XXI, Saatnya Film Maker Bunuh Diri 8
Minggu, 7 Mar '10 15:51
Rasanya miris melihat film dengan enam nominasi Oscars ini diperlakukan semena-mena. Pelakunya adalah XXI Empire Yogyakarta.
Academy Awards yang populer kita sebut Oscars, memberi Up in The Air cukup banyak nominasi untuk sebuah film drama. Pada penyelenggaraannya 7 Maret nanti, Jason Reitman menunggu peruntungan di kategori sutradara terbaik. Tidak begitu mengejutkan karena Reitman lumayan familiar di ajang penghargaan film. Pada Oscars 2008, ia masuk nominasi sutradara terbaik bersama Juno, film yang yang digarapnya tahun 2007. Up in The Air pun dinominasikan dan menang pada beberapa penghargaan, salah satunya meraih posisi puncak di kategori skenario terbaik, Golden Globe Januari lalu.
Film ini juga menjadi salah satu dari sepuluh nominasi film terbaik Oscars tahun ini, bersanding dengan Avatar dan The Hurt Locker. Reitman tak salah memilih George Clooney, karena kini Clooney menjadi saingan berat empat aktor lainnya dalam nominasi aktor terbaik Oscars. Masih di ajang penghargaan yang sama, Reitman pun menunggu apresiasi tertinggi untuk skenario Up in The Air.
Vera Farmiga dan Anna Kendrick sama-sama dijagokan menjadi aktris pendukung terbaik. Agak mengejutkan karena peran Kendrick dalam film ini sepertinya bukan "selera Oscars". Di Twilight dan New Moon, ia pun hanya diberi peran kecil sebagai Jessica. Saya pikir Rachel Mc Adams memiliki peran dan akting yang jauh lebih "gila" dalam Sherlock Holmes. Kesimpulan saya, penyutradaraan Reitman yang membuat aktrisnya kecipratan hoki.
Dan semua itu seakan dimentahkan oleh XXI Empire Yogyakarta.
Pertama, soal poster. Film ini seharusnya mempunyai tagline "The story of man ready to make a new connection". Entah dengan alasan apa, poster Up in The Air yang dipajang di sebuah koridor bioskop, tepatnya di samping Studio 2 memiliki kesalahan cetak yang fatal, yakni "he story of man ready to make a new connection."
Kedua, human error yang tidak cukup untuk hanya dibilang fatal.![]()
Barangkali tak sampai tiga puluh orang menonton Up in The Air yang diputar di Studio 2 hari itu. Hari keempat di bulan Maret. Pemutaran pukul 15:10. Seperti biasa para pemilik modal menanamkan iklan industrinya di layar bioskop sebelum film dimulai. Tidak ada kendala apapun sampai Up in The Air membuka intronya.
Bukan keanehan ketika ada sebuah film memilih intro yang bisu. Barangkali banyak film yang seperti itu. Tapi ketika Anda tak mendengar suara apapun namun subtitle tetap muncul, Anda harus curiga pada petugas pemutar film di ruang projector, tepat di belakang Anda.
Kami bukan tidak mencoba menyadarkan seseorang yang bertanggung jawab di belakang sana. Bahkan beberapa dari sedikit penonton sempat berseru, "Oi Mas suaranya!"
Memang, kesalahan teknis itu berlangsung tak lebih dari lima menit. Adegan yang terpotong suara hanyalah sebuah narasi yang entah siapa yang mengucapkannya. Kesalahan teknis juga memotong sepenggal adegan awal yang menampilkan peran utama, Ryan Bingham yang dilakonkan George Clooney. Sepele mungkin, menurut XXI.
Sayangnya, saya adalah pecinta film yang akan mengutuk apapun dan siapapun yang berani mengganggu kenikmatan saya menyaksikan sebuah film bagus. Dan demi Tuhan, ya ampun, XXI seharusnya mengerti benar hal ini. Minimal mengusahakan sesuatu untuk tidak mengecewakan penonton, seperti mengulang film dari awal misalnya. Kalau dirasa akan mengacaukan jadwal pemutaran film berikutnya, kembalikan tiket kami dan oper di jam berikutnya, atau whatever you should clearly know. Sekacau itukah yang diajarkan manajemen pusat XII?
Maksud saya, XII bukan bioskop coro yang manajemennya pun "semau gue". You are a damn XXI, for God's sake. The big one. Perusahan bioskop terbesar di Indonesia. Sempat memonopoli kerajaan bioskop Indonesia sebelum Blitz Megaplex muncul. Orang yang haus film akan mengetikkan 21cineplex.com di browser mereka.
Dan, ini adalah film dengan ENAM nominasi Oscars! Oh boy..
Kekecewaan tidak berhenti sampai di situ. Masih ada kesalahan nomor tiga.
Reitman sungguh menghipnotis saya sampai tak sadar ketika credit title muncul menandakan film berakhir. Up in The Air juga memanjakan saya dengan soundtrack yang menyenangkan. Kami tidak mengubah posisi duduk ketika beberapa penonton mulai menuruni kursi untuk menuju pintu keluar. Menunggu informasi soundtrack muncul pada credit title yang berjalan.
Namun tiba-tiba pita film dihentikan secara paksa. Kemudian muncul pesan terakhir dari XXI. Seorang wanita penyobek karcis dan seorang cleaning service menunggu di samping pintu keluar. Saya merasa dua orang itu, plus pria yang kepalanya nongol di jendela ruang projector, menanti-nanti kepergian kami. Tak habis gerutuan saya sampai hari ini. Sudah film tak diputar ulang, dihentikan paksa pula.
Saya pikir, setidaknya saya punya cukup itikad baik untuk menonton film secara legal. Daripada membayar lima belas ribu untuk sebuah tiket, bisa saja saya pakai untuk sewa film. Lebih murah, lebih banyak yang bisa ditonton, bisa digandakan hingga keping ke berapapun, atau dinikmati ribuan kali sampai hafal dialog dan detil ekspresi aktor-aktornya.
Bandingkan dengan menghamburkan rupiah di bioskop. Kenikmatan menonton mungkin jauh lebih memanjakan daripada menyaksikan melalui layar netbook 10 inchi milik saya. Tapi siapa bisa jamin ini bukan hari sial Anda? Sudahlah mahal, infrastruktur bioskop sedang tidak mood beroperasi dengan baik, petugas malas men-setting ulang baik audio, pencahayaan, kontinuitas dan sebagainya.
Ironisnya, sekali lagi, pelakunya adalah XXI yang semestinya dikelola oleh orang-orang yang mengerti film. Mengerti perasaan seorang pecinta film. Kemudian sebisa mungkin berusaha menjadi fasilitator yang baik bagi penikmat film.
Film maker adalah pihak yang paling dirugikan. Jadi, berdollar-dollar yang mereka keluarkan adalah hanya untuk tampak konyol karena kecerobohan petugas pemutar film? Oke, lupakan mengenai hilangnya suara secara misterius di awal film itu. Tapi, apa karena hanya ada sedikit penonton kemudian XXI menyepelekan film ini? Orang-orang yang memeras keringat untuk enam nominasi Oscars diperlakukan sebegitu mirisnya dengan memenggal credit title yang berisi informasi nama-nama mereka. Beginikah apresiasi kerajaan pemutar film terbesar di negara ini terhadap profesi film maker, profesi yang membuat industri mereka tetap berjalan hingga kini?
Tag: xxi, jason reitman, up in the air
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
sisca civitas: Bagus
-
Oo Zaki: Penting
-
Rizki: Bagus
-
arman dhani bustomi: Bagus
-
FF Haq: Bagus
-
Wahyu Eko P: Perlu
Komentar:
jd cm mmntgkn profit aja, g da apresiasinya.
aq jg srng mndptkn ksus pmutr film yg sprti ini.
tp aq tiap abs nnton, msti sneng liat credit tittlenya kok..
he,, g asl nnton bis tu udah gt aja.
hehe.
sering-sering ajak aku nonton, ntar lama2 kritikus film wannabe juga
Ternyata hamba ku masih setia memuka ku.....
@Tuhan: Wah, kamu ga ikut diskusi pasca pemutaran tadi sih, seru banget lho...
arletafenty: XXI itu jelas-jelas monopoli, tpai pemerintah ga pernah mau mengatasi itu...terang aja mereka bisa semena-mena ngelola bioskopnya....
Silahkan login untuk memberikan pendapat