Equality ; sedikit catatan di hari International Woman 7
Senin, 8 Mar '10 13:57
Bangun! "Sudah pagi ayo siap-siap, mandi trus sarapan, begitu teriakan Ibu yang menggema di rumah", di waktu pagi buta ketika matahari masih malu menampakkan dirinya. Teriakan itu selalu menggema di telinga kami (anaknya), pengingat akan waktu sudah pagi saatnya bangun dan beraktivitas. Tak hanya kami, Ayah juga dibangunkan dari tidur lelapnya untuk segera beranjak dan beraktivitas.
Mulai dari kami kecil hingga dewasa, teriakan itu masih tetap menjadi aktivitas rutin yang berlangsung di rumah. Ibu selalu bangun di saat Subuh datang, selesai shalat biasanya beliau pergi ke pasar untuk belanja. Selesai belanja beliau langsung memaska sarapan pagi, membersihkan meja makan, membuat kopi dan susu bagi kami dan Ayah. Sembari mempersiapkan itu semua, Ibu menyalakan lampu kamar dan membuka korden rumah, penanda pagi telah tiba. Tak cukup sampai disitu kadang beliau juga sambil teriak untuk membangunkan kami semua yang sangat lelapnya tertidur. Alhasil kami semua bangun, walau rasa jengkel seringkali datang.
Sewaktu kecil secara naluriah saya menggangap tindakan Ibu di pagi itu sungguh menjengkelkan, enak-enaknya tidur eh dibangunin secara paksa. Ketika beranjak dewasa dan pergi dari rumah (karena kuliah), saya merindukan hal tersebut. Tindakan beliau sangatlah perlu mengingat sekolah kami dan kantor kerja Ayah jaraknya cukup jauh dari rumah, sehingga kami diharuskan bangun pagi supaya tidak terlambat sampai di tujuan. Ada hal yang sangat penting, setidaknya saya menangkap bahwa Ibu mengajarkan kami disiplin, khususnya disiplin waktu.
Disiplin, itulah yang sering terlewatkan. Toh sekarang akhirnya perlu dibuat suatu aturan agar tercipta disiplin, contohnya ketika menabung di bank kita diharuskan mengambil nomor antrian atau berbaris berjejer rapi, itu disiplin.
Saat adzan berkumandang pun ketika kami berkumpul di rumah, kami diharuskan menghentikan semua aktivitas dan mengambil wudhu lalu menjalankan ibadah shalat fardhu, menunda-nunda aktivitas akan berimplikasi tidak akan dilakukannya aktivitas tersebut begitu yang diyakini Ibu, macam shalat, makan, mandi, dan lain-lain.
Tak perlu upah, bayaran atau gaji sekalipun mengenai apa yang Ibu kerjakan mulai dari pagi hingga malam, cukup dengan tindakan dan senyuman beliau akan sangat terhargai dan dihormati. Bila dibandingkan dengan seorang Ayah yang membanting tulang memeras keringat demi tercukupinya kebutuhan hidup keluarga dan membuat dapur tetap ngebul, aktivitas Ibu dan Ayah saling melengkapi satu sama lain, tidak ada yang berat sebelah, tidak ada pembeda diantara keduanya, semua sama alias setara. Tak ada istilah "Swarga nunut neroko katut", keduanya saling mengingatkan dan saling melengkapi, ibarat tulang rusuk menjadi lengkap dengan dipasangkannya pria dan wanita.
Sudah tidak saatnya lagi ada diskriminasi terhadap kaum wanita, toh pria pun takkan hidup tanpa adanya wanita (berkaca pada sifat dasar manusia sebagi mahluk sosial). Tidak ada lagi pembeda bahwa kaum pria yang layak mendapat pendidikan sampai ke jenjang tertinggi dan kaum wanita tidak layak karena sudah sewajarnya wanita itu tinggal di rumah dan menjadi wanita rumah tangga. Pemikiran oldies ini harus dibuang jauh-jauh dan dilenyapkan, toh di Negeri kita ada wanita yang pernah jadi Presiden (Megawati Soekarno Putri).
Stigma wanita sebagai mahluk lemah harus segera ditinggalkan, rekam jejak sejarah negeri ini telah melahirkan wanita-wanita perkasa macam R.A Kartini.
Seorang Kepala Negara pun memerlukan seorang Ibu Negara, jadi sudah sepantasnya kita tidak mengganggap remeh kaum wanita, semua sama Equality.
Tag: Pria, Wanita, Kesetaraan Gender
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
arman dhani bustomi: Perlu
-
FF Haq: Penting
-
kailila: Perlu
Komentar:
sampai akhir hayat akhirnya tetap tunduk dikaki feodalisme laki2 jawa,...
@Rizki: Sungguh menyenangkan membahaskan masalah gender dimana satu sama lain tidak ada yang mau mengalah. Tapi sebenarnya keduanya sadar bahwa mereka saling membutuhkan (Karena mereka makhluk sosial).
wah. mz rizky sholat, alhamdulilah.
wanita itu indah banget...jadi harus dihargai dan disejajrkanlah hak si indah itu dengan hak laki2, meskipun secara naluriah akan berpengaruh secara sistematis, bagaimana kesetaraan itu harus ditempatkan.
Biar keindahan itu tidak dieksploitasi. Mari mencintai wanita..hehehehe
(saya suka rizki, tapi tidak mau ah pacaran sama dia..hahahaha)
Silahkan login untuk memberikan pendapat