Apalah saya , gencar mengkritik dan mengomentari anda 10

Jumat, 5 Mar '10 10:02

 

Saat itu saya melihat bagaimana wakil-wakil rakyat berdebat, saling sindir , kuat-kuatan suara. Apalah saya? Saya seorang mahasiswi bukan politikus, seorang anak pegawai biasa, calon penerus bangsa ( katanya) bukan tokoh-tokoh masyarakat seperti anda yang diatas sana. Apalah saya, sehingga berhak  mengkritik, mencerca, atau menghujat kalian? Memendam amarah atas perilaku kalian.

Hari itu berjam-jam mereka duduk berdebat demi " kepentingan masyarakat" , itu yang sering mereka umbar. Maaf jika saya sanksi kepada kalian wahai dewan-dewan rakyat. Maaf jika seringkali yang keluar dari mulutku hanyalah hujatan sinis. Maaf, bapak-bapak dan ibu-ibu, saya sulit untuk percaya. Saya hanya yakin dengan bangsa saya. Bangsa ini mulia di  mata saya, walaupun menyimpan banyak kebusukkan. Kalian ( mau tidak mau ) adalah tumpuan kami, nasib bangsa ada pada kalian. Maaf lagi, tapi saya sangat sedih melihat aksi kalian. Tapi apalah saya? Mengapa saya berhak untuk bersedih?

Sudahlah, hilangkan saja kata "Fraksi-fraksi" itu. Demokratkah? PKS kah? PDI, HANURA, atau Gerindrakah? Tidak penting sebenarnya. Mengapa tidak ada yang namanya Fraksi Bersatu, Fraksi bersama atau Fraksi Indonesia? Mungkin saya memang tidak mengerti mekanisme politik macam ini. Saya tidak mengerti tentang koalisi, susah memang buat saya. Saya Cuma kenal Indonesia, satu. Saya tidak mengerti bahasa-bahasa rumit itu.

Lobby, interupsi, kembali lobby, interupsi kembali kemudian berkutat dengan opsi-opsi. Hei, lihat urat leher kalian seperti akan mencuat dari kulitnya. Celetukan-celetukan yang menghujan kemarin lucu juga, mengingatkan saya saat di jenjang Sekolah Dasar. Saya pun tertawa mendengar kalian, saya fikir anda-anda boleh juga main di Opera Van Java  Kemudian ada yang berkaraoke pula.setelah  Berputar-putar keliling dunia akhirnya voting juga toh'.

Century.. century.. kenapa juga tiba-tiba kau mencuat? Mungkin memang lagi kenal sial dirimu. Padahal "teman-temanmu ", masih tersembunyi rapi. Ada baiknyakah dirimu muncul ke permukaan? Coba saya fikir dulu. Alih-alih mendapatkan akar dari kebusukkan pejabat-pejabat Negara malah menimbulkan banyak kekacauan lagi dan lagi. Oh, lihat dalang-dalangmu sibuk memasang wajah tak berdosa di ruangan dewan itu. Tapi ada baiknya juga, dirimu membawa kami kepada keindahan demokrasi, walau tak sempurna dan sangat alot tapi tidak apa-apa sudah tradisi. Century.. cepat sidah kau menghilang!

Ganti channel, kemudian saya lihat para pendemo sudah turun ke jalan. Rupanya tidak di dalam ruangan saja yang ribut, diluar tambah menggila. Kebanyakan mahasiswa seperti saya yang berdemo. Bagus! Tunjukkan kawan, kita memang tidak akan pernah puas dengan pemerintahan berdemokrasi palsu ini. Kalian masih muda, masih segar fikirannya, masih kuat dorong-dorongan dengan aparat, berpanas-panasan, berpeluh demi ... demi ... ( apa ya ? ) pokoknya DEMO!!  Tapi ada yang mengganggu saya, mereka berdemo dengan mengusung-usung bendera dengan 'lambang-lambang' , sepertinya suatu organisasi atau apalah itu. Suasana besoknya malah tambah kisruh, sampai menjadi Breaking News seharian penuh. Hei, apa itu yang mau kalian tunjukkan? Waduh, fasilitas jalan rusak, batu-batu berterbangan, masyarakat resah. Malah kalian menjadi musuh bersama tuh'. Teman, mari bela apa yang kalian tuntut dengan ikhlas. Beraksilah sebagai orang berpendidikan , anarkis tidak keren kawan. Tapi, apalah saya? Saya hanya bisa menonton dan komentar disini. Mereka disana , melakukan sesuatu sedang diriku tidak melakukan apa-apa. Entahlah, saya juga tidak tahu. Mungkin saya juga tidak lebih dari mereka yang hanya bisa ngomong. Maka saya menulis saja.

Pesan buat Wakil Rakyat : buat kaum saya percaya kepada anda semua. Kalian dipilih rakyat, dan saya tidak mau menjadi mahasiswa yang sinis, skeptis, dan pesimis. Yang bisanya hanya menghujat dari sini, tidak tahu apa yang kalian lakukan buat Negara ini. Saya yakin tidak semua dari anda seperti "itu". Maka bapak-ibu wakil rakyat, kembalikan kepercayaan kami kepada pemerintahan ini. Selesaikan kasus-kasus yang membuat negri kita timpang seperti ini.

Kemudian, saya terusik dengan gelak tawa tetangga sebelah, saya cari tahu. Oh, ternyata sedang menonton acara cari jodoh gaya modern itu. Keluarga sederhana yang terlihat bahagia, seakan tidak mau tahu apa yang terjadi di gedung dewan sana. Nasib-nasib mereka ini yang dipertaruhkan ketika para pejabat ini duduk berdebat. Baguslah, masyarakat polos ini membuat saya semangat kembali. Saya mau membantu Negara ini dengan kemampuan pas-pas'an saya. Karna saya terlalu cinta dengan negri ini. Sejenak kemudian  tertegun saya, sedikit nyengir dan berfikir , tapi apalah saya?  

 

 


Tag: pemerintahan

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

arman dhani bustomi 0 0
sedi deh.... hahahahahahahahai

nulis lagi aja kawan
sisca civitas 0 0
@ dhani : ha.. ha.. ha.. guyu ae,,
kailila 0 0
apalah saya? calon penerus bangsa ( katanya)

calon penerus bangsa yg paham bahwa sbgian hri esok,
akibat dr hari ini.
sisca civitas 0 0
kalila: sp yg pham coba?
kailila 0 0
iya neng, penulisnya yg paham bahwa sbgian hri esok,
akibat dr hari ini.,



sisca civitas 0 0
harusnya smw pham ya..??
kailila 0 0
iya semestinya.
Dick 0 0
semoga bantuan pas-pasanmu itu benar2 terwujud dan dapat menjadikan negeri ini menjadi lebih baik
sisca civitas 0 0
@ mas husen: daleemm .... (stiLL Trying..)
Debrina Civitas 0 0
two thumbs up sai...

Silahkan login untuk memberikan pendapat