Tulisan Ini Belum Ada Judul.! 5
Sabtu, 27 Feb '10 05:42
Tulisan Ini Belum Ada Judul.
Dengan secara sengaja saya membuat tulisan ini, saya cukup gamang ketika akan memberi judul apa pada tulisan saya ini. Maka seperti halnya di atas kutulis saja tulisan ini belum ada judul.
Suatu ketika Dedek pernah bertanya kepada Abangnya, dengan pertanyaan seperti ini, "Bagaimana caranya menjadi seorang penulis Bang"?. Tanya Dedek kepada Abang. Dengan nada yang sangat rendah dan enteng, Abang pun menjawab, ya menulis Dek, tapi caranya Bang, sahut Dedek?, ya seperti bagai mana cara kamu makan, mandi dan tidur dan lain sebaginya. Imbuh Abang. Saya punya cerita untuk kamu, bigini ceritanya, kata sang Abang sambil memandang Dedek.
"Dulu, Abang punya teman, namanya Untung, dia mempunyai cita-cita menjadi seorang penulis hebat, pada suatu ketika, dia berteriak lantang di hadapan khalayak ramai, dia berkata "Aku Pasti Menjadi Penulis Hemat Kelak Nanti". Celoteh Abang sambil menghisap rokok. Terus apa yang terjadi sekarang Bang tanya Dedek kepada sang Abang. Sabar to saya kan belum selesai cerita, sahut sang Abang. Kira - kira hampir satu tahun saya tidak bertemu dengan Untung tiba-tiba Untung nongol pada saat acara perkawinan teman sekampus dulu, kamipun ngobrol dengan canda tawa. Saat itu saya ingat bahwa Si Untung pernah berkata dihadapan khalayak ramai bahwa ia pasti akan menjadi penulis hebat. Kemudian sayapun bertanya kepadanya. Tung, apakah sekarang kamu sudah menjadi penulis?. Dengan nada agak gagap Untung menjawab, belum!!. Tapi saya pasti akan menajdi seorang penulis hebat, ucap Si Untung. Terus kapan kamu akan menulis,? Tanya abang pada Untung. Nanti suatu saat, soalnya saya sekarang belum sempat untuk menulis, imbuh Si Untung. Tak lama kemudian kamipun pulang bebarengan. Karena rumah kami berbeda arah, akhirnya kami pun terpaksa berpisah dipersimpanagn jalan. Terus Bang kelanjutannya sampai dimana tanya Dedek kepada sang Abang. Dengan penuh rasa ingin tahu. Sebentar Dek, cerita belum usai, Abang minum kopi dulu ya.
Pada saat Abang sedang berada di tengah perjalanan menuju ke suatu daerah, Abang berpapasan dengan Untung di dalam angkot, kami pun ngobrol kesana, kemari. Karena Abang kepingin membuktikan umpatan Untung pada waktu itu, ketika ia ingin menjadi penulis hebat, saya pun bertanya kembali kepada Untung, dengan pertanyaan yang sama, dan Untung pun menjawab dengan jawaban yang sama belum menjadi penulis hebat, jangankan penulis hebat, menulis saja belum dilakukan oleh Si Untung. Dan akhirnya Untung harus mengakui dengan pasrah bahwa ia tak mampu menjadi penulis hebat dengan hanya berkata, dan berjargon (nyocros) semata.
Dan akhirnya Si Untung sekarang menjalani profesi apa? Tanya Dedek kepada sang Abang. Untung menjadi karyawan tetap di salah satu bank yang ada di daerahnya. Karena sepengetahuan Abang Untung memang menjalani pekerjaan tersebut. Kasihan ya Bang Si Untung, cita-citanya harus terhapus karena dirinya yang menghapus. Ucap Dedek.
Makanya Dek, ketika kamu ingin menjadi seperti Bambang Pamungkas, maka kamu harus melakukan dan belajar sepak bola. Jangan sebaliknya kamu ingin menjadi pemain sepak bola tapi kamu belajar melakukan dengan main catur.
Hari mulai gelap Dek, kamu harus segera mandi, Ibu dan Bapak Sudah menunggu di tempat persinggahan. Dan jangan lupa Dek lakukanlah apa yang kamu kehendaki, selagi itu membuat hatimu bahagia dan positif. Iya Bang. Mari Bang saya pamit pulang, pamit Dedek kepada Abangnya. Mari-mari, hati-hati dijalan Dek, salam ke bapak dan Ibu mu. Akan Dedek salamkan Bang ke ibu dan bapak.
Komentar:
tulisan ini, saya tulis tanpa ada paksaan orang lain, malainkan paksaan dari hati diri.
Ini Dulu Baru Itu!. Maksudnya baca dulu baru patheng clemong,, heee.
maaf belajar menulis saya
kalimat tersebut adalah ucapan yang selalu diucapkan oleh Win R.G. (Mantan Pimum UKM-LPM TEROPONG UMSU yang sekarang menjadi dosen dan penulis Novel) ketika ditanya bagaimana caranya menjadi penulis.
Kalimat itu selalu tertanam di dalam hati aku.
Pada saat peluncuran Novel terbarunya Win R.G. kembali mengucapkan kalimat itu.
Kalimat yang berubah menjadi sebilah anak panah yang tepat menancap di hati.
Beberapa bulan sudah aku bergabung dengan Persma.com, tanpa tulisan, tanpa kata.
Buat apa gabung di sini kalau aku belum juga menulis.
Dan akhirnya, kemarin, sebuah tulisan sederhana lahir.
Karena kalimat itu.
Cita-cita (apapun itu) tidak serta merta hadir dalam kehidupan kita. Ada proses yang harus dijalani. Dan semua itu butuh ruang dan waktu.
Silahkan login untuk memberikan pendapat