Menjadi petarung sejati atau mati demi semangat baru 13

Rabu, 17 Feb '10 13:24

Menjadi petarung sejati atau malah mati demi timbulnya semangat baru, mungkin itu yang menjadi pilihan dalam berorganisasi. Mengapa saya mengungkapkan hal demikian? Karena sebuah perjuangan tidak dapat diselesaikan dalam satu lompatan kecil, namun diperlukan lompatan dengan gaya dan teknik yang bermacam-macam. Kebiasaan yang menjadi penyakit adalah sikap senioritas yang tidak disadari dan akhirnya membunuh karakter para kader. Seringnya hal ini diamati oleh banyak pihak, tapi lagi-lagi menular.
Sesungguhnya senioritas pun perlu pada posisi yang bisa dikatakan genting dan terjepit. Hal ini dikarenakan adanya pengalaman lebih dalam mengatasi suatu masalah. Tapi jika kiranya masalah itu masih dalam batas kewajaran hendaknya dibiarkan agar menjadi bahan pelajaran yang lebih mengena dan membekas. Dalam sebuah organisasi mengapa perlu adanya jenjang karir yang jelas adalah agar tidak terjadi interfensi pada angkatan lain (menurut saya) dan agar seseorang mengerti apa yang harus dilakukan saat ini.
Menjadi petarung sejati bukan berarti melahap dan membantai semua masalah dan halangan yang menghadang secara sendiri seperti dalam film kartun, namun menjadi seorang yang merelakan kepentingan pribadi dan kepentingan lainnya demi menciptakannya tatanan yang serasi dan seirama. Banyak sekali saya mendapatkan cerita dari beberapa teman-teman tetang perjuangan demi menciptakan visi dan misi organisasi, hingga membuat hati ini merasa terpacu dan membara. Memberikan cerah dan nasehat terkadang tidak cukup untuk menumbuhkan pemahaman akan apa yang ingin kita sampaikan. Contoh nyata dengan mencontohkan seperti apa dan bagaimana mungkin dapat mendapat kesan yang sesuai, namun hal ini bukan-lah hal yang mudah.
Mati demi timbulnya semangat baru, ini merupakan hal amat sangat bertolak belakang dengan menjadi petrung sejati. Menjadi karakter yang disenangi amat-lah mudah, namun saat seseorang memilih menjadi orang yang dibenci dan dicibir demi keberlangsungan organisasinya. Dimana dia memberikan ilmu pengetahuannya dengan melakukan kesalahan dan juga tindakan bodoh diluar dari logika manusia biasa. Sekarang tinggal teman-teman mau menjadi yang mana? Selesaikan atau mati dengan semangat yang tersampaikan.


Tag: mboh, LPM, organisasi, Kader

Sebarkan Digg Delicious MySpace

Terkait:

Siapa saja yang merating artikel ini:

Komentar:

Wahyu Eko P 0 0
sekali berarti setelah itu mati
FF Haq 0 0
Ngak mau agh.........
Wahyu Eko P 0 0
ternyata kau LARIIIII...!!!
FF Haq 0 0
Lebih baik lari dari pada diam dalam ketertindasan. : p
Wahyu Eko P 0 0
jangan lari bang? apakah kau takut dg realita bangsa bedebah ini?
Wahyu Eko P 0 0
FF Haq: sudah ketemukah dengan warga baru persma.com langsung aja follownya
sisca civitas 0 0
bcra ttg senioritas ya??
emang,, mnurut pglaman c, senioritasnya bkan yg semena-mena kyk ospek gtu. tp lbih sprti mncari 'sekutu'..
ya,, kyak doktrinisasi . dsruh ikut pkiran org ini dan yg itu..
(ssstttt..)
ya, bgtulah organisasi, sarat politik.

biarkn yg muda brkmbang sndiri dlu dch!!
yg tua2 beri petuah sja, biar kt gk "lose control''
hohohoho..
FF Haq 0 0
@sisca: Biar mereka nabrak dulu baru beritahu yang benar jalannya kemana...... : p
sisca civitas 0 0
"disini sedia buah segar,, khusus buat ank muda. orang tua dlarang beli.. sdah bkan wktunya lagi..!"
hehehe..
FF Haq 0 0
: ) memang seperti itu seharusnya. : )
Wahyu Eko P 0 0
saya juga mau segar bugar Bolehkah...???
FF Haq 0 0
Kenapa tidak? : )
Wahyu Eko P 0 0
FF Haq: hheee

Silahkan login untuk memberikan pendapat