Belajar itu Wajib atau Belajar itu Hak? 25
Senin, 22 Feb '10 03:16
Rekan-rekan Persma.com, ini adalah TOR diskusi Formas-Babel (Forum Mahasiswa Bangka Belitung), diambil dari berbagai sumber pustaka tentang filsafat ilmu. Halaman yang sama ada pada alamat weblog http://formas-babel.com/2010/02/21/mengenal-siapa-kita/ dan http://babang.web.id/journal-of-pragmatics/sifat-mendasar-berpikir-filsafat-maiyah.html
Pertanyaan di paragraf terakhir menjadi point diskusi pada waktu itu, banyak jawaban dan sanggahan yang didapatkan pada waktu itu. Topik ini saya angkat, dikarenakan peserta yang hadir pada waktu itu adalah mahasiswa tahun pertama. Objektifitas dari topik diskusi, diharapkan teman-teman mahasiswa baru Kep. Bangka Belitung lebih mengenal siapa diri mereka, untuk apa mereka kuliah, mengapa mereka merantau ke negeri orang, dengan kalimat lain bisa dikatakan "Mengenal Karakteristik Diri".
Plato mengatakan bahwa mata kita memberi pengamatan bintang-bintang, matahari dan langit. Pengamatan ini menurutnya akan memberi dorongan kepada kita untuk menyelidiki. Dan dari penyelidikan ini pulalah berawala filsafat. Lain lagi menurut Augustinus dan Descartes yang mulai berfilsafat dari keraguan atau kesangsian. Mereka berdua berpendapat bahwa manusia heran, tetapi kemudian ragu-ragu, apakah ia tidak ditipu oleh panca indranya yang sedang heran? Rasa heran dan meragukan ini akan mendorong manusia untuk berpikir lebih mendalam, menyeluruh, dan kritis sehingga memperoleh sebuah kepastian dan kebenaran yang hakiki. Oleh Augustinus dan Descartes, berpikir secara mendalam, menyeluruh, dan kritis inilah yang mereka anggap sebagai berfilsafat.
Sejarah kefilsafatan di kalangan filsuf di atas menjelaskan tentang tiga hal yang mendorong manusia untuk berfilsafat, yaitu kekaguman atau keheranan, keraguan atau kegengsian, dan kesadaran akan keterbatasan.
Dari adanya suatu kesadaran akan keterbatasan pada diri manusia seperti mulai menyadari bahwa kita adalah makhluk yang sangat kecil dan lemah, terutama dalam menghadapi kejadian alam, kita merasa bahwa kita sangat terbatas dan terikat pada saat mengalami penderitaan atau kegagalan, sehingga kita mulai memikirkan bahwa di luar manusia yang terbatas pasti ada sesuatu yang tidak terbatas yang dijadikan bahan untuk selalu berpikir maju untuk menemukan kebenaran hakiki.
Seorang filsuf memetakan beberapa jenis manusia dalam kehidupan ini berdasarkan pengetahuannya sebagai berikut:
Ada orang yang tahu di tahunya
Ada orang yang tahu di tidaktahunya
Ada orang yang tidak tahu di tahunya
Ada orang yang tidak tahu di tidaktahunya
Kemudian Filsuf di atas menuturkan bahwa untuk mendapatkan pengetahuan yang benar, maka ketahuilah apa yang kau tahu dan ketahuilah pula apa yang kau tidak tahu.
Pengetahuan dimulai dari rasa ingin tahu. Kepastian dimulai dari rasa ragu-ragu. Filsafat dimulai dari rasa ingin tahu dan keragu-raguan. Berfilsafat didorong untuk mengetahui apa yang telah diketahui dan apa yang belum diketahui. Berfilsafat berarti berendah hati bahwa tidak semuanya akan pernah diketahui dalam semesta alam yang seakan tidak terbatas ini. Berfilsafat berarti mengkoreksi diri, semacam keberanian untuk berterus terang, seberapa jauh sebenarnya kebenaran yang dicari telah dijangkau.
Sejak bangku play group atau taman kanak-kanak, sekolah dasar sampai pendidikan lanjutan dan perguruan tinggi, kita mendapatkan ilmu pengetahuan. Berfilsafat tentang ilmu berarti keterus-terangan pada diri sendiri: apakah sebenarnya yang kita ketahui tentang ilmu itu? Apakah ciri-ciri yang hakiki yang membedakan ilmu dari pengetahuan-pengetahuan lain yang bukan ilmu? Bagaimana mengetahui bahwa ilmu merupakan pengetahuan yang benar? Kriteria apa yang dipakai dalam menentukan kebenaran secara ilmiah? Mengapa ilmu mesti dipelajari? Apa kegunaan ilmu yang sebenarnya?
Berfilsafat berarti berendah hati mengevaluasi segenap pengetahuan yang telah diketahui: Apakah ilmu telah mencakup segenap pengetahuan yang seyogyanya diketahui dalam hidup ini? Di batas manakah ilmu mulai dan di batas manakah dia berhenti? Ke manakah kita harus berpaling di batas ketidaktahuan ini? Apakah kelebihan dan kekurangan ilmu?
Tag: pengetahuan, Filsafat ilmu, Belajar itu Wajib, Belajar itu Hak
Terkait:
-
Reinkarnasi (Edisi Trial)
Minggu, 29 Nov '09 16:52
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
FF Haq: Penting
-
Oo Zaki: Perlu
-
bung hakim: Responsif
-
Kemuning: Perlu
-
arman dhani bustomi: Penting
-
Rizki: Penting
-
Wahyu Eko P: Perlu
-
si berang-berang: Biasa
-
ketoles ARBIMAPALA: Bagus
-
Joker:
Komentar:
Tanggung jawab, dab...
Kenikmatan primitif sosok manusia pribumi sebelum ego dan super ego. Bagaimanapun juga, kamu hrus tanggung jawab dgn keteledoran kebodohan itu sendiri, dab.
Kalau membantu mencarinya boleh deh........
dan tetap wajib, walau kafir sekalipun, karena para filsuf barat pun, menegaskan baik itu kaum idealisme maupun materialme.
pada periode awal filsuf belajar makro cosmos (alam semesta) dan perkembangannya mikro cosmos (diri pribadi) selanjutnya masyarakat, bahkan berlanjut di alam estestika sebagai puncak filsafat sekarang.
termasuk diantaranya menulis (tanda-penanda-yg ditandai).
@dhani saja cukup: He he he9x12...salam super dugem!!!
BJ: ini juga sama aja.........
Anda ini mau ngajak orang berfilsafat (atau belajar filsafat) atau malah mewakili tradisi positivistik berapologi?
aduh...
Maklum, kawan...baru amatiran awak ini...Enggak usahlah anda aduh...membaca coretan itu, tak ada artinya itu mengeluh...
sama dengan SBY, ketika merasa terganggu dengan buku gurita ,,,,,,,,,,,,, sejatinya kan lewat buku juga, bukan dengan wake wakee dan wakee kekee.
pertanyaannya? Bila Tak Salah Mengapa? Harus Marah,, .? hee, hee
Inilah belajar dengan cara yang berbeda ya dan aku sangat senang
BJ , @si berang-berang, dan @Wa
xixixixixixixi
Hancurkan....
--------------------------------- ---------------------------------------------
Awak bisa jadi orang bodoh, lugu dan pelupa diantara orang-orang pandai di Persma.com
Silahkan login untuk memberikan pendapat