Mahasiswa Berangkat Kuliah 19
Senin, 8 Feb '10 03:45
Mahasiswa Berangkat Kuliah
"Oh ibu dan ayah selamat pagi
Ku pergi belajar sampai kau nanti,
Selamat belajar nak penuh semangat
Rajinlah selalu tentu kau dapat,
Hormati gurumu sayangi teman
Itulah tandanya kau murid budiman"
Suatu kali saya dan teman saya pernah iseng membahas soal lagu diatas. Kami tiba-tiba teringat tentang lagu-lagu yang kami sendiri tidak yakin darimana datangnya. Namun jelas sejauh yang kami mampu ingat, lagu-lagu tersebut diajarkan sewaktu kami masih sangat kecil.
Kawan saya mengatakan bahwa terkandung nilai-nilai keluhuran pada lagu seperti diatas, bagaimana seorang anak yang digambarkan penuh semangat menyambut harinya untuk berangkat menuntut ilmu dengan tujuan yang pasti, untuk mengejar cita-citanya sehingga hal tersebut menjadi motivasi yang kuat bagi dia untuk bersekolah, kemudian orang tua digambarkan sangat mendukung anaknya bahkan menyemangati dengan sangat tulus dan memberikan arahan-arahan bagi anak mereka sendiri supaya menjadi orang yang berbudi.
Saya katakan pada dia bahwa sayang hari ini kondisinya berbeda. Seorang pelajar dalam dunia pendidikan kita sekarang ini tidak lagi mampu untuk bercita-cita. Contohnya kita yang mahasiswa, apakah ketika memutuskan berkuliah kita sudah memilki ide besar soal tujuan dari berkuliah itu sendiri, selain bicara soal bekerja dan menerima upah? Bagaimana bila saya katakan bahwa terkadang orang tua pun salah paham soal menjadi seorang pelajar itu sendiri? Bahwa hari ini orang tua kita mengirim kita ke bangku kuliah supaya kita menjadi tenaga kerja yang siap pakai atau bisa dikatakan untuk menjadi buruh saja. Apakah hanya sebatas itu tujuan dari kita menjadi mahasiswa yang digadang-gadang sebagai kaum intelektual di pranata masyarakat kita? Lantas bagaimana mungkin kita berangan-angan dalam memperoleh gambaran kedepan soal tujuan dari kita menimba ilmu, bila kita sendiri tidak paham apa tujuan kita berkuliah itu? Bahkan bisa jadi kita tidak paham ketika kita melihat perilaku dari mahasiswa itu sendiri.
Yang lebih tragis adalah seorang anak dari desa datang ke kota untuk menuntut ilmu di perguruan tinggi dan menjadi mahasiswa, dimana dalam otaknya telah tergambar berbagai angan-angan tentang bagaimana ilmunya akan berguna sebagai sarjana pertanian untuk mengembangkan daerah asalnya, namun sayang mimpinya harus dibunuh karena kenyataan tidak sesuai dengan apa yang ada dalam benaknya, karena ternyata ia harus menerima kenyataan dan rela untuk bekerja di pabrik-pabrik atau korporasi-korporasi sesuai dengan apa yang ada saat ini dan lambat laun ia akan melupakan mimpinya untuk mengembangkan pertanian di daerahnya itu sendiri.
Kawan saya berkata bahwa ia miris melihat bagaimana hal-hal yang luhur menjadi omong kosong bila kita bawa ke dunia nyata. Akan tetapi menurut saya artinya bukan tidak bisa kita mengembalikan ruh lagu ini kembali pada keluhurannya.
Tag: Pendidikan, kampus, Mahasiswa, perguruan tinggi, kuliah, aktivis, dosen
Terkait:
-
Membongkar Kedok Kurikulum Kewirausahaan dan Kurikulum Komersil
Rabu, 12 Jan '11 08:56 -
Tuntutan Dipenuhi, Semua Mahasiswa Dapat Ikut Ujian
Rabu, 9 Jun '10 11:47 -
Semakin Tinggi Penghargaan Manusia Terhadap Kekayaan, Semakin Rendahlah Penghargaan Manusia Terhadap Kebenaran, Keadilan, Kesusilaan, dan Nilai-Nilai Kemanusiaan
Rabu, 12 Okt '11 02:08
Komentar:
Untungnya ayah dan bunda ku bukan orang yang seperti itu
Beruntungnya aku....
Bukan hanya menjadi miris tapi menjadi jijik saat orang dari desa disekolahkan hingga menjual harta dan tanah namun disana mereka suka cita dengan gemerlap kota yang tidak mereka dapatkan di desa.
Terkadang bagi masyarakat desa kota adalah tempat menempuh ilmu. Seperti bait lagu diatas tidak ada satu-pun kata yang menggambarkan anggan-anggan akan masa depan hanya "Selamat belajar nak penuh semangat Rajinlah selalu tentu kau dapat"
Bukan masa depan tapi ilmu yang dicari. Itu menurutku yang salah....
*Maap agak ngawur nih......
ini sebetulnya tulisan yg pernah saya buat ketika membawakan materi di acara pelatihan mahasiswa baru fakultas teknik universitas surabaya.
yg mau saya coba lakukan sebetulnya adalah mengaitkan antara lagu diatas dengan realita "mahasiswa jaman sekarang" versi saya, dimn mahasiswa/ pelajar itu tidak ada yang semangatnya seperti si anak pada lagu diatas.
Bila ditanya mengapa kuliah? kebanyakan menjawab hanya untuk meneruskan jenjang pendidikan. Mengutip seorang teman saya " habis SMA ya kuliah" begitu katanya. Banyak dari mahasiswa yang saya kenal berkuliah karena mereka mampu bukan karena mereka ingin.
"Mengapa kuliah?"
jawaban mereka adalah karena mereka mampu.
Itulah yang berat untuk dirubah......
Karena sekarang sedikit banyak orang menganggap harga diri mereka tergantung seberapa banyak gelar yang mereka miliki......
Huff.......
Pertanyaan saya apakah ada alternatif lain selain kuliah, les, dan bekerja? Seperti berleha-leha, ngopi sampai pegel, atau internetan sampe micek.......
Kita sebenarnya kaya mesin ya..... Udah disetting sedemikian rupa dan bergerak sesuai kordinatnya....
*Jadi inget kuliah waktu ngomong robot.. Acem
Lebih baik Dialektika bingung aja......
Rizki: dialektika nihilisme apa ya bung? saya bkn ank filsafat nih.
@Rizki: Nihilisme itu brati pemalas dunk????
mnrt saya anda tidak akan dianggap aneh kalo anehnya berjamaah, mksdnya supaya tdk dianggap org lain aneh kita harus membagi keresahan ini dengan orang banyak jadi kita tidak aneh seorang diri.
Rizki: owh, itu sih simpel bung. pertanyaan saya apakah anda tidak mandi kalo akhirnya kotor lagi?
I Lope u poll dah......
tapi apakah terus artinya yang kita lakuin jadi sia2 hidup beradab seperti ini?
Pemberontak: Jangan pikir telalu dalam semua sudah pada tempatnya dan waktunya
Silahkan login untuk memberikan pendapat