Mau Jadi Apa? 5

Selasa, 23 Feb '10 10:30

Mau jadi apa kamu nanti? Itu mungkin pertanyaan klise dari siapapun untuk kita. Sebuah pertanyaan yang mengandung harapan juga dorongan. Beberapa dari kita akan menjawab, 'Saya mau jadi orang sukses!' atau 'Saya pengen jadi pengusaha!', dlsb.

Saya lebih menyukai mereka yang menjawab beberapa jawaban di atas. Daripada terang-terangan menjawab, 'Liat nanti deh.' or 'Go with the flow aja deh.' Salah? Tidak. Sama sekali tidak. Tapi saya ragu apakah mereka tahu hendak jadi apa mereka.

Lalu?

Sebentar. Izinkan saya membuat satu ilustrasi. Manusia pada umumnya selalu berubah. Selalu berkembang. Bahkan selalu ingin berbeda. Kita pasti tahu istilah trendsetter dan juga follower. Hampir selalu seorang trendsetter akan dipandang miring bahkan negatif oleh masyarakat. Apalagi bila trendsetter tsb bukan merupakan figur publik. Kebanyakan masyarakat lebih suka atau bahkan terpaksa menjadi follower agar merasa aman. Comfort zone mereka terjaga dengan baik.

Tapi, hukum alam memang adil. Para trendsetter itu perlahan akan 'meledak' saat mereka survive dari seleksi alam masyarakat. Apa yang terjadi dengan follower? Mereka akan beramai-ramai 'mengikuti' sang trendsetter.

Ilustrasi di atas hampir sama dalam siklus hidup manusia. Lahir-bayi-anak-remaja-dewasa-tua-mati. Itu siklus biologisnya. Sedangkan, siklus sosialnya, sekolah/kursus-kuliah-bekerja-menikah-mati.

Apa hubungannya?

Seorang trendsetter akan berpikir dan merasa bahwa hidupnya terlalu berharga hanya untuk dijadikan default setting hidup manusia. Hanya begitu saja. Mereka ingin sesuatu yang berbeda. Membuat mereka lebih hidup. Lebih bermakna. Sedangkan seorang follower? Dia cenderung memiliki prinsip 'gak usah macem-macem lah'. Sebuah prinsip yang menjadikan mereka manusia default yang sama dengan manusia lain.

Contoh 'mau jadi apa' ini sekarang jelas terlihat dalam masyarakat. Dalam berbagai bidang, seorang trendsetter, seorang insurgent pasti fantastis. Lepas dari kepopuleran mereka. Berbeda dengan follower yang menjadi 'apa' yang standar. Mereka aman tapi cenderung kurang atau tidak puas dengan hidup mereka.

Ikrarkan dalam diri mau jadi apa kita. Sematkan dalam hati akan seperti apa kita di masa depan. Bermimpilah. Karena mimpi adalah pangkal dari kenyataan. Biasakan dengan kata 'mungkin'. Untuk apa saja. Lepaskan diri dari faktor-faktor yang mempengaruhi. Biarkan jiwa pemenang dalam tubuh kita ini menyeruak keluar dan berusaha mencari jalan kemenangan itu. Tentunya jalan yang benar dan adil.

So? Anda mau jadi apa?

Tetaplah menggenggam mimpi karena akan ada realitas melebihi mimpi yang menunggu kita

 


Tag: follower, trendsetter, mimpi

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

si berang-berang 0 0
karena konstruksi sosial yang notabene kebanyakan menuntut manusia agar lepas dari kemanusiaannya (contoh, mau jadi apa?
si berang-berang 0 0
karena konstruksi sosial yang notabene kebanyakan menuntut manusia agar lepas dari kemanusiaannya (contoh, mau jadi apa?
si berang-berang 0 0
karena konstruksi sosial yang notabene kebanyakan menuntut manusia agar lepas dari kemanusiaannya (contoh, mau jadi apa?
Wahyu Eko P 0 0
kaouru: sebaik-baiknya ummat adalah berguna dan manfaat bagi ummat yang lain, mari kita usaha...!!
FF Haq 0 0
Saat sebuah mimpi dan anggan dijadikan patokan, padahal didepan mata ada yang lebih penting untuk dipikirkan diilustrasikan. : (

Silahkan login untuk memberikan pendapat