Lagi-lagi PPMI 1
Rabu, 17 Feb '10 18:23
Salam Pers Mahasiswa!
Apakah ketika kau sudah lulus kuliah masa belajarmu selesai? Begitu pula dengan PPMI, apakah perjuangan usai pasca 1998? Sehingga pergerakan ini cukup hanya dengan forum yang cair dan cukup dengan energi yang praktis, efektif dan efisien untuk menjaga agar api ini tidak padam, dan mati.
Kekurangan bisa jadi suatu kekuatan, pada titik tertentu, pun sebaliknya potensi menjadi kelemahan. Tautologi yang mempersoalkan apa yang telah diberikan PPMI kepada LPM? Apa yang telah LPM berikan kepada mahasiswa? Apa yang telah diberikan negara ini kepada warganya? Pertanyaan yang menarik dan kritis namun tidak perlu dijawab dalam suatu kelaziman. Penjelasan dalam bentuk tindak lanjut dan sikap kedewasaan sebagai akademisi dan pemikiran moral seperti lebih tepat.
Soal bukan wadah tunggal.
Satu atau jamak bukan kepastian jumlah. Tetapi gerakan, bagaimanapun jumlah dan bentuknya tidak bisa tidak. Pengawalan tanpa persma bukan basa-basi dan media pelupa berita kemarin. Itu alternatifmu, kelebihan persma. Di era yang terbuka [meski semu] ini persma tidak akan terjebak dalam keterbukaan [kesemuan] ini. Kemungkinan akan selalu ada. Tetapi kepastian adalah tujuan. Meski kepastian [baca: kemapanan atau status quo] bukan segalanya, tapi kepastian nasib rakyat adalah tujuan bersama.
Hanya kekhawatiran akan kekuasaan yang menguasai hak-hak warga negara yang dirasakan persma. Kekhawatiran yang menjadi semangat pengawalan dan perlawanan. Kekhawatiran sedikit berbeda dengan sensitif, ketika auratnya dipublish. Sensitifitas akan kebersamaan, yang berarti kerinduan akan solidaritas, sangat terasa ketika perjuangan dan pergerakan ini terasa sepi tanpa kau duduk disampingku kawan. Itu yang aku rasakan. Bukan persoalan identitas ku atau mu, namun ketercapaian harapan dan cita-cita jauh lebih penting dari pada sibuk mempersoalkan identitas dan wajah.
Soal Eksistensi: tetap memilih bergerak di bawah.
Dikatakan bukan ilusi bahwa seorang Fir'aun takut dengan seorang anak bernama Musa. Entah itu anak lelaki atau perempuan bukan soal, yang jelas seorang anak itu berguru pada seseorang yang tua. Siapakah itu: pengalaman waktu. Karena yang tua telah mewaktu dari masa muda. Tapi bukan ini yang sebenarnya untuk dijelaskan. Kesadaran historis, termasuk sang Khidir, yang berdiam diantar dua tempat, persimpangan ruang dan waktu, masa transisi yang boleh jadi adalah seorang guru. Mengapa soal eksistensi baru dipersoalkan pasca 1998? Tahun 2000 misalnya, karena yang memang sebelum itu tidak butuh dan tidak perlu bahkan tidak ada untungnya memperbincangkan itu. Kondisi memperlihatkan diri seperti yang lain. Tak sebenarnya dirinya. Hanya ironi dan paradoksi kekuasaan dan citra imaji, bahwa keterbukaan adalah kemerdekaan. Bebas dari keterpurukan dan ketidakadilan. Menjadi tidak ada lagi orde baru. 'yang tua' mengajari kita bahwa orde-orde makin baru dan makin banyak tidak hanya satu, menyebar ada dimana-mana. Lalu dimana eksistensi itu ketika menjadi jamak dengan ke-baru-an ini? Rasio akan mengatakan ya harus ikut menjadi jamak agar keberadaan selalu ada dimana-mana. Sedangkan moral menjawab, jamak atau tidak itu tak masalah, asalkan keadaan menjadi lebih baik. Sehingga secara normatif menyinggung, tinggal bagaimana kita menyikapinya? Jika direspon negatif ya akan menjadi keruh dan sebaliknya, akan telaten menjernihkan air yang mengalir ini. Bisa jadi mudah pun bisa jadi sulit sekali.
Pilihan untuk bergerak di bawah, dengan sadar akan segala konsekuensi, menjadi alternatif yang variatif diantara lainnya. Seperti halnya melawan dari tepian, tidak bermain di arus pusar, atau memang belum saatnya melawan dari pusat mengingat sangat deras di atas permukaan, apalagi arus bawah. Kekhawatiran soal kooptasi dan independensi menjadi nilai yang harus dijaga. Jangan sampai dibawa-bawa oleh kepentingan pusat atau terseret arus kekuasaan. IPMI telah memberikan pelajaran kepada PPMI, bagaimana soal kooptasi dan ruang geraknya dipadamkan sedikit-sedikit, serta diberikan peredam suara sehingga apapun yang diteriakkan nihil jadinya. Sudahlah, memang demikian keadaannya, pemakluman yang penuh arti untuk hari ini. menjawab pertanyaan mengapa PPMI belum atau tidak tampil keluar permukaan dan agak menjaga jarak dengan pusat dan kekuasaan. Demikian independensi adalah barang suci dan roh media.
Yang jelas sampai detik ini PPMI hanya mampu bergerak di arus bawah. Menjalankan kerja-kerja kultural dalam struktural. Bukan soal eksistensi yang penting tapi esensi bawah dan tujuan bersama jauh lebih penting. Tapi ingat benarkah hari ini PPMI sudah menuju esensi dari pada habis tenaga berdebat soal wacana identitas dan eksistensi dengan berbusa-busa bahkan berdarah-darah. Apakah hal ini selesai dengan satu pertanyaan dan satu jawaban. Tidak.
Soal Kemarin
Masa lalu bukan untuk diharu-biru atau dijadikan kenangan semata oleh generasi berikutnya. Sering terputusnya rantai regenerasi dan kaderisasi persma berakibat pada bongkar-pasang bangunan PPMI. Hampir di setiap periode atau 2 tahun sekali perubahan terjadi sangat mendasar soal pola gerakan. Hal ini mempengaruhi kinerja pengurusan, dapat dilihat misalnya ada fluktuasi organisasi yang menukik dan sebaliknya mendongak tajam, ada semacam perubahan pasang surut yang drastis, meskipun diakui tidak ada stándar baku yang digunakan menilainya, kecuali dilihat dari keanggotaan dan keaktifan pengurusnya, serta sikap persma terhadap PPMI, meski terkadang kegagalan regenerasi dan transformasi persma sering dituduhkan akibat gagalnya pengurus PPMI, selalu menjadi keranjang sampah makian dari aktivis persma.
Perubahan drastis atau fluktuasi yang tiba-tiba ini, menurut saya, tidak wajar sebagai organisasi perhimpunan organisasi. Memang karakter PPMI sangat jauh berbeda dengan organisasi secair forum komunikasi atau sepadat persatuan, atau semacam dewan, entah apalagi yang lain, bagi para founding father hal ini kurang terlalu diperhatihan kecuali satu "untuk mencapai tujuan bersama." Organisasi yang mengorganisir organisasi, lembaga non-legal yang menaungi lembaga legal. Sulit sekali untuk didefinisikan. Tapi ini bukan persoalan dan tidak untuk dipersoalkan. PPMI adalah multi karakter unik sebagai organisasi persma dan gerakan persma. Organisasi bukan media yang berorientasi media, dan kini pun sudah punya media [online]. Format seperti ini pun tidak pernah dipersoalkan karena itu tidak penting. Hal yang lebih diutamakan adalah bagaimana strategi gerakan yang terus dikembangkan sesuai dengan konteks ruang dan waktu, kemampuan dan potensi yang dimiliki. Ada tiga pokok dari persoalan dari kemarin yang mempengaruhi hari berikutnya. Soal posisi, fungsi dan peran PPMI. Pemahaman awam yang semestinya selesai ketika langkah awal terayun di setiap titik masa.
Soal Posisi
Mengurai posisi PPMI berarti usaha menggambarkan ruang-ruang gerak dan potensi gerakannya. Sejauh ini belum ada apapun jenis dan bentuk organisasi selain media yang sangat strategis posisinya. Diakui posisi yang potensial ini menjadi kecemburuan oleh banyak pihak, termasuk pemerintah. Diantara masyarakat bawah media jelas dibutuhkan. Di lingkungan politik besar pengaruhnya untuk sebuah langkah kebijakan atau strategi politis, dan sebagainya. Apalagi di ranah gerakan, media selalu menjadi pilihan tunggangan utama karena bergerak pada tataran alam pikiran [kesadaran]. Meski demikian potensialnya, media, dlam hal ini persma, tidak bisa menyentuh wilayah riil seperti advokasi, kecuali jurnalisme advokasi yang hanya membela melalui media. Kehadiran organisasi yang menjadi wadah persma adalah penjelmaan riil, dari media menjadi gerakan. Hal seperti ini lebih operasional, dari pada pilihan loncat pagar persma sebagai media lalu terjun di jalan demontrasi dan advokasi. PPMI menjadi gerakan media yang terorganisir untuk tidak loncat pagar, meski itu sah-sah saja dalam suatu perjuangan. PPMI menjembatani pergerakan yang tidak hanya berhenti pada tataran alam pikiran [wacana] untuk mempengaruhi pembaca, namun juga secara langsung dan mendekat [meski berjarak sebagai sifat media] melakukan sebuah pembelaan. Sehingga pada posisi ini PPMI berhubungan dengan pergerakan dan lembaga advokasi lainnya; semisal LSM, gerakan mahasiswa, ormas, dan sebagainya. Sebagai gerakan media, PPMI berpotensi untuk menjalin hubungan dengan siapa saja. Persma berada di posisi "antara" dengan yang lain. Berjarak, tidak dekat dan tidak jauh. Sehingga punya potensi merangkul semua pihak. Membarakan semangat pergerakan menjadi tugas persma, pun menjaga agar tidak padam. Semangat persma menjadi landasan pijak utama dalam bergerak, idealisme persma tetap terjaga.
Dengan demikian kita tidak sibuk mempersoalkan tubuh, eh PPMI sudah mandi atau belum ya? Menjadi forum atau perhimpunan menjadi tidak penting untuk dibahas. Meski diakui hal ini sebagai otokritik, sebagai nutrisi dan gizi tambahan, energi sebuah pergerakan media, persma tetap perpegang teguh pada idealismenya. Bahkan makan atau tidak, berapa kali makan sehari menjadi tidak perlu dibahas, karena memang persma tidak pernah menempatkan modal sebagai hal yang utama. Apakah PPMI butuh iklan? Perlu dana berapa untuk merawat dan menyiapkan makan sehari-hari? Pertanyaan yang jelas jawabannya karena persma dan PPMI bukan perusahaan [entah apa jadinya kalau kampus jadi perusahaan profit].
saya tidak menyalahkan generasi sebelum kita, atau rantai transformasi yang terpotong menjadi seolah-olah kita lupa dengan tujuan perjuangan persma. Apakah layak kita seperti anak kecil, [istilah jawa] mutung atau ngambek untuk bergerak, udur-uduran atau saling menyalahkan, saling melemahkan dan menggembosi, hal-hal semacam ini kan tidak penting. Kepedulian semacam apa yang dipegang, ketika tidak peduli dengan sesama persma, sesama pergerakan, sesama warga negara, sesama manusia. Wong dengan tetangga persma saja tidak peduli apalagi dengan yang lain. Ini kan ironi, pragmatisme menjalar menjadi elitisme, sehingga membatasi pergaulan dan kepedulian pilih-pilih. Kemapanan menjadi faktor berpengaruh, ketika seseorang yang berkehidupan mapan mana mungkin ia akan menjadi aktivis atau sukarela, karena pikirannya mengarah pada, apa sih untungnya bagiku? Ini pikiran negatifnya, kecuali Sunan Kali Jaga, budha, dan sejenisnya yang rela meninggalkan kemapananya demi sebuah kepedulian dan pembelaan. Yang positif ketika seorang yang mapan menjadi seorang aktor pergerakan, dan kepedulian tanpa elitisme, itu akan lebih potensial dari pada yang hidupnya kurang. Pengalaman pergerakan banyak menunjukkan hal itu dari semasa politik etis sampai hari ini kaum borjuis kecil, mahasiswa, tetap menjadi aktor perubahan yang potensial. Selain para akademisi, budayawan dan seniman, agamawan, dan bangsawan, untuk ukuran sosial sangat berpotensi melakukan perubahan, sebagaimana pers mahasiswa.
Diantara media lain, selain persma, media umum misalnya, persma tetap tidak kehilangan identitasnya. Tidak pula kehilangan wilayah garap juga. Memang dari dulu persma tidak semata-mata membahas kampus atau sebaliknya. Persma punya kewenangan ganda, sebagai media kampus dan media umum. Media kampus karena berposisi di kampus sebagai kontrol sosial kondisi kampus, sekaligus media umum karena tidak bisa persma lepas dari lingkungan masyarakatnya. Sehingga persma tetap sebagai kontrol sosial bagi masyarakat dengan pilihan keredaksian ala persma, tendensius dan emosional, pun profesional ala persma, persma punya kode etik pers mahasiswa sendiri. Keunikan dan potensi independensi yang kuat dalam sikap pemberitaan. Persoalan regenerasi nanti bisa dibicarakan lebih jauh, itu persoalan etis bagi pengurus persma. Sedangkan pers umum, saya kira tidak bisa begitu saja membandingkan keduanya, jelas berbeda itu intinya. Ketika pers umum mengalami yang tidak diharapkan oleh persma, di situlah posisi persma. Ketika pers umum belum masif masa penjajahan, ketika pers umum terkooptasi masa orde lama, ketika pers umum direpresi masa orde baru, ketika reformasi profit oriented, kebebasan semu dan keterbukaan semu masa ini, persma akan tetap punya posisi strategis. Meski dipahami dengan segala kelemahannya. Namun demikian pula segala potensi atas posisi yang dimilikinya, pers alternatif namanya selalu kritis memposisikan diri.
Soal fungsi
Menjawab perdebatan yang selama ini munculkan: apa manfaat PPMI bagi persma? Atau PPMI tidak menyentuh persma-persma di seluruh daerah. Maka hal ini menandakan pemahaman yang belum merata, sehingga lahir pertanyaan, siapa sih PPMI? Dengan demikian memang perlu kesadaran historis tentang pergerakan pers mahasiswa. Kemudian apa sih idelologi pers mahasiswa? Ini berarti pergerakan belum bisa dilanjutkan karena regenerasi belum berjalan. PPMI sebagai wadah perhimpunan persma-persma yang pengurusnya bersifat pendelegasian atau wakil dari persma. Sehingga ia benar-benar mewakili persmanya, jika tidak, silahkan kebijakan persma tersebut bagaimana. Membincang PPMI tak ubahnya mempercakapkan wakil-wakil dari persma itu, yang kemudian diberikan wewenang dan tanggungjawab untuk menjalankan dan mengorganisir sesuai dengan kesepakatan bersama untuk tujuan perjuangan.
Fungsi organisasi jika ditarik garis besar secara internal dan eksternal, yang berarti ke dalam, PPMI dengan pengurus dari delegasi asal persma itu, pemberdayaan dan menjaga konsistensi persma-persma selaku delegator, supplyer aktivis persma. Fungsi ke dalam lebih dinamis karena berkenaan dengan sesama persma meski beragam karakter dan sifatnya. Menjadi advokasi persma, solidaritas persma, jaringan persma, dan sebagainya baik kultural dan struktural sifatnya.
Fungsi ke luar, PPMI dengan pengurusnya adalah wakil dari persma itu, sebagaimana gerakan dan sebuah media dalam memperjuangkan nilai-nilai kerakyatan, moralitas, kemanusiaan, serta menunaikan tanggungjawabnya sebagai intelektual dan tanggungjawab media. Nilai-nilai inilah yang menjadi semangat perlawanan jika realita dan kekuasaan tidak memihak kepadanya.
Maka dengan pemahaman fungsi dan posisi PPMI sebagai wadah persma akan optimal menjalankan perannya.
Soal hari ini
Harapan yang besar dan tekad yang kuat memang perlu energi. Itu tidak simpel dan praktis. Perumusan alternatif [bukan heroik] dengan bahasa yang mudah dipahami dan dijiwai sekaligus dijalankan bukan teoritis belaka. Sehingga sederhana bermakna tak hanya apa adanya. Dekatkan suaramu ke telinga pembaca, katakan kata-kata yang dibutuhkannya. Ada dua hal menarik; kedekatan dan kebutuhan atau hak. Kiranya dua hal ini yang sedikit dilupakan oleh persma. Ini lah re-orientasi persma: memberitakan yang dekat dan kedekatan menjadi keutamaan, sekaligus mengangkat kebutuhan atau hak-hak rakyat yang belum ditunaikan oleh pemegang kebijakan. Alternatif dengan maksud, konteks dan pemahaman yang berbeda. Hari ini ada hari ini, dengan konstruksi ruang dan waktu, karena kekuasaan kini menyebar sehingga kaki-kaki PPMI harus kuat mencengkeram dan ada persma di sana. Mengingat kekuasaan sekarang ada dimana-mana, maka kian banyak potensi penindasan dan penyimpangan dimana-mana. Persma harus menyiapkan strategi untuk ini.
Demikian tugas PPMI, sebagai wadah media menghimpunnya dan mengolahnya, akhirnya sesuai dengan sasaran dan bidikan akan tepat arahkan. Sebagai gerakan media dengan berdasar pada berita dan data dari persma-persma, sikap memihak yang demikian jelas.
Dan sebetulnya masih banyak soal yang perlu dikerjakan. Tapi kan tidak semuanya dipersoalkan. Layaknya seseorang mempersoalkan sedikitnya secangkir kopi ini daripada air samudera di sana. Demikian tanggapan atas hari-hari ini sejauh pemahamanku sekaligus kekurangan yang tak bosan lagi dan lagi memahami diri...
Tag: ppmi
Terkait:
-
Tertawa sedikit itu perlu
Selasa, 3 Mei '11 10:03 -
Baju kerjaku dicuri
Minggu, 1 Mei '11 09:16 -
link download file undangan
Kamis, 10 Mar '11 00:10
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Penting
-
Elly LPM Situs: Penting
-
ketoles ARBIMAPALA: Penting
-
FF Haq: Penting
-
Kemuning: Penting
-
Rizki: Responsif
-
Wahyu Eko P: Penting
-
ALAS INDONESIA: Penting
-
Yohannes Suseno: Penting
Komentar:
Silahkan login untuk memberikan pendapat