Mau Dibawa Kemana Arah Perjuangan Ini..? 15
Senin, 8 Feb '10 11:09
Situasi nasional (sitnas) yang kini memanas karena stabilitas politik yang terganggu akibat skandal bank century, serta isu-isu lain yang muncul namun masih berkaitan dengan kasus ini dampaknya terasa diseluruh wilayah di Indonesia. Hal ini mengganggu eksistensi kekuasaan rezim SBY, sebab keterangan-keterangan yang didapat masyarakat dari media dan sumber-sumber lain mensinyalir adanya kesalahan dalam proses pengucuran dana talangan (bail out) kepada Bank Century, sejak proses pengesahan, pencairan, hingga penyaluran dana. Seluruh elemen masyarakat kembali turun ke jalan untuk menyampaiakan tuntutan pengusutan kasus ini hingga tuntas, Keterlibatan pejabat dan orang dalam istanalah yang membuat situasi di seluruh Indonesia semakin bergejolak. Kekecewaan atas kegagalan pemerintahan SBY dalam meningkatkan kesejahterakan rakyat selama memerintah 5 tahun 100 hari lebih pun menjadi tututan agar Presiden SBY mundur. Fakta yang ada memang menunjukan pemerintah memang telah gagal, dalam pengentasan kemiskinan data temuan Pusat Penelitian ekonomi Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (P2E LIPI) menyebutkan, jumlah penduduk miskin Indonesia akan bertambah menjadi 32,7 juta jiwa di Indonesia pada 2010, dari sebelumnya 32,5 juta jiwa. Karena dengan pertumbuhan ekonomi berkisar 5% maka akan sulit terjadinya penyerapan tenaga kerja penuh, artinya, pejabat Menkokesra telah gagal menekan penambahan jumlah penduduk miskin. Ditambah lagi dengan disahkannya perjanjian perdagangan bebas FTA ASEAN-China yang akan mematikan industri-industri kecil karena tidak akan kuat bersaing dengan serbuan barang-barang dari china, penderitaan para pemilik industry kecil ini semakin bertambah ketika tarif dasar listrik kembali dinaikan pada januari 2010 yang membuat semakin membengkaknya ongkos produksi. Diperkirakan 7,5 juta orang akan menjadi pengangguran akibat perdagangan bebas ASEAN-China ini, karena akan banyaknya pemilik industri kecil yang akan gulung tikar. Pada sektor pendidikan, kebijakan pemerintah yang menyerahkan pendidikan pada mekanisme pasar (komersialisasi Pendidikan) membuat semakin sulitnya masyarakat kurang mampu untuk memperoleh pendidikan yang layak, sementara disektor Kesehatan, belum meratanya penerima program Jamkesmas semakin memberatkan beban hidup masyarakat. Perlawanan yang dilakukan oleh seluruh lapisan masyarakat diseluruh daerah semakin kuat akibat disatukan oleh munculnya kembali patron "musuh bersama" yang harus dilawan, khususnya pergerakan mahasiswa sebagai aktor intelektual. Aksi penolakan terhadap pemerintah yang dilakukan hampir merata diseluruh daerah di Indonesia, tentunya akan bermuara ke Jakarta, sebab di Jakarta lah Mahasiswa dan seluruh elemen masyarakat akan berbenturan langsung dengan pemerintah pusat. Namun tahukah, pergerakan mahasiswa di Jakarta kini berubah menjadi sebuah sosok yang eksklusif. Puluhan kampus di Jakarta dan daerah sekitar (Bogor, Depok, Tanggerang, Bekasi) kembali menggabungkan diri dalam sebuah aliansi besar, yang bertujuan menyatukan arah serta perjuangan. Namun yang ganjil dalam aliansi ini adalah, tidak terbukanya pintu masuk untuk bergabung kedalam aliansi ini bagi organisasi mahasiswa eksternal dan organisasi masyarakat atau gerakan gabungan mahasiswa-masyarakat, dengan kata lain mahasiswa hanya ingin berjuang sendiri. Ini sangat bertolak belakang dengan setiap slogan yang diteriakan yang selalu mengatasnamakan rakyat, dan yang paling terganggu oleh sikap ekslusif mahasiswa ibu kota adalah tentang perjuangan ini, yang ditakutkan adalah akan tenggelamnya kembali isu besar dan momentum strategis yang ada saat ini dan akan menjadi isu seperti yang sudah-sudah dimana tidak dicapainya hasil yang maksimal dan raib begitu saja, atau singkatnya perjuangan yang dilakukan akan sia-sia. "Mahasiswa tidak mau ditunggangi", inilah yang menjadi dasar pemikiran mahasiswa di Jakarta saat ini. Pemikiran tersebut tidaklah salah adanya, namun bukan alasan juga untuk menjadikan pergerakan mahasiswa menjadi sebuah pergerakan yang ekslusif, karena seharusnya pergerakan perjuangan mahasiswa bersifat egaliter. Cukup miris hati, melihat kelompok besar mahasiwa yang selalu memisahkan diri dalam setiap aksi, bukankah semua yang satu perjuangan itu seharusnya bersama-sama bergerak dan melawan..?. Semoga ini bukanlah pertanda bahwa mahasiswa di Jakarta telah semakin masuk kedalam perangkap yang sengaja dibuat penguasa, karena belakangan sempat terjebak kedalam politik pengalihan isu serta berhasil dijauhkan dari isu utama yang akan menyudutkan atau bahkan bisa menjatuhkan sang penguasa, dan semoga pergerakan mahasiswa-mahasiswa di daerah tetap berpikir kearah yang objektif dalam menyikapi sitnas saat ini sehingga dapat memberi pencerahan bagi pergerakan mahasiswa di Jakarta, karena perbaikan kesejahteraan rakyat tidak bisa ditunda lagi. Dan pemerintahan yang korup jelas tidak boleh ditoleransi.
Tag: nasional
Terkait:
-
ISPRIMA Indonesia Student Print Media Awards
Senin, 17 Jan '11 11:25 -
Pengumuman SNMPTN 2010, Mahasiswa Bertambah
Jumat, 16 Jul '10 19:57 -
Taman Nasional Meru Betiri - Jember
Rabu, 31 Mar '10 07:36
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
FF Haq: Penting
-
pemberontak pemalu LOPER: Responsif
-
Oo Zaki: Bagus
-
riwut purdianto: Responsif
-
kailila: Bagus
-
Wahyu Eko P: Perlu
-
Rizki: Bagus
-
arman dhani bustomi: Bagus
-
fildzah merah: Bagus

Komentar:
*Bukan media cetak ya....
terima kasih, saya warga baru di persma.. salam..
kangen sajak-sajak mas zaki..
Terlalu berlebihan lah. Tidak semua komun mahasiswa mau ditunggangi. Harus diakui itu memang ada, tapi masih banyak juga mahasiswa yang bergerak, bukan untuk dirinya sendiri. Kita bisa memastikan itu.
masalahnya ini bukan mau ato tidak mau, tapi selalu ada "tangan2 tidak terlihat" yg menggerakan pion2 hidup yang merancang suatu pergerakan. Ini tidak bisa dipungkiri.
Saya juga ga mau ditunggangi bung, soalnya saya juga bukan kuda ehhehehehe...
Kalopun saya kuda, saya ingin jadi kuda liar yang bebas berlarian diluar kandang dan jadi eksponen atas kebesaran alam.
rooma: saya tidak keberatan ditunggangi, asal kepentingan yang saya perjuangkan tidak terinfiltrasi. saya tidak keberatan jadi alat, asal tidak digunakan untuk menyiksa rakyat.
xixixixi
Silahkan login untuk memberikan pendapat