PPMI sebuah wajah yang terus berbenah 12
Minggu, 14 Feb '10 15:54
Sudah 10 tahun reformasi bergulir, namun belum ada perubahan nyata yang kita rasakan. Mahasiswa yang pada saat itu menjadi penggagas, terus beruasaha menyuarakan amanat perubahan cita-cita reformasi. Bergerak seirama perubahan menuju perbaikan, pers mahasiswa (persma) terus menggalakan pergerakan melalui pena. Karena sebagai penggiat persma dalam tulisan berusaha menyajikan fakta dalam bungkusan kata-kata. Sejarah mengenal pers mahasiswa sejak jaman kolonial penjajahan negeri ini.
Saat itu pers mahasiswa berusaha menyuarakan penderitaan rakyat akibat penjajah belanda dan jepang. Kita mengenal boedi utomo dan poerhimpunan Indonesia saat itu, dengan tulisan yang mengungkapkan fakta secara apa adanya dengan analisa kritis menjadikan para intelektual muda bangsa kita saat itu menjadi ancaman kaum kolonialis.
Sejarah singkat pergerakan pers mahasiswa
Persma terus bergerak, berdetak, dan bernapas tiada henti untuk menyuarakan amanat penderitaan rakyat. Pasca kemerdekaan arah gerak juang persma berubah dalam mengawal kebijakan pemerintah negeri ini. Bersama organisasi mahasiswa lainnya, persma kala itu berusaha melawan interfensi pemerintah yang berusaha menanamkan idiologi Manifesto Politik Undang-Undang Dasar '45, Sosialisme Indonesia, Demokrasi Terpimpin, Ekonomi Terpimpin dan Kepribadian Indonesia (MANIPOL USDEK).
Hal tersebut malah memunculkan suatu hasrat dari berbagai Lembaga Pers Mahasiswa untuk meningkatkan kualitasnya, baik dari sisi redaksional maupun sisi perusahaan. Dan, atas inisiatif Majalah Gama, diadakan konferensi I bagi Pers Mahasiwa Indonesia. Konferensi menghasilkan dua organisasi yaitu Ikatan Wartawan Mahasiswa Indonesia (IWMI yang ketuanya T Yacob) dan Serikat Pers Mahasiswa Indonesia (SPMI yang ketuanya adalah Nugroho Notosusanto). Kemudian Tanggal 16-19 Juli 1958 dilaksanakan konperensi Pers Mahasiswa ke II yang menghasilkan peleburan IWMI dan SPMI menjadi IPMI (Ikatan Pers Mahasiswa Indonesia) karena anggapan perbedaan antara kegiatan perusahaan pers mahasiswa dan dan kegiatan kewartawanan sulit dibedakan dan dipisahkan.
Hingga pada akhirnya era soekarno berakhir dengan ditandai hancurnya PKI dan dimulainya rezim orde baru. Tidak jauh berbeda dengan pendahulunya yang otoritarian dan mengekang, orde baru dengan NKK/BKK-nya berusaha membungkam arah gerak mahasiswa. Namun hal itu tidak berhasil membunuh idealisme mahasiswa kita saat itu. Dengan citra berani, keras dan independent, persma, saat orde baru mencapai puncak kedigjayaannya. Memberitakan kebusukan birokrat-birokrat korup dan membela aspirasi rakyat secara frontal, akhirnya membuat persma kala itu dibredel seluruhnya.
Namun perlawanan penggiat pers mahasiswa saat itu tidak berhenti, melalui pamflet dan selebaran-selebaran "bawah tanah". Mereka berusaha melawan kebijakan otoriter pemerintah hingga pecahlah peristiwa "Malapetaka Lima Belas Januari" (MALARI). Dengan alasan menormalkan kehidupan mahasiswa untuk belajar dan kuliah. Pemerintah melakukan tindakan rerpresif dan menekan semua oramawa (persma khususnya). Terjadi ketakutan atas idealisme mahasiswa yang terbukti mampu bergerak bersama rakyat menggulingkan PKI.
IPMI kemudian mengalami stagnan akibat tindakan pemerintah yang kala itu sangat represif dengan isu "subversif", pemerintah banyank membredel LPM-LPM yang ada. Yang kemudian kehilangan arah gerak dan tujuannya. Persma kala itu bergerak secara parsial dan hanya berkumpul dalam forum-forum komunikasi saja. Tidak ada masifikasi gerakan yang jelas dan terarah. Hingga pada akhirnya Sarasehan Pers Mahasiswa Indonesia di Purwokerto, 19 - 22 September 1988 di Universitas Jenderal Soedirman (disebut : Pra kongres IPMI VI). Hasil penting dari sarasehan ini berupa DEKLARASI BATU RADEN, yang diantaranya ditandatangani oleh 18 wakil aktivis pers mahasiswa kota yang hadir. Deklarasi berbunyi : " Sadar bahwa demokrasi, keadilan dan kebenaran yang hakiki merupakan cita-cita bangsa Indonesia yang harus selalu diupayakan secara berkesinambungan oleh seluruh komponennya yang bertanggungjawab dan sebagai salah satu komponennya bertanggungjawab dan memperjuangkan cita-cita tersebut secara kritis, konstruktif dan independen. Dengan didorong semangat kebersamaan, dan disorong oleh keinginan luhur untuk melestarikan dan mengembangkan pers mahasiswa di Indonesia, maka seluruh aktivis pers mahasiswa menyatakan perlu dihidupkannya kembali wadah nasioal yang bernama Ikatan Pers Mahasiswa Idonesia (IPMI)".
Lahirnya PPMI dan sebuah cita-cita pergerakan baru
Lokakarya Penerbitan Mahasiswa Se- Indonesia di Malang telah menorehkan pena emas bagi perjalanan ke depan aktivitas pers mahasiswa di Indonesia. Terutama telah disepakatinya sebuah organ baru - wadah pers mahasiswa Indonesia yaitu Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMI). Sebuah wadah alternatif dan bukan satu-satunya wadah pers mahasiswa di Indonesia, diharapkan mampu mengakomodir dan menyikapi setiap persoalan dan perkembangan yang menyangkut kehidupan pers mahasiswa dann masyarakat pada umumnya. Sebuah sandaran bagi pemupukan arah gerakan pers mahasiswa yang juga diharapkan mampu merespon fenomena sosial politik yang berkembang serta menegaskan sikap sebagai bagian dari elemen gerakan mahasiswa pada umumnya. Beberapa pandangan dan harapan ditumpukan pada organisasi ini untuk memperteguh visi dan misi gerakan pers mahasiswa di Indonesia.
Perkembangan yang terjadi di era 80-an hingga 90-an, ditandai dengan maraknya kemunculan penerbitan mahasiswa di berbagai perguruan tinggi[i]. Hal ini seiring dengan laju perkembangan sosial kontemporer pada dimensi masyarakat di Indonesia. Namun di antara kemajuan tersebut ternyata di sisi-sisi lain nampak terdapat kehidupan yang memprihatinkan. Banyak kesenjangan yang terjadi di tubuh masyarakat. Pengaruh strukturalisasi yang represif orde baru dengan ideologi pembangunannya diberbagai bidang telah menciptakan sebagian besar masyarakat yang tidak perduli terhadap perkembangan sosialnya. Sementara itu penguasa orde baru dengan kekuatan militeristiknya semakin kokoh melakukan konsolidasi kekuasaanya. Mahasiswa sebagai salah satu tumpuan harapan bangsa yang terdidik dalam nuansa inteletual kampus dan mempunyai potensi kritis dan diharapkan mampu berpikir obyektif intelektual hendaklah peka dalam merespon segala ketimpangan-ketimpangan yang terjadi pada masyarakat, serta menyikapi berbagai kebijakkan negara yang telah membuat berbagai kesenjangann yang terjadi. Tatanan demokratis harus ditegakkan dan diupayakan melalui transformasi sosial yang sinergis dengan wacana demokratisasi berkehidupan.
Dalam tujuan pendirian PPMI, dua tekanan yang hendak dicapai adalah :
Pertama, Mewujudkan cita-cita Proklamasi Kemerdekaan Indonesia seperti yang dimaksud dalam pembukaan UUD 1945.
Kedua, Membina daya upaya perhimpunan untuk turut mengarahkan pandangan umum di kalangan mahasiswa dengan berorientasi kemasyarakatan, dan bertanggungjawab kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pers Mahasiswa bukanlah sama dengan pers umum yang mencover berita-berita yang bersifat informatif saja, namun pers mahasiswa diharapkan mampu mengkaji permasalahan sosial yang diberitakan dengan analisis keilmuan dan kemasyarakatan secara kritis akademis serta obyektif. Pers Mahasiswa harus berani memberitakan fakta yang benar dan jujur kepada masyarakat dengan tidak meninggalkan kandungan nilai-nilai humanitas yang harus tetap dipegangnya. Beberapa pandangan dari para perintis PPMI menginginkan bahwa PPMI diharapkan mampu mendorong tercapainya pers mahasiswa yang simultan dengann fungsi mahasiswa (sebagai intelektual yang kritis, obyektif, terbuka dan etis. Kemudian untuk mensosialisasikan format gerakan dalam perhimpunan ini, PPMI dalam kinerjanya hendaknya terus menerus melakukan konsolidasi ke tiap-tiap penerbitan pers mahasiswa diberbagai daerah. Hal ini tentunya memerlukan waktu dan tenaga yang panjang dan merupakan tantangan yang tidak ringan untuk diselesaikan PPMI dalam waktu singkat dan membutuhkan partisipasi dari pegiat PPMI dalam mengupayakannya. [ii]
PPMI hari ini
Dengan semangat perubahan dan perbaikan menuju lebih baik, PPMI berusaha menata lagi dirinya. Berbenah dan mencoba memetakan lagi ruang gerak yang dulu pernah ditinggalkan. Bukannya tanpa kendala paska kongres PPMI IX Mataram, bahaya perpecahan dan hilangnya loyalitas LPM selaku fondasi PPMI terus menghantui. Kongres yang kemudian menghasilkan Fandy Ahmad dari LPME Ecpose Unej sebagai sekjend nasional dan Fajar Kelana ekspresi UNY jogja sebagai dewan etik nasional. Dengan tekad tulus dan komitmen yang ada PPMI kini berusaha meyakinkan LPM dan semua mahasisa tentang eksistensi dengan gerakan nyata.
Mengusung cita-cita jurnalisme kelokalan, PPMI kini memasifkan gerakan di daerah untuk menggambarkan fenomena nasional. Jurnalisme etnografi menjadi awal pergerakan baru PPMI. Kinerja yang tidak maksimal dari kepengurusan sebelum ini, hendaknya menjadi sebuah pembelajaran terhadap Sekjend yang baru terpilih. Kepengurusan PPMI nasional merupakan contoh kerja riil bagi LPM yang ada di daerah. Dengan solidnya kerja PPMI bersama seluruh elemennya, akan membawa PPMI ke level berikutnya.
Akhir kata, semoga pergerakan PPMI yang mandeg dan stagnan hanya menjadi sejarah. PPMI baru dengan semangat baru akan hadir sebagai alternatif baru bagi LPM seIndonesia untuk bangkit berontak melawan penindasan.
Tag: Sejarah, Persma, Tegalboto, ppmi, dhani
Terkait:
-
Kongres PPMI IX Mataram, dalam sebuah monolog.
Jumat, 9 Okt '09 16:09 -
Buruh migran Usaha panjang mendapat perlindungan
Senin, 5 Okt '09 23:05 -
Sebuah Bangsa yang (mungkin) Gegar Sejarah *
Sabtu, 22 Jan '11 18:24
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
FF Haq: Penting
-
Oo Zaki: Bagus
-
Wahyu Eko P: Perlu
-
Rizki: Penting
-
a_sha: Penting
-
kailila: Bagus
-
si berang-berang: Perlu
-
fath: Perlu
-
Kemuning: Penting
-
Defy Arbimapala: Penting
Komentar:
Siapa yang sudah didelegasikan oleh LPM untuk PPMI tidak menjalankan tugasnya sesuai amat LPM, sama saja mendustai amanat LPM-nya dan secara langsung menghambat berkembangnya PPMI.
Mari kita renungkan hal yang sederhana saja. Jangan memperumit masalah yang sudah ada.
Selama ini kami merasa belum pernah ada hubungan langsung dengan PPMI. Kami berniat untuk berpatisipasi dalam kegiatan PPMI. Adakah nomor kontak dari pengurus PPMI sehingga saya bisa menghubungi pihak PPMI lebih lanjut.
Terima Kasih.
Aisha Ayu Syahputri
Kepala Biro Humas
Badan Otonom Pers Suara Mahasiswa
Universitas Indonesia
email : aishaayu_syahputri@hotmail.com
web: sumaui.or.id
page facebook: Badan Otonom Pers Suara Mahasiswa (SUMA) UI
a_sha: Siap laksanakan komandan...
sumaui.or.id kok gak aktif ya..?
ppmi ini intern apa ekstern LPM ya??
saya PU / Pemred LPM Inovasi Unsrat Manado.
semenjak tahun 2004 kegiatan penerbitan kami tidak lagi berjalan, karena " pembreidelan " dari pimpinan universitas yang kurang senang digelitik tulisan " penunggu - penunggu " Inovasi kala itu,,,
tapi layaknya pembredelan tempo pada 1994 silam, Inovasi kini telah bangun dari tidur dan tak mau lagi terbuai oleh mimpi - mimpi indah, yang tak nyata...
salam persma
Silahkan login untuk memberikan pendapat