KRD Surabaya, kereta api yang layak untuk masyarakat? 16
Minggu, 31 Jan '10 21:17
Matahari yang menyengat, mengaburkan pandangan ku, setelah turun dari angkot. Pukul 09.20 WIB tadi pagi 31 Januari 2010, di stasiun kereta api Pasar Turi. Dengan bergegas kularikan kaki yang agak terseok-seok karena tersandung rel kereta yang kulewati dari arah PGS (Pasar Grosir Surabaya). Penumpang yang penuh dan berjejer diantrian loket menuju Lamongan-Bojonegoro. Kurogoh saku ku, dan kuambil dua ribu perak. Segera mungkin aku berlari ke gerbong nomor empat agar mendapat tempat duduk yang memungkinkan.
Suasana kereta api tadi pagi, sedikit mengusik memori ku. Dengan eluhan gadis remaja yang duduk didepanku. “nggak nyaman mbak” tutur anak SMA kelas 1 yang bernama Wulan. Di sampingku ada penjual yang sedang bertengkar dengan penumpang yang keletihan membawa barang bawaannya. Kondisi yang panas dan penuh dengan sumpalan penumpang. “dikongkon minggir gak iso” tutur penjual asongan yang sarat dengan dagangannya sambil berjalan memecah penumpang. “bapak seng gak ngerti. Masak penumpang disuruh ngalah, wong kita yang bayar” tutur penumpang yang agak emosi. Aku hanya mendengarkan pertengkaran mereka dengan meringis. Sedangkan, tidak jauh dari tempat dudukku ada pasangan mesra yang asyik ngobrol dan ketawa-ketiwi tanpa menghiraukan keadaan di sekeliling mereka. “Kamu mau kemana Lan?” tanyaku “mau pulang ke Bojonegoro mbak, soalnya besok uda mulai masuk sekolah. Aku di Surabaya Cuma liburan aja sama bapak ma adik ku”. Aku menoleh ke sebelah kanan ku, sosok lelaki yang berdiri dengan tetesan keringat, sedikit membuatku risih. “nggak nyaman mbak, sumpek, gak ada tempat duduk yang layak. Padahal kita kan juga bayar karcis, seharusnya pemerintah memberi kemudahan dan sedikit kenyamanan untuk kita mbak” tutur Wulan yang memulai percakapannya lagi. “mungkin ini memang hari-hari libur, sehingga penumpang menjubel mbak” tutur lelaki yang duduk di sebelah kiriku. “Setuju mbak, pemerintah harus memberikan fasilitas kereta api yang bisa membuat penumpang nyaman. Tidak seperti ini. Bahkan penjual asongan pun kadang menggangu jalan keluar-masuk dari kereta api.”
Aku hanya manggut-manggut saja mendengarkan percakapan mereka dan sedikit ku tulis di buku kecilku. Tak dapat dipungkiri, hari minngu ini memang banyak penumpang yang mudik ke kampung mereka , bahkan ketika sampai di Stasiun Benowo Surabaya Barat, kereta api KRD tidak mampu berhenti karena kelebihan muatan. Lalu bangaimana dengan kebijakan pemerintah hingga saat ini?
Tag: Reportase
Siapa saja yang merating artikel ini:
-
Oo Zaki: Penting
-
FF Haq: Penting
-
Fandy Lasinrang: Perlu
-
Como Bacomboy: Bagus
-
Rizki: Penting
-
fath: Bagus

Komentar:
KArena pemerintah kalau dijalan raya selalu lancar (karena dikawal dan gak pernah tertib lalu lintas) jadi ngak pernah bisa merasakan penderitaan rakyatnya.......
*I hate you
hohoho...: D
what?????
gag salah maz Hak?
bisa bengkak kaki q...
Silahkan login untuk memberikan pendapat