Booming-nya 'Musisi Lelucon' di Indonesia 33

Senin, 22 Feb '10 02:36

<!-- /* Style Definitions */ p.MsoNormal, li.MsoNormal, div.MsoNormal {mso-style-parent:""; margin:0in; margin-bottom:.0001pt; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} p {mso-margin-top-alt:auto; margin-right:0in; mso-margin-bottom-alt:auto; margin-left:0in; mso-pagination:widow-orphan; font-size:12.0pt; font-family:"Times New Roman"; mso-fareast-font-family:"Times New Roman";} @page Section1 {size:8.5in 11.0in; margin:1.0in 1.25in 1.0in 1.25in; mso-header-margin:.5in; mso-footer-margin:.5in; mso-paper-source:0;} div.Section1 {page:Section1;} -->

“Ingin punya wanita cantik
Tapi cinta selalu ditolak
Lantaran ku ngga punya duit
Wajar aja ’kan belum artis, Kalo ku sudah jadi artis
Aku akan macarin artis
Walau tampangku hancur abis
Bodoh amat yang penting artis…Tuhan aku pengen jadi artis..
Tuhan aku pengen jadi artis..
Tolonglah jangan sampai menjadi gila… Artis…”

Sepenggal lirik  berjudul “pengen jadi artis”, sejenak menarik perhatian saya. Dari liriknya yang mudah diingat, lantunan nada yang sederhana sampai performance bandnya sendiri. Kagum? Dan senang lagunyakah? Tidak!. Amati saja dari liriknya yang seakan-akan mencerminkan bangsa kita yang hobi bermimpi. Menganggap bahwa “artis” adalah sosok pekerjaan yang menjanjikan segalanya, dan pada akhirnya dapat menjadi gila jika cita-cita tidak terwujudkan. Saya kira masyarakat kita tidak sebodoh itu.

 

Dewasa ini, banyak kita jumpai band-band baru mondar-mandir di layar kaca. Entah darimana asalnya band-band tersebut bermunculan. Mengeluarkan satu buah lagu kemudian menghilang. Meledak dengan satu lagu kemudian tidak terdengar lagi kiprah ataupun prestasinya. Bicara tentang kreativitas ataupun eksperimen musik, band-band tersebut bisa dibilang bentuk imajinasi bermusik anak muda yang positif serta meramaikan belantika musik Indonesia. Tetapi jika bicara mutu dan esensinya? Band-band macam ini bisa dikatakan That’s Nothing but a Joke!

 

Mutu ataupun kualitas seorang musisi bisa terlihat dari hasil “produknya”. Lagu yang ia hasilkan bermakna , dibalut dengan arasenmen musik indah, liriknya responsif, penggemarnya tidak musiman, dan inspiring. Agaknya mutu dan kualitas sudah tidak dipentingkan lagi oleh para peminat musik di Indonesia. Banyak  orang dapat menciptakan lagu-lagu yang enak didengar dan booming dengan segera . Tetapi menciptakan karya  yang akan dikenang oleh banyak orang  nantinya, hanya musisi berkualitaslah yang mempunyai bakat seperti itu.

 

Tentu  kita mengenal Iwan Fals, Nike Ardila, Pance, Godbless, Chrisye atau Ebiet G. Ade. Mereka-merekalah yang pantas disebut musisi-musisi sejati. Walaupun era kejayaan mereka telah habis, namun karya-karya mereka masih sering terdengar. Baru-baru ini, saya melakukan perjalanan menggunakan bus umum dari Jogja menuju  Malang, mendengar pengamen memainkan lagu “ Surat buat Wakil Rakyat” karya Iwan fals. Para pengamen pun seorang musisi, mereka adalah musisi jalanan. Dengan berbekal sebuah gitar , melantunkan lirik Bang Iwan, yang berisi tentang kekecewaannya terhadap wakil rakyat jaman itu. Bukan hanya satu pengamen saja yang menyanyikan lagu bang Iwan tersebut, selama lebih dari 5 jam perjalanan ada tiga orang pengamen melantunkan lagu yang sama. Hal ini membuktikan bahwa karya bermutu adalah yang dapat dikenang sepanjang masa, tak lekang oleh waktu. Saya dan seorang teman, tidak ragu-ragu mengeluarkan uang sampai Rp 5000,- untuk menghargai usaha mereka mengingatkan kami anak-anak muda untuk lebih kritis, dan cukup menghibur perjalanan yang melelahkan pada saat itu. Bahkan seorang pengamen pun sadar lagu apa yang pantas mereka mainkan agar pendengarnya rela memberi sedikit uang mereka kepadanya.

 

Maka munculah istilah ‘Band-band Lelucon’. Istilah ini pernah dilontarkan Ahmad Dhani salah satu Hits-maker Indonesia. Yang saya tangkap dari peryataan tersebut adalah bahwa  permusikan di Indonesia telah didatangi banyak band-band pencari popoularitas semata. Tidak menghasilkan musik yang bermutu. Muncul dengan kostum yang aneh-aneh, dandanan layaknya pemain sirkus kemudian lagu-lagu yang dibawakan tidak segarang penampilan fisik mereka. Parahnya lagi ada yang seperti pelawak, jungkir balik di atas panggung menggunkan kostum renang dengan gaya semaunya berharap penonton lebih tertarik. Musisi sejati tidak akan mencari popularitasnya dengan gaya ‘murahan’ seperti itu. Hal-hal seperti itu dapat mencoreng seni bermusik itu sendiri. Mereka yang berdedikasi pada musik akan menganggap panggung sebagai altar bermusik, menggunakan segala kemampuan bermusik dengan penuh jiwa bukan menjadikannya seperti panggung lawakan.

 

Kembalikan lagi pada audience-nya, seperti yang kita lihat, band ataupun penyanyi seperti itu malah mempunyai massa yang besar. Mereka disenangi, dan lagu-lagu mereka terbukti menjadi hits. Agaknya para penikmat musik jaman sekarang lebih senang dengan lagu-lagu yang memungkinkan mereka untuk berkhayal dan berkutat seputar masalah cinta. Memang, semua ini adalah pandangan subyektif, kita tidak bisa memaksakan seseorang untuk menyukai sesuatu yang ia tidak sukai. Namun, hal-hal kecil seperti ini secara tidak sengaja mengajak kita untuk lebih berfikir. Berfikir bgaimana caranya saat kita mendengar sebuah lagu, dapat menggerakkan kita untuk melakukan sesuatu yang berguna. Segera populer segera pula mereka akan menghilang. Tidak usah diberi contoh, anda sendiri pasti sudah bisa membuktikannya sendiri. 

 

“…di kantong safarimu kami titipkan
masa depan kami dan negeri ini
dari Sabang sampai Merauke.
Saudara dipilih bukan dilotre
meski kami tak kenal siapa saudara
kami tak sudi memilih para juara
juara diam, juara he'eh, juara ha ha ha......

wakil rakyat seharusnya merakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat
jangan tidur waktu sidang soal rakyat
wakil rakyat bukan paduan suara
hanya tahu nyanyian lagu "setuju......"

 

Bagaimana? Lebih enak membaca lirik lagu ini toh? Dibanding lirik di atas tadi..


Tag: musik, tren

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

FF Haq 0 0
Lebih baik menyaksikan Tv one yang menyajikan MC dan presenter yang bisa karaoke-an. : p

Sudah terlalu lama kita tidak melihat musisi yang tidak memikirkan apakah lagu mereka laku di pasar (walaupun dibajak). : ); ): p
Oo Zaki 0 0
Lagu-lagu bangsat itu laku keras karena ada krisis eksistensi raksasa dalam diri para pendengarnya ! raksasa karena itu tidak disadari. : (( : (( : ((

Asemlah !
arman dhani bustomi 0 0
ingat sis, selera dan minat musik dibentuk dari lingkungan, kamu gak bisa bilang bahwa 'alay' penggemar kangen band itu sampah, atau penikmat lady gaga itu taik, mereka mungkin hanya mampu mengangses lagu2 macam itu saja.
Rizki 0 0
arman dhani bustomi: bisa juga karena promosi yang sangat gencar oleh "mereka" taoh selama ini band2 macam Efek Rumah Kaca, Homicide dkk kalah di promosi tersebut lalu mereka mengalihkannya ke pasar luar......
Wez pokoke kuping kita masih kuping melayu, suka mendayu-dayu, lagu cinta melulu
sisca civitas 0 0
mas dhani: loch.. sy g da blg 'alay' yo..
cm prihatin aja, knp lgu2 mcam itu dminati bnyk oRG.
pilihan lgu yg kt dgar itu jg cerminan kpribadian....
ya ,, smw wajar2 sja.
FF Haq 0 0
Menari dan menyanyi dalam sangkar yang rapuh....... : (
si berang-berang 0 0
q suka st12 kok.. apalagi yg isabella...
haha....
no comment lah selain itu.
sisca civitas 0 0
@ berang : up 2 u..
neysa 0 0
Semua orang punya selera sendiri-sendiri, ada yang bilang musik mereka musik sampah, namun ada yang bilang itulah musik yang memberika anugrah bagi pembuatnya. Efek Rumah Kaca memang top lah, jalur indie pilihan yang tepat memang.
Dick 0 0
musik tetaplahlah musik sebuah ekspresi eksistensi, tanpa terkekang/terpenjara sesuatu apapun entah itu penjara kuwalitas hingga penjara terkejam bernama komersialitas. bukankah semua itu ukuran dari manusia yg punya ukuran terbatas?
bagi saya selama kreasi itu murni dari sebuah kreativitas tanpa embel booming atau apapun kecuali pesan dan hiburan it's ok1
sisca civitas 0 0
@ Dick : ehmm,, bRu di tgor Lgsung Login ye...
hehehehe... tpi tHx yow!
Wahyu Eko P 0 0
sisca civitas: saya terkadung suka lirik lagunya bang Iwan Fals.
sisca civitas 0 0
@ wa you : aq pun jtuH hati .. =p
Wahyu Eko P 0 0
sisca civitas: suka bolehlah, jatuhkan harus tersakiti, apalagi dengan harus dibebarengi dengan tangga.
sisca civitas 0 0
wa you : muLti tafsiR lah... jtuh tak mesti rsanya sakit jg toh.
klo jatuh hati tu skit.. knp bnyk oRg yg rela jtuh hti sm ap yg dia sukai..??
( he.. kok jdi ksini pmbicaraanya y? )
Wahyu Eko P 0 0
sisca civitas: mereka harus jatuh karena terpaksa, tak lain terjebak cinta kaum muda, yang hemat saya terlalu direkasasa.
si berang-berang 0 0
dulu sekali (sampe sekarang?),
ada perdebatan klasik para seniman dan pengamat perihal musik yang eksoteris dan esoteris.
kaum eksoteris menganggap musik (dan proses seni lainnya) harus membumi, merakyat dan dipahami publik dalam semua aspeknya, terutama cita2nya mereka yg ingin mencerdaskan masyrakat itu sendiri..
Hal ini ditentang oleh kaum esoteris, yang menganggap bahwa musik (dan proses seni lainnya) harus ditujukan untuk seni itu sendiri...masih ingat terma "art pour art" (seni untuk seni)?
pertanyaannya kemudian,
posisi kita, musik kita ada dimana ya?
kalo lagu Indonesia kebanyakan tesis q ya g masuk, hahaha..
Wahyu Eko P 0 0
si berang-berang: bukan kah hidup ini seni untuk mencintai "the art of loving??"
sisca civitas 0 0
aihh... mw mncintai seni aja terpaut tesis..
aduhh, nikmati sja lgunya..
dsna kt tw ,dmna seni-nya.
kbnykan pemusik sjati kLo dtnya knpa mmlih mnjdi seniman msik pst jwbnya "sya hnya ingin bermusik" pRsoalan lgunya dsukai ato tdk, dia pst tdk pduLi.
mka dr itu, seOrg pmusik/seniman,, mmpunyai "massa" sndri2.. ntah mw dr kLngan apa yg mnyukai dan kLngan ap yg tdk suka..
seni dmata pemahat mgkin brbeda dg seni dmata penyair.
Musik itu Indah.... mk smw oRg yg mencintainya..
Wahyu Eko P 0 0
sisca civitas: bukan gitu, cinta kasih dan sayang kan bukan masalah kau perempuan atau kau laki2, ,,,, hee, heee
sisca civitas 0 0
wa you : yg ngmongin cnta itu hny mslah kmu laki ato km prmpuan jg spa?? hyaaa.. mas nya, ngantuk ya.. ha3x

ya sdhlah,,, kata Cinta itu sakraL.
bhsa tinggi.. g da definisi pasti.yang ada kan kesepakatan dari subjektif-subjektif yang kemudian diobjektif-objektifkan, maka sepakatlah!
Wahyu Eko P 0 0
sisca civitas: meminjam kata Bang Iwan Fals, dalam lirik lagunya, "kuberikan setangkai kembang pete tanda cinta abadi namun kere". ini menunjukkan bahwa kegundahan bang iwan pada cinta kaum muda sekarang, atau bahkan dengan nuansa musiknya yang terlalu di romantismekan,
Wahyu Eko P 0 0
asem
FF Haq 0 0
Hidup cinta laura...........
: ) : p : )
diaz..bram 0 0
maraknay fenomena tersebut adalah usaha untuk memenuhi pasaran industri musik tanah air.....pengen banget ngeliat ada sosok iwan fals yang baru... kira2 sapa ya..
Rizki 0 0
Saya jadi ingat "cermin" dimana segala sesuatu yang ada di diri saya ternyata ada juga di diri orang lain bahkan orang se dunia, tak salah jika ada cerita sinetron yang nyentuh diri sendiri, lantunan musik, cerita humor pokoknya gua bangets deh, wajar masing2 dari kita punya senjata pribadi : D
ALAS INDONESIA 0 0
betul...betul...betul...
pemberontak pemalu LOPER 0 0
ah saya ga sepakat ah kalo bangsa kita dikatakan bangsa pemimpi.

saya masih ingat betul,gimana pendidikan sekolah dasar saya mengajarkan untuk tidak bermimpi dan bercita-cita resiaonal. Cita-cita saya dulu jadi pilot roket alias astronot, tapi kata guru saya "hahahha, mana ada astronot di sini".

yah, mimpi aja ga boleh....

tapi saya setuja kalo industri musik qta payah, dan musisi2 yang bermunculan itu pun korban dari industri musik yang bobrok. Jadi yang membuat para musisi melacur ya qta sendiri audiencenya, yang membuat qta suka dengar yang murahan ya industrinya.
Industri musik di Indonesia cuman mau duit aja, karena pelaku industri yang pemodal besar rata-rata adalah pengusaha. Sedangkan musik adalah bidang budaya, dibutuhkan orang yang mampu mengolahrasa untuk mengembangakannya. Yah, kira2 yang seperti anda lah ^_^

Gimana tertarik menjadi produser musik?
fu'ah DIMENSI 0 0
musik itu memang menarik buat mengisi kekosongan jiwa.
namun, ya piye neh... ngomong masalah selera? apalagi selera yang tidak dikendalikan oleh Sang pemilik selera, mau dikatain JADUL kek, ngga' bermutu kek, kampungan kek, udik kek, siapa yang peduli?
ibaratnya, kenapa kamu suka makan pizza? kalo jawabannya karena "ya... karena semua orang suka itu"
"ya.. lagi tren sich..."
"ya suka ajah..."
"mmm... abis gaul sich..."
nah lo?
sisca civitas 0 0
fu'ah : itu dia audiencenya musiman.. sk ngikutin tren2 biar dblg g mw ktngglan..

pmberontak pmalu : gmn kalo mmpinya bkin kt g maju.. akui sja klo msyrkat kita mmng sprti itu.. ha3x
sy pun sk brmmpi mnjadi trkenal, tp sya tepis. sy bkrja dlu skrg, nnti aja mmpinya. he..
pemberontak pemalu LOPER 0 0
sisca civitas: saya percaya tidak ada mimpi yg tidak bikin maju dan membuat qta semakin terbelakang. Karena banyak hal hebat yang terealisasi di muka bumi ini hanya karena di inisiasi oleh angan2. Jadi sayrat utama untuk jadi masyarakat madani dan maju adalah punya bermimpi.
Jadi mulailah bermimpi
sisca civitas 0 0
@ pmbrontak : hahahahahaha..
Wahyu Eko P 0 0
sisca civitas: pemberontak pemalu LOPER: fu'ah DIMENSI: haa, haaa, haaaa, haaa

Silahkan login untuk memberikan pendapat