Di Balik Senyuman Perempuan itu.. 2

Kamis, 4 Mar '10 23:48

Suasana ruangan ini masih tetap sepi, perlahan terdengar bunyi detak jam dinding, lamat-lamat juga terdengar suara mobil yang lalu lalang di luar. Aku masih mengamati sebuah proposal di tanganku. Sampai 15 tahun terakhir ini, belum ada yang mau mengambil angle berani seperti ini, setidaknya setelah aku.
"kamu yakin kamu mau mengambil berita ini?" tanyaku sekali lagi untuk benar-benar meyakinkan pada perempuan muda di depanku ini.
"iya pak. Saya yakin sekali. Karena sepertinya jarang sekali wartawan perempuan yang mau mengambil angle kaya gini. Biasanya kan wartawan laki-laki yang mengambil. Sambil jajan katanya, tapi bagi saya, dengan perspektif perempuan, mungkin beritanya bisa jadi lain. Kan, satu spesies pak hehe..." perempuan muda di depanku ini tertawa kecil. Aku bisa melihat gigi gingsulnya yang manis. Sama seperti dia, batinku berkata, seseorang yang belum sempat aku katakan bahwa aku ingin sekali melindunginya..
***
Aku mengamati perempuan di samping ku, sebuah lampu temaran malam menyapu wajahnya dalam kegelapan. Dia melirik ku sekilas, aku yakin semua laki-laki yang menatapnya pasti merasakan ada getaran yang aneh. Tapi, mungkin aku bukan bagian dari mereka, karena aku percaya ada pengecualian dalam setiap hal.
"ada rokok?" katanya setelah sadar aku hanya mengamatinya sejak dari setengah jam yang lalu.
"maaf, lagi nggak merokok aku" sekelibat wajah kekecewaan aku tangkap dari mimik mukanya yang tirus.
"aku heran, jaman sekarang kok ada lanangan yang nggak doyan rokok, kenapa? Takut impoten?" katanya dengan lugas sekali sambil mengibaskan rambutnya yang terurai panjang, angin nakal menyebarkan harum semerbak samponya.
Aku membenahi kembali tempat dudukku, dia bagiku terlalu dekat. Aroma parfum nyegraknya sudah puas aku hirup dalam-dalam. Setidaknya, aku tahu bagaimana selera perempuan di sampingku.
"jadi nggak sih? Aku tu cuma kasian aja ama uang kamu. Udah nggak berani ngrokok, eh mau coba-coba. Pulang aja deh, Ibu mu nyari'in tuch..." perempuan itu sepertinya mau beranjak. Tapi aku menahannya, kalau sekedar menahannya, aku berani menggenggam tangannya, setidaknya dia tahu aku memang menginginkannya ada di sini.
"ya sudah, kamu maunya aku ngapain?" tanyanya kemudian sambil menatapku sangat tajam.
"aku pengen kamu cerita, apa aja..." kataku dengan mendudukkannya kembali di samping ku. Dia menghela nafas dalam-dalam.
"aku lama nggak cerita-cerita, jadi nggak ada yang perlu aku ceritakan ke kamu".
Aku mengamati mimik wajahnya sekali lagi, dia menatap lurus ke depan. Kakinya yang berbalut sepatu hak tinggi digerak-gerakkannya, sesekali dia mencoba menggoda dengan menyentuhkan ke kaki ku.
"apa aja, setidaknya malam ini, itu yang aku mau dari kamu..." kataku sambil membenahi rambutnya yang sedikit berantakan.
"huh... apes tenan aku malam ini memang. Dapat lanangan kok ya kayak kamu to?". aku hanya tersenyum tipis. Sesekali aku mendengarkan deru mesin kereta api yang lewat. Aku dan dia memang sedang terduduk di dekat stasiun kota, sebuah tempat umum yang bagiku tak pernah tidur setiap malamnya. Selalu ada hal-hal yang baru di sini. Aku berharap memang hari ini sedang tidak ada razia, kasihan jika perempuan yang ternyata bernama Lisa di depanku ini harus berlari-lari tak karuan.
"kamu nggak capek kayak gini terus?" tanyaku sesaat setelah aku pakaikan jaketku di tubuhnya. Balutan kain tipis warna merah menyala yang dikenakannya ini memang tidak terlalu bersahabat dengan angin malam yang nakal. Dia terhenyak kaget dengan apa yang aku lakukan, dia menoleh dan kemudian tertawa kecil, kemudian dia terdiam, sedikit merunduk. Perlahan-lahan, aku mendengar suara sesenggukan darinya, ya perempuan di sampingku menangis.
"maaf.." kataku kemudian.
Kami terdiam sangat lama sekali, aku pun juga memang membiarkannya sengaja begitu. Uang yang aku keluarkan untuknya bagiku sudahlah tidak begitu penting. Menemaninya menangis semalam saja sudah membuat ku bahagia.
Di tengah pekatnya malam, selain suara katak yang bersahut-sahutan menyambut musim hujan, dari kejauhan aku juga mendengar suara lirih radio milik penjaga warung. Lamat-lamat aku dengar beberapa orang memang sedang terjaga sambil berkomentar tentang pekatnya malam yang semakin dingin. Aku melirik ke arah jam tanganku sekilas, jam sebelas lewat 45 menit malam. Masih sore sebenarnya, tapi tiga jam yang lalu hujan memang begitu derasnya turun. Hingga titik-titik air dan dinginnya hujan masih sangat terasa, apalagi jaket ku memang aku pinjamkan untuk Lisa, nama aslinya Lilis.
Satu jam memang telah berlalu, dan aku lihat dia masih tertunduk dengan isakan tangisnya yang memang semakin lama hampir hilang.
"kamu boleh bersandar di bahuku jika kamu capek begitu." kataku sembari membenahi kembali dudukku. Dan entah apakah memang dia sudah sangat berpengalaman menghadapi berbagai macam laki-laki, atau memang aku saja merasakan lain. Dia menyandarkan kepalanya secara perlahan di pundakku. Semakin aku menghirup bau rambutnya yang wangi. Kali ini memang sangat dekat.
"kamu kenapa nggak minta aku ngapa-ngapain? aku lebih suka begitu dari pada begini.." katanya membuka perbincangan setelah hampir satu jam kita terdiam.
"aku sudah bilang, aku hanya ingin kamu bercerita saja malam ini"
"sakit rasanya jika begini..." katanya sambil membenahi jaketku di tubuhnya.
"apakah aku melukaimu?" aku bertanya dengan pelan, dan semoga pertanyaan ku ini tidak membuatnya marah.
"rasanya sudah sangat lama sekali, kamu malah membuat ku semakin sakit. Hanya karena perasaan yang awalnya seperti ini aku harus ada di sini..." aku menyunggingkan sebuah senyum. Aku tahu, walau aku harus menghabiskan waktu satu jamku dengan diam, kali ini aku yakin, Lisa mau bercerita.
"mas Sulaiman kemarin juga bilangnya kayak kamu, pengen denger aku cerita. Aku ceritakan betapa aku sangat membutuhkan uang. Bapakku yang baru saja meninggal, dan Ibu ku yang entah sampai sekarang ada dimana aku tak tahu, sedangkan biaya sekolah semakin mahal, apalagi waktu itu aku mau ujian..." kalau boleh aku katakan, aku berbuat curang. Aku memeluknya, sangat dekat. Sampai harumnya rambut menyatu dengan hidungku. Aku yakin, dia tidak akan marah.
Marah? Terkadang aku juga bingung, kenapa aku harus berfikir jikalau dia marah? Bukankan ini sebagian dari pekerjaanya? Tapi aku sadar, aku adalah laki-laki yang karena perempuan, jenis yang sama sepertinya, aku bisa ada di dunia ini, dan sepertinya kerena alasan itu mungkin yang buat aku harus berfikir perihal dia marah atau tidak atas tindakanku.
"aku sebenarnya juga pengen kuliah, kayak mbak Nita, tetangga ujung gang. Bisa pegang buku tiap hari, dan kadang-kadang aku juga lihat mbak Nita buru-buru dengan memakai jasnya, terus buku-buku tebal yang dibawanya itu sampai jatuh... ingin sekali aku mengambilkan untuknya, terus nanya-nanya, gimana masuk kuliah itu..." dia sedikit terdiam. Menghela nafas dalam-dalam, aku merasakan detak jantungnya. Dalam dekapanku, aku merasakan dia seperti Rena, adik perempuanku yang sedang dalam pelukanku ketika dia mengadu baru dimarahi oleh Bapak.
"tapi ya... kuliah? Heh... aku sekarang bangga kok nggak jadi anak kuliahan. Kalau aku begini karena aku hanya lulusan SMA rasanya kan wajar-wajar aja, tapi kemarin-kemarin aku juga tahu, banyak banget anak kuliahan yang juga kerja ginian, sama kaya aku. Masa udah kuliah kok mikirnya pendek sama kaya aku..." dia menggerak-gerakkan ujung jarinya. Seperti menuliskan sesuatu di dadaku.
Benar-benar, Lisa mengingatkan aku dengan Rena. Tingkahnya yang manja sama seperti dia. Aku semakin tak tega, jika perempuan yang berada dalam dekapanku saat ini harus berada dalam dekapan laki-laki lain yang sama sekali tak pernah berfikir apakah dia marah atau tidak diperlakukan seperti itu.
Naluri mungkin, aku tiba-tiba saja berfikir ingin sekali melindunginya. Aku ingin sekali mengeluarkannya dari pekerjaannya yang seperti ini. Aku ingin sekali kemanjaan yang dia tunjukkan sekarang ini tidak berubah menjadi sebuah kemanjaan paksaan yang terkadang bagiku sangat "liar".
"kamu bahagia?" kataku tiba-tiba padanya. Dia terdiam, perlahan dia melepaskan pelukanku, juga jaket yang aku kenakan tadi di tubuhnya.
"bahagia? Kamu tanyakan itu padaku?"
Tiba-tiba saja dia berdiri. Aku menatapnya, matanya yang sembap meyakinkan aku bahwa dengan melihatnya saat ini sudah cukup menjawab pertanyaanku barusan. Angin nakal yang berhembus menerpa rambutnya yang panjang, dan juga baju tipis merahnya yang menyala, aku berdiri memandang ke arahnya. Ku tawarkan kembali sebuah kehangatan, jaket yang berada di tanganku ku pasangkan di tubuhnya kembali. Walau dia diam saja, aku yakin, dia memang tidak menolak aku memakaikan jaket itu padanya, lagi.
"maaf, aku..."
"jangan bilang maaf. Aku benci, mas Sulaiman saja tak pernah mengatakan maaf pada ku, ketika dia membuat ku jadi seperti ini. Padahal, aku sudah menyerahkan semuanya hanya untuknya. Katanya kalau aku memang cinta, aku harus mau melakukannya..." kami berdua masih berdiri. Dia bercerita sambil membuang pandangannya ke tanah, aku membimbingnya untuk duduk kembali.
"cinta?" tanyaku setelah kami duduk kembali.
"iya, cinta. Cintalah yang waktu itu mengajarkan padaku ternyata semua yang aku lakukan ini karenanya. Dan cintalah yang membuat aku semakin tak mengenal apa itu cinta..."
"sekarang?" aku bertanya kembali.
"heh... salah sekali jika kamu tanyakan itu pada ku. Aku bahkan tak pernah mengenal apa lagi itu, semua yang aku lakukan selama ini memang bukan lagi atas dasar cinta. Tapi, yah.... kamu tahu lah, gimana kerasnya hidup. Jika aku tetap berfikir tentang cinta, bagaimana aku bisa menghidupi anak sulaiman? la wong dasar aku melakukan pekerjaan ini karena cinta juga to?"
"umur berapa?"
"TK, sekarang dia berada di TK. Aku titipkan sama salah satu kerabatku. Dia nggak boleh tahu ibunya bekerja apa. Setidaknya, aku pingin dia bisa sekolah tinggi. Biar nggak kayak Ibunya. Dia harus bisa jadi wong pinter, wong bener, biar nggak keblinger kaya aku ini."
"pasti dia lucu sekali..."
"iya.. sangat lucu, namanya Shima."
"shima?" tanyaku penasaran, yang aku tahu nama Shima adalah nama ratu yang sangat kuat di zamannya, kalau memang dia tahu.
"iya... kamu kan kuliah to, pasti pernah dengar nama itu. Kata nenekku, Shima jaman dahulu sangat kuat dan cerdas, aku memang ingin dia begitu. Biar nggak tergoda dengan lanangan yang suka nggombal atas nama cinta. Biar nggak ketemu yang kayak Sulaiman yang sontoloyo itu, biar ketemunya yang kayak kamu hehe..." baru kali ini aku melihatnya tersenyum. Manis sekali, gigi gingsulnya semakin membuat wajahnya yang terkena temaran lampu malam semakin ayu.
Aku melirik jam sekilas, pukul setengah dua dini hari. Ternyata lama juga aku bercengkrama dengan dia, tiba-tiba saja aku teringat dengan berjibun tugas yang menumpuk esok pagi. Apalagi besok adalah hari senin, hari yang paling aku benci.
"kamu besok kerja to? Wis pulang aja ya?" katanya sesaat setelah dia berdiri.
Aku menahannya, menggenggam tangannya kembali. Tapi kali ini dia memang sudah tak bisa ditahan lagi. Dia telah benar-benar ingin segara pergi. Sebelum dia melangkah pergi, dia berkata padaku. "kamu laki-laki baik, cari perempuan yang sepadan dengan kamu. Jangan cari perempuan yang hanya bisa ngasi ini..." katanya sembari memberikan sebuah kecupan di pipiku. Aku diam saja, kali ini aku memang sedang tidak curang, tapi dia yang curang.
"sebenarnya pengen ngasi kamu gituan, tapi aku nggak mau sama lanangan yang nggak ngrokok, hehe..." dia pun segera mengalihkan tubuhnya bergegas pergi. Dengan berjalan secara berlenggak-lenggok khas dengan gaya perempuan malam yang aku tahu sebelum-sebelumnya.
Aku membiarkan jaketku terbawa olehnya, aku hanya bisa memberikan itu, sebuah kehangatan yang terwakilkan oleh jaketku. Setidaknya malam ini, aku telah melindunginya, dari angin nakal yang sedari tadi menghembuskan dinginnya udara malam yang basah karena hujan sebelumnya.
Malam itu adalah malam pertama dan terakhirku dapat bertemu dan berbincang-bincang dengannya.
****
Aku masih menatap kosong ke arah isi ruangan, aku belum bisa meyakinkan diriku tentang keputusan perempuan muda di depan ku ini.
"kamu benar-benar yakin nak?" tanyaku sekali lagi untuk melihat sebuah kesungguhan di matanya.
"ya Pak, 100%!". aku terdiam, aku sendiri sebenarnya yakin dengan kemampuan perempuan muda di depanku, tapi senyumnya benar-benar mengingatkanku akan sebuah perlindungan yang belum sempat aku berikan saat itu.
Kami berdua terdiam kembali, bisu. Dia sepertinya memang menunggu-nunggu keputusan dari ku. Aku mengamatinya sekilas, dan akhirnya aku menghela nafas dalam-dalam,
"baiklah. Bapak percaya dengan kamu."
Dia terhenyak kaget. Sebuah senyum kebahagiaan pun terlukis di bibirnya, masih sama, dengan gigi gingsul itu.
"siap pak!"
"deadlinenya terserah kamu, karena ini depth news, asalkan beritanya menarik."
"saya janji pasti menarik pak, hehe..." aku mengangguk pasti, tanda bahwa aku setuju. Dia pun lekas beranjak pergi setelah sebelumnya berpamitan. Aku menatap ke arahnya, sebelum dia benar-benar beranjak,
"Shima...!!" aku memanggilnya,
"iya pak?" dia pun menoleh. Aku tertegun sejenak,
"hati-hati..." kataku kemudian.
"oke deh!" dia tersenyum, sebuah senyum dengan gingsul itu memang sama seperti miliknya, sama seperti Lisa, ibunya.

 

By: N. Afu'ah
* di suatu malam, teruntuk semua perempuan dengan "keterbatasan" yang ada.

LPM DIMeNSI STAIN TULUNGAGUNG

 


Tag: cerpen

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

kailila 0 0
wah bagus.

dilematis mmg, semoga semua perempuan dengan "keterbatasan" mndapat banyak pencerahan, dengan segala usaha, kelemahan bisa di bentuk menjadi kelebihan. waktunya mngubah paradigma, smga eksploitasi tubuh, bkan titik akhir.
fu'ah DIMENSI 0 0
bahkan untuk mengatakan sesuatu, harus nurut apa kata 'orang'..

Silahkan login untuk memberikan pendapat