gunung lewati lembah, sungai mengalir indah ke samudra, bersama teman bertualang. Di akhir petualangan kita bersulang, merayakan kebangkitan yang sudah setengah jalan. Semoga tidak tersungkur tertidur diatas muntah di perempatan jalan.
* ditulis tanpa revisi untuk menyambut KONGRES X PPMI
Tag: Persma, jember, ppmi, Kongres
Terkait:
-
Undangan dan Proposal Kongres PPMI X
Senin, 5 Apr '10 05:47 -
Kongres PPMI IX Mataram, dalam sebuah monolog.
Jumat, 9 Okt '09 16:09 -
LAPORAN KONDISI PENGURUS PPMI NASIONAL (Saat Mukernas)
Jumat, 14 Jan '11 23:19
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Rizki: Perlu
-
FF Haq: Responsif
-
Oo Zaki: Perlu
-
ketoles ARBIMAPALA: Perlu
Komentar:
*seperti yang pernah kita bahas ya mas dhani.
Lalu sebenarnya sandal yang kita gunakan cukup satu dan tidak perlu diganti. Jika medan yang kita tempu terjal kuatkanlah ikatan sendal mu, jika kita melalui jalan aspal yang halus maka kendorkanlah ikatan sandal itu.
Penyesuai itu memang diperlukan karena kondisi tidak selalu sama.
Pertanyaannya adalah bagaimana jika anggota PPMI belum pernah merasakan atau mendapatkan "HAK", apakah kita akan menuntut mereka untuk melakukan tanggung jawab?
Silahkan login untuk memberikan pendapat